Wiliams Roja
Wiliams Roja Mahasiswa

Mahasiswa Filsafat di STF-SP. Selain menekuni ilmu humaniora tersebut, penulis juga adalah seorang fotografer dan kontributor berita untuk salah satu koran di Kota Manado.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

VCD Haram dan VCD Halal, Jajanan Karinem dan Wanda

8 Desember 2017   00:09 Diperbarui: 8 Desember 2017   00:22 151 0 0

Pasar itu sepi dari para pengunjung, sudah beberapa hari ini Wanda mengaku hanya tiga kaset VCD jajanannya yang dibeli." Itupun sudah lumayan", tutur Wanda sambil memandang ratusan kaset bajakan dalam ruko kecilnya.     

Oleh:

Wiliams Flavian Pita Roja,MSC

Sudah hampir pukul 14 WIB, Kami (Eky dan Roja) mulai melangkah keluar Novisiat, menyusuri jalan aspal yang ramai dilalui kendaraan. Kami bukan kelompok satu-satunya, beberapa kelompok lain dengan jumlah anggota yang sama seperti kami tampak melangkah di depan kami. Entah kemana mereka pergi, kami sudah tahu tujuan kami, Pasar Karangnyar-Kebumen, di sana kami akan melihat di mana dewi keadilan itu berada. Masuk mengitari ruko-ruko di depan pasar, sekilas akan terlihat betapa rapinya deretan para pedagang yang nyaman di tempat mereka yang lebar, bersih dan mudah memancing perhatian setiap orang yang lewat.

 Melihat sebuah lorong panjang ke dalam, kami sepakat untuk masuk. Hanya dalam beberapa langkah, pemandangan ruko yang menarik tadi sekejap tertutup oleh rentetan pedagang pakaian yang berdempetan  berusaha menawari kami barang dagangannya, tak peduli harus berhimpit di antara pedagang-pedagang lainnya. Hanya senyuman yang bisa kami berikan, sambil terus melangkah ke arah para pedagang sayuran yang sudah siap menawari barang dagangan mereka kepada kami. 

Bau anyer semakin menusuk hidung saat kami mulai mendekati para pedagang ikan, namun akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat lain. Terus melangkah ke luar pasar, sudah terlihat seorang  gadis dengan rambut pirang menjajakan kaset sambil lagu dangdut menggema dari dalam rukonya. Kami berhenti disitu. Berkedok melihat kaset film kami mulai membuka pembicaraan. Baru saja dimulai, si gadis pergi dan digantikan oleh seorang wanita tua, yang akhirnya kami tahu namanya, Ibu Wanda, ibu kandung dari gadis tadi.

"harganya berapa bu?", kami berusaha memancing pembicaraan. "sepuluh ribuan mas" jawab ibu Wanda dengan wajah sumbringah, berharap kami benar-benar membeli dagangannya. Dari basa-basi itu kami mulai mengutarakan tujuan kami. Ia tampak tidak keberatan saat kami menyatakan niat kami untuk mengamati kondisi pasar tersebut. "Ya beginilah mas, sepi terus, dari pagi baru tiga yang laku." Kondisi ini sudah sering  terjadi sejak setahun yang lalu  ketika pasar itu mulai ditata dengan gaya yang dinginkan oleh pemerintah.

Ibu Wanda sendiri sudah memiliki dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki putus sekolah. Tak jauh dari ruko kecilnya, sang anak menjadi server di tempat permainan Plays Station(PS) kecil milik mereka. Sedangkan gadis penjaga toko tadi adalah anaknya yang sudah tidak mau lagi meneruskan sekolahnya setelah lulus dari SMA.

 Sang suami juga dibelakang pasar menjual tanaman-tanaman. "Di rumah, kami jual pupuk juga mas," tutur bu Wanda sambil duduk di kursi kayu di depan ruko itu. Bukan tanpa alasan kenapa sang suami harus pindah ke belakang dan mengapa mereka harus membuka banyak usaha esek-esektersebut. Dari ceritanya kami mengerti, jalanan di depan ruko itu ternyata dulunya sangat ramai. 

Penghasilan mereka cukup memuaskan, bahkan Karinem mengaku membeli ruko itu dengan harga Rp. 50.000.000. Namun semuanya mulai berubah saat pemerintah mulai melakukan penataan terhadap pasar tersebut. Mulai dari area parkir hingga pedagang ikan, semuanya ditata. Tampak dari pengamatan kami, penataan dan pengelompokan para pedagang sesuai dengan jenis dagangannya ini ternyata kurang menguntungkan para pedagang.

 Lorong kecil di depan ruko yang sudah ia tempati sejak tahun 1982 kini hanya sebatas tempat parkir motor yang sangat memprihatinkan. "tidak ada pohon atau apa gitu mas.. motor-motor panas dari pagi sampai sore..". Kondisi yang sama terjadi di semua area parkir di pasar tersebut.

Tiba-tiba kami terkejut mendengar keluhan wanita tersebut, bahwa portalyang ada di dua pintu masuk pasar tersebut ternyata menjadi salah satu penyebabnya. Sebulan para pedagang harus menyetorkan Rp. 25.000 kepada para penjaganya. "ya untuk iuran-iuran gitu mas, gak jelas juga.." ujar bu Wanda saat ditanyai apakah mereka menagih uang kemanan. "padahal gak aman juga sih mas, udah berapa motor di bawa maling, padahal parkir di depan kayak gini lebih aman, kan kita bisa jaga.." lanjut bu Wanda sambil menatap lorong kecil di depan rukonya. 

Portal tersebut bahkan menagih Rp. 1000 untuk jasa parkir pedagang. Karena kondisi area yang panas dan tidak aman serta mahal tersebut, sejak tempat parkir itu diresmikan, masyarakat lebih memilih untuk memarkir kendaraan mereka di depan toko-toko di sepanjang jalan raya. Bahkan banyak yang lebih memilih untuk belanja di Mini Marekat atau Swalayan yang letaknya tak jauh dari pasar.

                Semakin terbawa dalam suasana itu, kami memberanikan diri untuk mengungkit lagi. "kasetnya ada yang originalya bu?" tanya kami kepada ibu Wanda. Kami sedikit kaget saat Ibu itu menyatakan kepada kami bahwa semuanya bajakan. "kita bayar terus setiap bulan supaya gak kena razia mas.." ketus bu Wanda saat kami bertanya mengenai tindakan Polisi.

                Fakta ini mengingatkan kami akan kasus-kasus yang sudah banyak kali terjadi di tanah air. Dari pengakuan ibu tersebut juga kami tahu bahwa ada sebuah perusahaan yang memasoknya setiap bulan kepada Ibu Wanda dan pedagang-pedagang lainnya. Sebuah perusahaan yang letaknya di Glodok, Jakarta Barat, ternyata mamasok barang terlarang itu kepada masyarakat-masyarakat kecil ini. 

Permainan antara Polisi dan perusahaan ini tentu melukiskan bagaimana keadilan untuk masyarakat kecil dikekang. Kepada kami ibu Wanda mengatakan dirinya tahu ini terlarang. "tapi kami mau bagaimana lagi mas, kaset originalterlalu mahal, gakmampu..".

                Tidak habis disitu, barang terlarang yang menghancurkan karya para seniman tanah air bahkan dunia  ini ternyata sudah tertumpuk karena sangat jarang ada pembeli. Bu Wanda juga memanfaatkan ruko itu untuk tempat potong rambut. Saat ditanyai harga potong rambut bu Wanda mengatakan bahwa dirinya tak mematok harga mahal-mahal, "gak mau menyusahi orang yang gak mampu.." ujarnya menegaskan.

                Kenyataan ironis yang mengejutkan, yang kami temukan dalam pembicaraan kami dengan Ibu Wanda, mulai dari penataan pasar yang tidak menguntungkan dirinya dan banyak pedagang lain, portal yang membuat animo para calon pembeli lenyap dan beralih ke Mini Market atau Swalayan, permainan Polisi yang membuat mereka harus membayar agar tak terkena razia bahkan perusahaan pemasok barang bajakan tersebut, membuat kami merasa perlu untuk membandingkan data ini dengan pedagang lain.

                Dari ujung pasar tersebut kami terus melangkah ke ujung pasar yang lain. Sebuah terpal kecil meneduhi Karinem, wanita muda yang tampak sedang menjajakan kaset VCD dan DVD. Kami terbalalak menatap kaset-kaset orginal yang dijajakannya di emperan ruko-ruko lain. Untuk menjual di emperan tersebut ia mengaku harus membayar Rp.2000 kepada para penjaga portal

Untuk menanyai Karinem kami mengawali dengan cara yang sama seperti kami bertanya kepada bu Wanda. Karinem bahkan lebih berani berbicara, meski awalnya kami susah menanyakan namanya, "nama saya jelek mas.." ujarnya tersipu-sipu. Kami berani mengungkapkan kekaguman kami karena keberaniannya menjual kepingan-kepingan kaset original tersebut. "Habis gimana lagi mas, dari pada tutup karena kena razia..". Meski tidak mampu, namun mereka lebih memilih untuk membayar tunai kepada pemasok kaset, "dari pada ditagih-tagih.." katanya.

                Karinem dan suaminya punya pengalaman tak enak dengan kepingan-kepingan terlarang tersebut. Beberapa kali mereka bayar karena terkena Razia dan harus tutup bahkan hingga tiga bulan. Meski sulit dan beberapa kali rugi karena kaset original,sekarang mereka tetap memilih untuk menjual kaset original meski jumlahnya hanya sedikit. 

