Mohon tunggu...
Wiwin Zein
Wiwin Zein Mohon Tunggu... Wisdom Lover

Tinggal di Cianjur

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

Memahami Dimensi Eksoteris dan Dimensi Esoteris Ibadah Puasa

18 April 2021   09:07 Diperbarui: 18 April 2021   09:15 652 46 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memahami Dimensi Eksoteris dan Dimensi Esoteris Ibadah Puasa
Sumber : pixabay.com

Ibadah puasa merupakan salah satu syariat Islam yang wajib dijalankan oleh setiap umatnya yang memenuhi kriteria tertentu. Seperti telah mencapai usia baligh (dewasa), berakal, sehat jasmani dan rohani, dan lain-lain. 

Ibadah puasa sering didefinisikan sebagai ibadah yang bersifat fisik/lahiriyah. Hal itu tidaklah salah, tapi kurang tepat.

Dalam Islam, ibadah puasa dan juga ibadah-ibadah lainnya tidak hanya bersifat fisik/ lahiriyah tapi juga bersifat non-fisik/bathiniyah. Dalam istilah lain, ibadah puasa dan juga ibadah-ibadah lainnya dalam Islam tidak hanya mengandung dimensi eksoteris (lahiriyah) tapi juga mengandung dimensi esoteris (bathiniyah).

Dimensi eksoteris (lahiriyah) adalah dimensi yang berkaitan dengan aspek fiqh. Sedangkan dimensi esoteris (bathiniyah).adalah dimensi yang berkaitan dengan aspek tasawuf.

Dalam menjalankan ibadah puasa, umat Islam pada umumnya terlalu fokus kepada dimensi eksoteris. Sementara itu dimensi esoteris kurang mendapat perhatian yang  cukup serius.

Banyak umat Islam yang menjalankan ibadah puasa sangat memperhatikan dimensi eksoteris dengan senantiasa menjaga puasa dari hal-hal yang membatalkannya. Akan tetapi mereka cenderung mengabaikan dimensi esoteris. Buktinya mereka kurang menjaga ibadah puasa dari hal-hal yang membatalkan pahalanya.

Ada dua hal yang harus digarisbawahi di sini. Pertama, "hal-hal yang membatalkan puasa" dan kedua, "hal-hal yang membatalkan pahala puasa".

"Hal-hal yang membatalkan puasa" adalah berkaitan dengan dimensi eksoteris.  Sementara "hal-hal yang membatalkan pahala puasa" berkaitan dengan dimensi esoteris.

Mereka yang menjalankan ibadah puasa dengan senantiasa menjaga puasa dari "hal-hal yang membatalkannya", tapi mengabaikan "hal-hal yang membatalkan pahalanya" dari aspek fiqh adalah sah. Akan tetapi dari aspek tasawuf batal. Makna batal di sini adalah mereka tidak mendapat pahala dari ibadah puasa yang dijalankannya.

Mereka yang seperti itu adalah mereka yang mampu menahan diri atau mengendalikan diri dari makan atau minum dan hal-hal lain  yang membatalkan puasa. Namun mereka tidak mampu menahan diri atau mengendalikan diri dari melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan makna puasa itu  sendiri.

Mereka berpuasa, tapi mereka tidak bisa menahan amarah. Mereka berpuasa, tapi mereka tidak bisa menahan diri dari menggunjing dan memfitnah orang. Mereka berpuasa, tapi mereka tidak bisa berhenti menyakiti orang. Dan lain-lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x