Mohon tunggu...
Raden Muhammad Wisnu Permana
Raden Muhammad Wisnu Permana Mohon Tunggu... Akun resmi Raden Muhammad Wisnu Permana

Akun resmi Raden Muhammad Wisnu Permana

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Bagi Saya, Hampers adalah Simbol Status Sosial Seseorang

26 Mei 2021   13:29 Diperbarui: 26 Mei 2021   13:45 118 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bagi Saya, Hampers adalah Simbol Status Sosial Seseorang
Ilustrasi HampersSumber foto : Akun Instagram @buttera.id

Saya amati, sejak pandemi Covid-19 tahun 2020, ada sebuah budaya tersendiri dalam kehidupan kita, yakni saling kirim hampers atau bingkisan yang isinya makanan dan minuman sebagai bentuk simbiosis mutalisme, mendukung satu sama lain, saling menyemangati dalam menghadapi pandemi Covid-19. Karena tidak bisa bertemu langsung, jadi mereka saling kirim hampers yang dikirim menggunakan ojek online maupun kurir ekspedisi jika berada di luar kota.

Mendekati Hari Raya Idul Fitri, Natal, dan tahun baru, saling kirim hampers ini semakin masif dilakukan, setidaknya dari yang saya amati melalui media sosial teman-teman saya yang saya follow di media sosial. Ini adalah kegiatan yang sangat bagus menurut saya, dan harus dilestarikan sebagai budaya bangsa, atau budaya manusia secara universal lainnya untuk menumbuhkan rasa cinta dan rasa kekeluargaan yang telah pudar dalam kehidupan umat manusia.

Saya pikir, saling kirim hampers ini hanya terjadi di lingkaran pergaulan dan lingkaran sosial tertentu saja, seperti yang  bekerja di kawasan perkantoran Sudirman, Jakarta. Pada lingkar sosial terdekat saya, saling kirim hampers tidak terjadi sama sekali.

Mengapa? Saya lihat, untuk saling kirim hampers, orang-orang harus menyiapkan modal yang tidak sedikit. Hampers yang dihias dengan cantik, yang isinya makanan, minuman, ataupun barang-barang lainnya itu dapat dibeli dengan biaya yang tidak sedikit, setidaknya menurut saya. Bagi yang sudah kerja kantoran, atau memiliki usaha lainnya yang berpenghasilan stabil, saling kirim hampers pada beberapa kolega dan teman terdekatnya bukan masalah besar. Malah bisa dihitung sebagai bentuk investasi masa depan. Harapannya, kerjasama bisnis bisa terus terjaga, dan teman-teman terdekat yang kita kirimi hampers kelak bisa membantu kita suatu saat nanti.

Saya pun melihat, ibu saya dan beberapa kolega serta sanak saudara pun saling kirim hampers, meskipun dalam bentuk sederhana saja karena tidak dihias dengan cantik seperti yang ditampilkan para selebgram dan influencer di media sosial mereka. Isinya kurang lebih sama saja, seperti aneka kue basah dan kue kering dengan kartu ucapan yang indah.

Saya lihat, semakin tinggi status sosial seseorang, hampers yang diterima akan semakin banyak dan semakin mewah. Mohon maaf, saya tidak melihat orang yang belum memiliki penghasilan stabil maupun tidak terkoneksi dengan kalangan atas yang menerima hampers yang ciamik. Biasanya yang saling kirim hampers itu adalah PNS yang memiliki kedudukan tinggi, bos BUMN dengan jabatan tertentu, pengusaha, atau kalangan selebriti.

Sebelum adanya media sosial, saya melihat para pejabat kementerian dan pejabat BUMN sering menerima parsel atau hampers yang isinya makanan dan minuman yang dihias sedemikian rupa. Malah kadang-kadang ada yang isinya handphone. Ya, handphone, waktu SMA teman saya yang ayahnya bos salah satu BUMN mendapat parsel yang isinya satu dus handphone yang dicampur dengan sejumlah makanan dan minuman lainnya. Tidak main-main, isinya Nokia 6120 classic yang harganya 2 jutaan waktu itu. Tapi tenang, ini terjadi sebelum adanya larangan saling kirim parsel untuk PNS dan pejabat BUMN kok, karena dikhawatirkan sebagai bentuk gratifikasi.

Di tahun 2021, sepupu saya yang merupakan dokter di salah satu rumah sakit di Jakarta Selatan pun kebanjiran hampers hampir setiap hari. Demikian juga teman masa kecil saya yang saat ini menjadi pengacara sibuk di ibukota. Sebagai ucapan terimakasih, mereka sering mengunggah Instagram Story di akun pribadinya dengan mention produk dan nama teman yang mengirimkan hampers tersebut layaknya selebgram dan influencer lainnya di media sosial.

Inilah alasan kenapa saya menobatkan bahwa hampers adalah simbol status sosial seseorang. Rakyat jelata seperti saya yang bukan pejabat kementrian, bukan pejabat BUMN, atau bukan orang dengan keahlian tertentu seperti dokter dan pengacara yang kerap kali berinteraksi dengan kalangan atas, biasanya tidak menerima hampers. Setidaknya, tidak menerima dalam kuantitas yang banyak. Kualitasnya pun biasa saja, setidaknya dari isi hampers dan pernak-pernik yang menghiasnya.

Kkebanyakan kalangan yang saya sebutkan ini banyak yang justru memberikan makanan dan minuman dalam hampersnya ke orang lain seperti asisten rumah tangga maupun sopir pribadinya daripada kadaluarsa dan mubazir. Saya saja sering disuguhkan makanan dan minuman tersebut ketika berkunjung ke rumah mereka di hari raya, jauh sebelum adanya pandemi Covid-19.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN