Wiwien Wintarto
Wiwien Wintarto Penulis

Penulis, sejauh ini telah menerbitkan 29 judul buku, 17 di antaranya adalah novel, terutama di PT Gramedia Pustaka Utama. Yang terbaru adalah novel Elang Menoreh: Perjalanan Purwa Kala (terbit 1 November 2018) terbitan Metamind, imprint fiksi dewasa PT Tiga Serangkai.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Star Wars Rogue One, Hadirkan Tokoh tanpa Gunakan Pemeran

24 Desember 2016   12:51 Diperbarui: 24 Desember 2016   16:20 455 5 0
Star Wars Rogue One, Hadirkan Tokoh tanpa Gunakan Pemeran
Tokoh Jyn dalam film Star Wars Rogue One. Nerdist.

Pernahkah Anda bepergian ke suatu arah untuk suatu keperluan, dan ujung-ujungnya, setelah berputar-putar kian-kemari seharian mengerjakan hal-hal terkait kepentingan itu, Anda ternyata sampai ke rumah teman lama yang sudah lama tak Anda jumpai? Fenomena semacam itulah yang terjadi pada saya begitu film Rogue One (atau judul resminya Rogue One: A Star Wars Story) mencapai bagian ending.

Film ini memang menghadirkan cerita lain yang tersendiri (standalone) di dalam cerita serial Star Wars yang legendaris itu, namun ternyata nyambung dengan alur utamanya, terutama ke film pelopornya, Star Wars: Episode IV – A New Hope (1977). Dan efek ini hanya bakalan bisa dirasakan oleh mereka-mereka yang secara komplet mengikuti keseluruhan ceritanya. Bagi yang belum, Rogue One ya hanya sekadar acara tembak-menembak sinar laser selama 1 jam 13 menit.

Tokoh utama film ini adalah Jyn Erso (Felicity Jones), putri dari Galen Erso (Mads Mikkelsen), ilmuwan perancang senjata penghancur planet milik Kekaisaran Galaksi, Death Star. Saat masih kecil, Jyn berhasil melarikan diri dari kejaran Orson Krennic (Ben Mendelsohn), Direktur Riset Persenjataan Canggih Kekaisaran yang datang untuk menangkap Galen.

Merasa bersalah karena ciptaannya adalah senjata pemusnah massal (semacam bom atom gitu, kalau di dunia sini), Galen melarikan diri ke planet Lah’mu agar tak lagi bekerja untuk Kekaisaran yang jahat. Untuk itulah Krennic mengejarnya, karena Galen harus menyelesaikan pembangunan Death Star. Dalam konflik di Lah’mu, Galen tertangkap dan dibawa kembali ke Kekaisaran. Lyra (Valene Kane), istri Galen, tewas. Sedang Jyn diselamatkan tokoh pemberontak bernama Saw Gerrera (Forest Whitaker).

Lima belas tahun kemudian, Jyn yang ditahan Kekaisaran dibebaskan oleh tentara Aliansi Pemberontak. Ia dimintai bantuan untuk membawa petugas intel Aliansi, Kapten Cassian Andor (Diego Luna), menemui Saw di markasnya bulan Jedha untuk mencari keterangan dari seorang pilot Kekaisaran pembelot yang ditahan Saw. Bodhi Rook (Riz Ahmed), pilot itu, diduga membawa pesan dari Galen soal Death Star yang sudah bisa difungsikan.

Jyn terpaksa mau, karena misi itu memberinya kesempatan untuk bertemu lagi dengan ayahnya. Di luar sepengetahuannya, penugasan Cassian sebenarnya adalah untuk langsung membunuh Galen andai ketemu, dan bukan sekadar mengambil informasi. Namun situasi berubah sesudah Jyn akhirnya berhasil membaca pesan hologram dari Galen yang dibawa oleh Bodhi.

Ia, Cassian, robot K-2SO, Bodhi, dan dua petarung yang ia kenal di Jedha, yaitu pendekar buta Chirrut Imwe (Donnie Yen) serta Baze Malbus (Jiang Wen), kemudian terlibat dalam misi berani mati untuk mencuri denah Death Star yang tersimpan di perpustakaan Kekaisaran di planet Scarif. Pertempuran seru baik di darat, udara, maupun luar angkasa orbit planet kemudian meletus di tempat itu.

Rogue One menghadirkan cerita dengan rute beda dari alur utama Star Wars sejak episode pertama (Phantom Menace tahun 2001) hingga episode terbaru (The Force Awakens tahun 2015). Kaitannya berada pada senjata pemusnah Death Star itu, yang kali pertama kita lihat di A New Hope. Ini merupakan bagian pertama dari seri antologi Star Wars (Star Wars Story) yang juga akan menghadirkan film tersendiri tentang Han Solo serta Boba Fett.

