Mohon tunggu...
Wistari Gusti Ayu
Wistari Gusti Ayu Mohon Tunggu... Saya seorang guru

Guru adalah profesi yang mulia, saya bangga menjadi guru

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

"Terdampar" di Kompasiana, dari Hobi Menulis Menjadi Belajar Menulis

19 Juli 2019   09:04 Diperbarui: 20 Juli 2019   11:04 0 13 7 Mohon Tunggu...
"Terdampar" di Kompasiana, dari Hobi Menulis Menjadi Belajar Menulis
Sumber : pixabay

Malam itu tanggal 21 Mei 2019, saya baru saja menjalani tindakan kuretase, karena janin dalam kandungan tidak berkembang sama sekali atau istilah kedokterannya Blighted Ovum (BO). Sebagai seorang wanita hati siapa yang tak hancur. Hati hancur, badan pun harus menahan sakit bekas kuret.

Malam itu saya tidak tidur. Di sebelah saya, suami sudah terlelap karena kelelahan. Saya lirik dia, benar-benar tidur pulas. Bagaimana tidak, sudah dua bulan dia setia mengantar kontrol ke dokter untuk memastikan kehamilan yang ketiga ini berkembang atau tidak, sampai akhirnya hari itu divonis BO.

Saat mengetahui saya BO, dengan raut muka yang sedih dan mungkin rasa bercampur aduk dia meninggalkan saya sendiri di ruangan VK. Suster mengisyaratkan dia harus menunggu di luar.

Anak saya, yang bergandengan tangan dengannya menatap muka saya, mungkin di usianya yang masih kecil belum tahu tindakan apa yang akan dilakukan dokter. Yang saya lihat, dia merasa ketakutan yang mendalam melihat infus terpasang di tangan saya.

Selama sebulan penuh setiap malam saya memegang smartphone hanya untuk mencari informasi tentang kehamilan kosong. Rasa belum puas selalu menghantui tiap malam, walaupun dokter sudah memberi penjelasan. Tiba-tiba suatu malam saya menemukan sebuah artikel mengenai seorang ibu yang mengalami hal yang sama.

Kompasiana mempertemukan saya dengan sebuah artikel berjudul "Mengenal Kehamilan Kosong atau Bligted Ovum", ditulis oleh Ririn Sukmarini yang dibaca sekitar 42 ribu orang. Kehamilan yang terjadi sama seperti saya, tapi setelah penulis mencari second opinion, terlihat ada janin dalam kandungannya. Saya berharap hal yang sama, namun hal itu tak terjadi.

Di halaman Kompasiana terlihat menu "nulis". Saya pikir mungkin saja saya bisa menulis pengalaman pribadi sama seperti ibu tadi. Mungkin berguna bagi banyak orang yang mengalami hal yang sama seperti saya. Saya memberanikan diri mengklik menu nulis tadi. Saya kira, bisa langsung nulis, ternyata perlu pendaftaran dulu. Ok, saya pikir kalau memang harus punya akun, saya akan membuatnya.

Setelah memiliki akun, saya kemudian menuliskan pengalaman tersebut, dari awal sampai akhir. Awalnya saya ragu, tulisan saya tidak bagus, malu jika sampai orang-orang membacanya. Terlebih lagi, ketika melihat tulisan-tulisan lain di Kompasiana. Melihat akun lain, ada yang menulis hingga ratusan, ribuan artikel dan dibaca jutaan orang. Benar-benar minder.

Sampai larut malam belum juga saya "klik" menu tayang, rasa deg-degan melebihi deg-degan saat mengirim naskah siswa yang saya bina dalam Kelompok Ilmiah Remaja di sekolah untuk mengikuti kompetisi. 

Jika dalam lomba tersebut nama siswa yang muncul sebagai pemeran utama, dan pembimbing sebagai figuran, nah di Kompasiana ini sayalah pemeran utamanya, walaupun istilahnya agak lebay ya.

Saat itu artikel pertama saya tayang, tapi belum mengerti apa itu artikel pilihan dan artikel utama. Tiba-tiba artikel pertama saya menjadi artikel utama. Senang sekali saat itu bisa berbagi informasi walaupun dalam hati saya masih dirundung duka mendalam karena janin saya tidak berkembang dan akhirnya dikuret.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN