Mohon tunggu...
wiwik kurniaty
wiwik kurniaty Mohon Tunggu... mahasiswa

mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Membumikan Toleransi di Antara Kita

26 Desember 2019   12:52 Diperbarui: 26 Desember 2019   12:58 14 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membumikan Toleransi di Antara Kita
tulungagungtimes.com

Masa masa menjelang hari raya Natal dan hari H Natal adalah masa yang cukup rawan. Bukan soal transportasi, atau logistik atau hal lain. Yang membuat rawan adalah mulainya pro kontra diantara masyarakat soal boleh atau tidaknya seorang muslim mengucapkan natal ke orang penganut kristiani.

Sering kita jumpai silaturahmi dilakukan oleh satu orang kepada orang lain atau kelompok lain di grup komunikasi dalam hal ini grup wa. Cara ini memang efektif karena seringkali terpisahkan oleh jarak yang mungkintak bisa dijangkau untuk ketemua.ย 

Contohnya sekumpulan orang yang merupakan lulusan SMA di sebuah daerah terpencil, 20 tahun kemudian, mungkin mereka berada di banyak wilayah di Indonesia bahkan luar negeri. Sehingga menyapa atau mempertemukan mereka di sebuah grup komunikasi itu hakekatnya adalah silaturahmi itu sendiri. Banyak sekali grup seperti itu dibuat untuk mempererat silaturahmi.

Nah pada saat saat Idul fitri, atau natal atau nyepi maupun waisak adalah moment dimana orang digrup tersbut saling memberi salam. Jika Idul Fitri mungkin tak masalah karena mayoritas masyakarat Indonesia merayakan Idul Fitri, tapi tidak dengan hari Natal dimana dirayakan oleh umat Kristiani sebagai minoritas.

Nah kontroversi akan terlihat di sini di mana beberapa pihak menyitir ayat alkitab lalu dengan intrepretasi yang berbeda-beda. Yang parah adalah menyitir tapi dengan komen yang berbau intoleran. Kita beri contoh misalnya pernyataan MUI Jatim yang menyodorkan bahwa mengucapkan selamat natal kepada umat kristiani oleh umat muslim adalah haram kecuali wapres. Hal-hal seperti ini akan membingungkan umat itu sendiri.

Dan pertentangan pendapat itu bisa saja terwujud di grup-grup WA seperti grup sma tadi. Mereka mengambil ayat dan bsia saja dipelintir atau mengambil kutipan MUI untuk dipertentangkan. Hal ini dapat membuat situasi tidak nyaman dan tidak kondusif sebagai teman lama, karena kaum kristiani ada di grup itu.

Dalam beberapa situasi seperti itu mungkin kita harus bijaksana menilai. Secara akidah mungkin kita tidak percaya pada ajarannya, tapi secara sosial kita bersama dengan orang lain sehingga kita juga harus memikirkan perasaan orang lain karena perbedaannya itu. Itulah toleransi.

Kita juga harus ingat bahwa toleransi hakekatnya yang menyatukan bangsa kita. Kita harus sadar bahwa bangsa kita terbentuk dengan keadaan berbeda sehingga perbedaan adalah takdir kita sebagai bangsa. Perbedaan bukan sesuatu yang aneh dan jauh dari kita. Ia ada di dekat kita juga dan kita harus menghargai perbedaan kita itu.

VIDEO PILIHAN