Menyaksikan film ini tanpa bekal pengetahuan yang memadai tentang dunia Star Wars akan menimbulkan efek serupa seperti jika anak-anak kekinian menertawakan para ordew (orang dewasa) yang tak mudeng saat ujug-ujug nonton Harry Potter and the Order of the Phoenix tanpa nonton judul-judul Harpot sebelumnya. Jika tak sempat mengonsumsi semuanya (karena total ada tujuh film), cukuplah membaca sinopsis-sinipsisnya terlebih dulu. Itu cukup membantu.

Bahkan saya pun, yang sudah ngelotot Star Wars sejak zaman masih SD, masih harus bekerja keras mengingat tokoh-tokoh di Rogue One dan keterkaitannya dengan cerita alur utama. Salah satunya adalah tokoh yang dimainkan Jimmy Smits, yang terlihat bersama para pemimpin Aliansi di banyak adegan. Baru menjelang keberangkatan Jyn dkk. ke Scarif, saya ingat kembali dia tak lain adalah Senator Bail Organa, ayah tiri dari Princess Leia.

Berkaitan dengan tokoh-tokoh, hal pertama yang saya rasakan sejak pembukaan dikenalkan pada Jyn adalah bahwa mereka—entah kenapa—tidak menimbulkan perasaan kedekatan dan ketertarikan. Felicity Jones tak semenarik Daisy Ridley sebagai Rey di The Force Awakens, Carrie Fisher di A New Hope dan dua sekuel sesudahnya, atau bahkan Natalie Portman di trilogi prekuel. Tokoh cowoknya pun setali tiga uang. Saya seperti tak berkepentingan dengan nasib mereka.

Namun ternyata itu kemudian sesuai dengan ending-nya, yang tentu tak sopan bila saya ceritakan dalam kesempatan ini. Yang jelas, pada bagian akhir, terutama bagi para fans Star Wars, kepedulian utama justru berada pada bagaimana nasib Death Star, dan bukan tokoh-tokoh utamanya. Death Star akan dihancurkan, karena kelemahannya sudah ketemu, namun nyatanya, benda raksasa itu masih ada di trilogi A New Hope, The Empire Strikes Back, dan Return of the Jedi.

Suguhan paling menarik jelas datang dari sekuen-sekuen eksyennya, terutama pertempuran luar angkasanya, yang tak terlalu banyak kita dapatkan di The Force Awakens. Juga adegan penghancuran planet oleh Death Star, baik yang terjadi di Jedha maupun di Scarif. Apalagi jika disaksikan di teater yang ber-sound system canggih dan kursinya bisa dibikin bergetar, kita pasti batal ngantuk.

Dan ada terobosan terbaru dunia perfilman yang bisa kita nikmati di Rogue One, yaitu kehadiran tokoh-tokoh yang pemerannya tidak ada. Mereka adalah karakter Gubernur Tarkin dan Princess Leia, tokoh-tokoh pakem dari trilogi awal (A New Hope hingga Return of the Jedi). Tarkin muncul sebagai atasan dari Kekaisaran yang sibuk memarahi Krennic soal Death Star, dan Leia hadir di scene terakhir yang mengagumkan.

Pemeran Tarkin, yaitu Peter Cushing, tak mungkin available karena aktor legendaris itu telah meninggal tahun 1994. Carrie Fisher juga impossible, karena tahun ini ia sudah berusia 60 tahun (bahkan tempo hari terkena serangan jantung), sedang yang muncul di Rogue One adalah Leia saat masih umur 20-an.

Maka sutradara Gareth Edwards pun menggunakan pemeran pengganti, yaitu Guy Henry untuk Tarkin dan Inglivid Deila untuk Leia. Baru kemudian wajah mereka diganti secara digital dengan wajah Peter Cushing dan Carrie Fisher muda setelah mendapat izin dari kerabat (estate) masing-masing. Teknik ini juga dipakai di Captain America: Civil War sewaktu wajah Robert Downey, Jr. bisa dibikin seperti waktu ia masih main di Weird Science tahun 1985.

Kalau diibaratkan acara pergi-pergi, Rogue One mirip seharian berkelana ke kafe, resto, dan mal terbagus di Jakarta. Semua menghadirkan pengalaman yang seru dan menyenangkan. Namun sajian terbaiknya justru pada bagian akhir, yang menuntun kita ke—itu tadi—rumah sederhana seorang kawan lama yang telah lama tak bertemu.

Tepat pada bagian penutup, setelah Darth Vader gagal menjalankan misinya, para fans Star Wars bakalan langsung bersorak begitu nemu keterkaitannya secara langsung dengan A New Hope yang dirilis 39 tahun yang lalu. Sedang yang bukan pasti juga serupa dengan warga yang tak mengerti makna dan sejarah dibalik keriuhan “Om telolet Om” yang fenomenal itu. Clueless.