Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah karyawan swasta

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". Hp. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pohon dan Ekonomi Kreatif

11 Februari 2019   18:24 Diperbarui: 11 Februari 2019   19:17 51 0 0
Pohon dan Ekonomi Kreatif
presentasi mbak Titi

Sabtu, 9 Februari 2019 adalah tanggal bersejarah buat blogger. Sebab di tanggal itu, banyak blogger berkumpul dalam rangka bicara tentang pelestarian hutan. Hutan menjadi penting, karena dapat merubah iklim sebab paru paru dunia (penyerap CO2) hilang. Sehingga C02 lepas ke bumi sehingga terjadi pemanasan global.

Dalam tulisan saya terdahulu, saya menuliskan tentang: 

Pengelolaan Hutan dan Lanskap yang Berkelanjutan

Kumpul Blogger Bicara Pelestarian Hutan

Tentu saja saya ingin melanjutkan cerita tentang nara sumber yang ketiga. Beliau bercerita tentang pohon dan ekonomi kreatif. Murni Titi Resdiana yang biasa dipanggil mbak titi, mampu membuat kami para blogger tercerahkan.

Beliau memulainya dengan kebijakan perubahan iklim di indonesia dari pemerintah. Ada 2 rencana pemerintah yang beliau sampaikan, yaitu:

  1. Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dengan pertumbuhn ekonomi 5, 07 % (2017)
  2. Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim dengan pertumbuhan ekonomi 5,17% (2018)

Oleh karena itu, pengurangan emisi sektor KEHUTANAN menjadi sangat penting. Rencana emisi dari sektor kehutanan adalah dengan menanam pohon. Hal ini dilakukan dengan cara:

  1. Pencegahan Pembalakan Liar
  2. Kebijakan Moratorium
  3. Penanaman di Kawasan Hutan
  4. Rehabilitasi Hutan dan Lahan
  5. Rehabilitasi Mangrove
  6. Reklamasi Lahan Pasca Tambang
  7. Penanaman Dengan Tanaman Perkebunan
  8. Perluasan Perkebunan di tanah terlantar

Sangat menarik sekali apa yang beliau paparkan dalam presentasinya. Saya menjadi tahu kalau pemerintah sangat serius menangani masalah ini. Hal ini diperkuat dengan keluarnya Peraturan Presiden No. 59 Tahun 2017 mengenai Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs). Ada tujuan dan target yang diharapkan pemerintah dengan berbagai indikator. Saya menyimaknya dari slide yang ditampilkannya di sini.

Ada berbagai program prioritas pembangunan desa yang sudah dilakukan pemerintah saat ini, yaitu:

  1. Produk unggulan kawasan pedesaan
  2. Embung desa
  3. Badan Usaha Milik Desa
  4. Sarana Olahraga Desa

Keempat informasi tersebut dapat anda dapatkan dari website kementrian desa, daerah tertinggal, dan transmigrasi. Saya sendiri baru tahu informasinya setelah mendapatkan penjelasan dari Ir. Murni Titi Resdiana, MBA, (biasa dipanggil mbak Titi) yang merupakan asisten utusan khusus presiden bidang pengendalian perubahan iklim.

Banyak yang sudah dilakukan pemerintah dengan aksi nyata, diantaranya adalah:

* Meningkatkan ekonomi lokal

* Konservasi lingkungan

* Dukungan terhadap TPB

Kemitraan terus dilakukan dengan berbagai lembaga di masyarakat. Baik pelaku bisnis, Lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau universitas yang terus dikembangkan dengan pendidikan dan pelatihan. Juga dialog dan pelibatan masyarakat sehingga mereka mendapatkan akses informasi dan dialog dalam meningkatkan kesadaran CLIMATE EMPOWERMENT.

Masyarakat, Pemuda, Perempuan terus diberdayakan sehingga terjalin komunikasi antara Media massa dan Media Sosial. Juga adanya pelaporan dari pemerintah daerah yang selalu dilaporkan secara nasional dan internasional.

Tentu kita sangat bangga. Budaya seni Indonesia juga tak kalah dengan negara lain.  Karya Tenun, Celup Ikat, dan Batik menjadi contoh betapa berkembangnya budaya seni di Indonesia.

Potensi Ecoproduct, Pemberdayaan Masyarakat Desa, dan Social Entrepreneur  menjadi indikator PENINGKATAN KETRAMPILAN dan AKSES MARKET. Contohnya adalah Anyam atau anyaman yang terus berkembang pesat.

Pada dasarnya, MENANAM POHON UNTUK EKONOMI KREATIF ada 5, yaitu:
* POHON SUMBER SERAT
* POHON SUMBER PEWARNA ALAM
* POHON BAHAN KULINER
* POHON SUMBER FURNITURE
* POHON SUMBER BARANG DEKORASI

Ada berbagai Sumber Pewarna Alam, Bahan Kerajinan dan Makanan yaitu:

  • Rotan: Fashion, Kerajinan Tangan
  • Lontar: Fashion, Kerajinan
  • Daun Jati: Pewarna Kain (Merah, Makanan/Minuman
  • Kulit Secang Pewarna Kain (Merah Coklat) dan Minuman
  • Indigofera: Pewarna Kain (Biru), Makanan Ternak
  • Akar Mengkudu: Pewarna Kain (Merah)
  • Kelapa: Gula, Buah, Sabut, Kayu
  • Nipah: Nira Sumber Gula dan bioethanol,Buah, Daun Untuk Kerajinan

Selain itu, ada Sumber Energi Terbarukan, yaitu: Kaliandra Merah: Renewable Energy. Kaliandra merah bisa digunakan sebagai bahan bakar. Kalianda merah bisa mengantikan batu bara.  Ini menjadi sumber nergi baru. Serat pohon kelapa bisa dibuat seperti kayu dan mempunyai kekuatan lebih kuat dari kayu . Seni budaya di Indonesia seperti membatik, mengayam, tenun, jumputan yang dilakukan oleh para wanita di setiap wilayah Indonesia sangat menarik.  

Sumber Serat Alam memiliki POTENSI SERAT ALAM INDONESIA UNTUK TEKSTIL, yaitu:

  • Serat Eucaliptus
  • Serat Daun Nanas
  • Serat Bambu
  • Serat Pelepah Pisang
HALAMAN :
  1. 1
  2. 2