Cerpen

Horison

4 Juni 2018   00:50 Diperbarui: 4 Juni 2018   01:09 623 0 0

Oleh: Umar Usman

Batas cakrawala, sejauh  mata memandang. Terlihat sosok visioner dan interprenur muda yang tampan lahir batin. Pria itu bernama Bondan Juwadi, tetapi saya kebih suka memanggilnya dengan sebuta "Dinda Bondan."

Pria berzodiak Aries, kelahiran kota Boyolali 42 tahun yang lalu ini selalu tampil energik, juga agresif, impulsif, dan berjiwa pemimpin.

Aroma lada hitam, cengkeh, ketumbar, dan kemenyan. Juga warna merah berelemen api, bersinergi dengan batu delima. Itulah hoki yang tergambar dari zodiaknya.

Dinda Bondan menamatkan sekolah tingkat SD hingga SMP di kota kelahirannya, Boyolali. Kemudian dia melanjutkan ke STM di kota Karanganyar, Solo pada 1995.

Kehidupan si bontot ini tergolong baik. Dia berada dalam lingkungan keluarga yang hidup rukun dan damai, sebagai anak bungsu dari enam bersaudara. Kedua orangtuanya sangat menyayanginya.

Pengalaman yang masih sangat melekat dalam ingatannya hingga saat ini adalah saat dia terjatuh ke dalam sumur pada kedalaman 10 meter. Saat ditemukan dan ditolong orangtuanya, ternyata dia tidak mengalami cidera sedikitpun. Tentu ini merupakan suatu keajaiban.

Pria penggemar sepakbola ini sejak remaja sudah minat belajar ilmu kanuragan dan spiritual. Setamat sekolah pada 1995, Bondan  merantau ke Jakarta dan

bekerja sebagai teknisi di perusahaan molding besi di daerah Serpong, Tangerang.

Pada tahun 2000, pria berzodiak Aries dan tampan ini mengakhiri masa lajangnya. Dia menikah dengan perempuan idamannya, Ani Purwati. Dari hasil pernikahan mereka dikaruniai tiga orang putra.

Sebagai seorang istri yang setia, Ani Purwati berpesan kepada sang suami agar selalu menghindari kecerobohan. Sebab, saat mengawali perkawinan, keduanya belum tahu apa tujuan menikah dan tanggungjawab sebagai suami. Keadaan ekonomi keluarga masih merangkak. Rumah ngontrak dengan segala keterbatasannya.

Saat kelahiran putra pertama mereka, ada kisah yang tak mungkin mereka lupakan. Saat itu Bondan bekerja di Jakarta dan pulang ke rumahnya di Aji Barang dengan naik bis. Karena penumpang penuh dan berdesak-desakan, dia harus rela berdiri sepanjang perjalanan. Tentu sangat melelahkan. Belum lagi dirinya sempat dililit hutang, ketika kondisi keuangan keluarganya sedang sulit. Semua pengalaman getir ini tetap indah untuk di kenang sebagai bagian dari catatan sejarah hidupnya.

Kegemaran Dinda Bondan adalah mendengar lagu dangdut. Setiap nonton orkes panggung, dia selalu minta lagu "Bojo Loro" sambil nyawer kepada penyanyi. Dia berpendapat bahwa poligami itu bukan pilihannya. Tak lebih sebagai ketetapan Tuhan dan manusia hanyalah wayang yang menjalani takdirnya.

Si bontot berwajah tampan mengenal alam RASI sejak 2000. Pertama kali dituntun doa oleh Bapak Rasijan  Nulkarim, Slamet Firman, dan  Isbadi Pengayom. Semua ini diawalinya ketika putra pertamanya  sakit-sakitan dan hendak berobat. Namun, akhirnya jiwa putra pertamanya tetap tidak tertolong dan kembali menghadap Sang Maha Pencipta.

Empat  bulan setelah menerima doa dan melaksanakan syukuran, Bondan  langsung membina umat di Pos Warung Mangga, daerah Tangerang Selatan.

Pengalaman unik selama pembinaan oleh bapak Rasijan, Bondan tidak bisa membaca dan menulis. Pesannya,  "Perut kenyang dan hati senang". Setiap Bondan bertanya kepada bapak Rasijan, selalu dijawab agar mau membuka Al Qur'an. Akan tetapi Beliau tidak pernah sampaikan surat dan ayat berapa. Setelah Bondan membuka Al Quran secara acak, selalu kebetulan pas dengan perjalanan dan pertanyaannya.

Dengan motto pembinaan Bapak Rasijan "Perut kenyang dan hati senang", pelan tapi pasti keadaan ekonomi keluarga Bondan mulai membaik.

Bersicepat dengan pergolakan, Dinda Bondan dibina langsung oleh bapak Slamet Firman, yang saat ini sebagai Pengayom Inti RASI.

Sangat unik hal yang dialami oleh Dinda Bondan. Pengayom Inti Slamet "Mengusulkan kepada Tuhan agar dipecat dari pekerjaan. Benar adanya akhirnya ke luar dari pekerjaan. Pesangon dan tabungan dihabiskan untuk bakti.

Interprenur dan pengusaha ini  sudah tidak bekerja dan pengangguran. Terjun membina di Pos Muncul. Pesan Pengayom Inti Slamet "Agar nekat memilih jalan spiritual",

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2