Mohon tunggu...
Windha Tunggara
Windha Tunggara Mohon Tunggu... Guru - Pengajar Madrasah

Pengajar di MAN 4 Sukabumi, sedang belajar menulis agar otak tidak tumpul.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Membangun Budaya Kerja Sehat di Madrasah

3 September 2022   18:30 Diperbarui: 3 September 2022   19:10 260 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Sulakso (2002), mengemukakan bahwa budaya kerja merupakan the way we are doing here atau sikap dan perilaku pegawai untuk melaksanakan tugas. Oleh karena itu, setiap proses atau fungsi kerja harus memiliki perbedaan dalam bekerja yang mengakibatkan munculnya keberagaman nilai-nilai yang sesuai untuk diambil, dalam rangka kerja organisasi. 

Selanjutnya Mangkunegara (2005), berpendapat bahwa budaya kerja merupakan perangkat asumsi atau sistem keyakinan, nilai, dan norma yang dikembangkan dalam suatu organisasi yang dapat dijadikan sebagai landasan tingkah laku anggota, untuk mengatasi masalah adaptasi eksternal maupun integrasi internal. 

Berdasarkan pendapat di atas, budaya kerja merupakan sikap atau perilaku yang berkembang dan berlangsung dalam suatu organisasi lingkungan kerja. Budaya kerja tidaklah muncul dengan sendirinya, budaya kerja dibentuk melalui proses yang melibatkan sumber daya manusia beserta seluruh perangkat pendukungnya. Proses pembentukan ini secara umum bertujuan meningkatkan kinerja karyawan yang lebih produktif sehingga visi dan misi lembaga dapat terwujud serta mampu menghadapi semua tantangan di masa mendatang. Yang akhirnya budaya ini secara sendirinya akan membentuk kinerja pegawai menjadi lebih baik dan sehat. Bekerja di sebuah lembaga yang menerapkan budaya kerja sehat adalah impian bagi setiap pegawai. Selain menumbuhkan suasana positif, budaya dan lingkungan kerja yang sehat juga akan meningkatkan produktivitas kerja yang mengarah pada tercapainya tujuan lembaga. 

Hal ini sejalan dengan Kementerian Agama RI yang telah menyusun 5 (lima) Budaya Kerja yang telah disahkan menjadi Peraturan Menteri Agama RI, yaitu: Integritas, keselarasan antara hati, pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik dan benar; Profesionalitas, bekerja secara disiplin, kompeten dan tepat waktu dengan hasil terbaik; Inovasi, menyempurnakan yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik; Tanggung Jawab, bekerja secara tuntas dan konsekuen; dan Keteladanan, menjadi contoh yang baik bagi orang Lain. Dengan memedomani 5 nilai budaya kerja tersebut, setiap aparatur Kementerian Agama diharapkan dapat melaksanakan tugas dan fungsi dengan sebaik-baiknya, berkinerja tinggi, serta terhindar dari segala bentuk pelanggaran dan penyimpangan. 

Lantas bagimana agar madrasah membangun budaya kerja yang sehat. Berikut disajikan langkah-langkah membangun kerja sehat di madrasah. 

1. Kembangkan Budaya Mengapresiasi, Memberikan apresiasi pada pegawai akan membangun budaya yang sehat dan positif. Setiap kontribusi dan pencapaian yang dihargai akan membuat karyawan puas dan mendorong perilaku yang sama. Lembaga yang mampu mengapresiasi hasil kerja individual maupun tim akan memiliki karyawan yang loyal dan aktif. Hal ini karena mereka merasa dihargai dan memperoleh kebahagiaan dalam bekerja. Cara memberikan apresiasi ini juga bisa dimulai dari hal sederhana seperti ucapan selamat dan terima kasih. 

2. Dorong Budaya Mendengarkan, Jadilah pendengar yang baik bagi pegawai dan rekan kerja. Kebiasaan mendengarkan keluhan, feedback, dan ide dari anggota tim sangat berpengaruh dalam membentuk budaya lembaga yang positif. Mendengarkan suara pegawai juga akan membantu memahami persoalan yang terjadi di dalamnya, sekaligus mengetahui apa yang dibutuhkan karyawan guna membantu mencapai tujuan lembaga. 

3. Kembangkan Kolaborasi dan Partisipasi, Sistem ini memberikan otonomi dan kesempatan kepada karyawan untuk belajar, berkembang, dan menjadi lebih baik dalam tugas-tugasnya. Kolaborasi dan partisipasi merupakan budaya lembaga yang positif yang akan mendorong tim untuk lebih kreatif dan produktif. 

4. Promosikan Work-Life Balance, Waktu yang dimiliki oleh pegawai sangatlah berharga. Terlebih apabila mereka telah selesai bekerja di kantor dan ingin menikmati waktu setelahnya untuk bersantai atau berkumpul dengan keluarga. Dalam membentuk budaya perusahaan yang sehat, promosikanlah keseimbangan hidup dan pekerjaan dengan memulai dari hal-hal sederhana, seperti tidak menganggu karyawan dengan pesan atau email di luar jam kerja sekalipun mereka bekerja di rumah. 

5. Prioritaskan Kesehatan dan Kesejahteraan Pegawai, Tidak ada organisasi yang berkembang dan memiliki budaya perusahaan yang positif tanpa karyawan yang sehat dan sejahtera secara fisik, mental, dan emosional. Sebab kesehatan dan kesejahteraan karyawan menentukan kebahagiaan dan produktivitas mereka. Karena itu, prioritas utama adalah kesehatan dan kesejahteraan karyawan. Kita tidak bisa memaksakan karyawan untuk bekerja di kantor tanpa memberikan jaminan dan perlindungan. Bangunlah sistem yang membuat karyawan merasa aman dan nyaman saat masuk kantor. 

Setiap lembaga memiliki sistem dan budaya kerjanya masing-masing. Dimana penerapannya ditujukan guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja dalam rangka mencapai tujuan lembaga. Terlepas dari apapun jenis budaya yang diterapkan di tempat kerja, penting untuk mulai membiasakan hal-hal kecil guna membangun budaya dan lingkungan kerja yang lebih positif.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan