Kotak Suara

Pelajaran Penting dari KH Hasyim Muzadi di Pilkada DKI

17 Maret 2017   07:28 Diperbarui: 17 Maret 2017   07:54 153 1 1
Pelajaran Penting dari KH Hasyim Muzadi di Pilkada DKI
Hasyim Muzadi - https://news.beritaislamterbaru.org

“Walisongo mengislamkan orang. Wali celana cingkrang mengkafirkan orang Islam.” Pernyataan tersebut adalah kelakar yang disampaikan oleh almarhum mantan ketua Umum Pengurus Besar, Nadhlatul Ulama, KH Hasyim Muzadi, dalam kuliah umum di Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur, Mei 2015.

Belakangan, ketika Hasyim diketahui meninggal dunia pada 16 Maret 2017 lalu, kelakar ini muncul kembali di media sosial. Sebagian besar merupakan semacam obituari bernada simpatik untuk penerus KH Abdurrahman Wahid ini.

Rasa-rasanya tak ada yang marah dengan pernyataan tersebut karena Hasyim menyatakannya dalam karakternya yang humoris. Namun, dalam humor itu, sebuah “pukulan hebat” mencapai sasarannya jika kita berkaca pada apa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir sehubungan dengan Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017.

Wacana Surah Al Maidah Ayat 51 dan sosok yang di-blasphemy-kannya, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama, adalah medan yang tepat untuk mengingat kembali humor yang disampaikan Hasyim. Sepanas-panasnya situasi pada periode pra putaran pertama Pilkada DKI Jakarta 2017, 15 Februari silam, sulit untuk “berang” dengan “sindiran” yang disampaikan Hasyim.

Bagi kita yang cenderung awam soal agama, atau beragama dalam batas yang belum sampai membuat orang memanggil kita dengan gelar “kiai” sebagaimana orang mengimbau KH Hasyim Muzadi, maka sikap tokoh NU ini adalah “sampel” yang tidak akan habis-habisnya membuat kita bangga dengan posisi Indonesia sebagai negara Islam dengan mayoritas terbesar di dunia.

Apakah dengan sikap Hasyim lantas NU mendukung Ahok ketimbang pesaing sang petahana yang notabene beragama Islam, Anies Baswedan? Belum tentu. Dan dalam demokrasi, persoalan itu adalah soal privat yang hanya bisa diputuskan dalam kerahasiaan di bilik suara pada hari pemilihan.

Humor Hasyim sebenarnya tegas. Dia bahkan menunjuk “kelompok” orang dengan ciri “celana cingkrang.” Dalam bahasa lain kelompok ini diistilahkan dengan “wali jenggot.” Pada dasarnya, sikap Islam yang ditunjukkan Hasyim lebih terus-terang. Bahwa dia tidak sepakat dengan kelompok yang menyebut warga non-Muslim dengan ungkapan “kafir.” Sang kiai, patron NU, sekaligus bekas anggota Dewan Pertimbangan Presiden 2017 menunjukkan penentangannya terhadap Islam yang menyebut “kafir” umat agama lain.

Dalam konteks Pilkada DKI Jakarta 2017, Ahok adalah sosok yang berada pada posisi “dikafirkan” itu. Semua bisa terjadi karena Ahok adalah kandidat Pilkada DKI Jakarta, non muslim, dan keturunan etnis China. Dengan kata lain, politiklah yang memungkinkan wacana “kafir” nan kontroversial ini. Dan apa yang dilakukan Hasyim juga memiliki implikasi politik. Sebagai tokoh NU, ada ribuan umat yang akan mendengarkan pernyataannya. Dan, sikap yang ditunjukkannya memberi perasaan “percaya diri” kepada warga negara Indonesia lainnya yang tidak ingin radikalisme atas nama agama meruyak di negeri ini.