Bahkan hanya sedikit yang beli, "katanya terlalu mahal mas.." ujar Karinem mengenang ketusan para pembeli. Penasaran, kami memberanikan diri untuk menanyakan asal dari kaset-kaset tersebut. "Tuh mas liat aja di kasetnya, ada Perusahaan yang memasok". Nama salah satu perusahaan yang ia sebut,   tidak lain dan tidak bukan adalah perusahaan yang terketak di Glodok, perusahaan yang juga memasok kepingan-kepingan kaset bajakan kepada bu Wanda. Kami tidak berniat memberitahukannya kepada Karinem. 

Permainan perusahaan ini benar-benar menghancurkan banyak pihak, para seniman, akan tetapi terlebih khusus masyarakat kecil yang menjadi korban ketidak adilan dari berbagai pihak. Sepinya pembeli bahkan membuat kaset-kaset original yang sudah dibeli dengan harga hampir 10 kali lipat dari kaset bajakan tersebut menumpuk.

 Karinem dan suaminya memang memilih untuk lebih banyak menjual kaset lagu-lagu Jawa ketimbang film yang harganya lebih tinggi. Nasib apes Karinem tak hanya sampai disitu. Dari percakapan yang semakin mengalir, Karinem mengakui bahwa di dalam pasar ia juga menjual pakaian. 

Namun kali ini dia harus menjaga tempat penjualan kaset suaminya, sedang sang suami harus mencangkul di sawah. "Habis mau gimana mas. Kalo begitu kita gak bisa makan," tutur Karinem sambil mengkerutkan keningnya. Dari Karinemlah kami akhirnya tahu bahwa ternyata sepinya pembeli di dalam pasar membuat para pedagang harus menutup lebih awal barang dagangannya. Karinem sendiri sudah tiga hari tak mendapatkan sepeserpun dari hasil penjualan pakaian.

Kondisi serupa juga terjadi pada seorang pedagang kue basah. Barangnya sejak pagi tidak pagi tak tersentuh pembeli. Ia bahkan harus membawa lagi kue itu ke rumahnya atau membuang yang sudah rusak. "doain mas supaya laku.." tutur pria itu setelah tahu bahwa kami dari Sananta Sela. Kondisi pasar yang memprihatinkan ini kembali ditegaskan oleh Karinem yang menyabung pembicaraan kami dengan pria tersebut di depan jajanannya. "saya pernah baca di Koran mas, 'Pasar Karangnyar amburadul, lima motor dicuri'.." ujar karinem dengan nada yang agak meninggi. Tampak raut wajah berkerudung merah itu berusaha mengendalikan persaan kesalnya.

Harian Kompas dalam sebuah edisi pernah memberitakan mengenai pengelola tempat parkir yang belum menuruti perarturan Kementerian Perhubungan di mana ditegaskan bahwa Setiap Kendaraan yang hilang dalam wilayah parkir tersebut harus diganti oleh pengelola setempat, sekalipun itu milik daerah. Bahkan karena pengelolaan parkir dan pendanaan yang kacau ini Karinem kerap mendapat semprotan dari para pembeli yang kesal. 

Pernah, dikatakannya, seorang ibu yang marah -- marah terhadapnya, "udah bayar parkir Rp.1000, motor kepanasan, kaset gak ada lagi.." ujar karinem menirukan semprotan tersebut. Karena hal ini Karinem biasanya memberikan Rp. 1000 untuk para pembeli yang kecewa, sekaligus menggantikan biaya parkir yang kacau tersebut.

Tak hanya bu Wanda, sikap Karinem juga sama, yakni keberatan dengan penataan yang kacau tersebut dan meyakini bahwa penyebab sepinya pembeli disebabkan karena jalan masuk pasar yang semuanya di beri portal, sehingga pembeli tidak maju ke pasar lagi, dan pindah ke tokoh - tokoh atau Super Market. Meski telinga panas mendengar ocehan, Karinem tetap bersabar entah sampai kapan.

Ketidakadilan ini terletak pada pemerintah yang menata pasar dengan kacaubalau. Dari hal inilah masyarkat menjadi korban permainan berbagai pihak yang menghancurkan harapan mereka...*

Red: Fr. Eky dan Fr. Roja adalah salah satu kelompok yang diantara tiga empat kelompok lainnya yang diberi tugas untuk melakukan observasi berkaitan dengan JPIC (Justice, Peace and Integrity of Creation) yang pada waktu itu dibimbing oleh Romo Jovinus Rahaiil MSC dan Bpk. Steff Tokan serta saudari Yuta. Keesokan harinya setelah observsi tersebut Para Frater melanjutkan pengamatan ke Ambarrukmo Plaza Jogjakarta.