Mohon tunggu...
Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Mohon Tunggu... Guru Blogger Indonesia

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". Hp. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Menjadi Guru Efektif atau Menjadi Guru Jadul?

15 Desember 2009   07:40 Diperbarui: 26 Juni 2015   18:56 796 0 0 Mohon Tunggu...

[caption id="attachment_38166" align="alignleft" width="300" caption="Mau Jadi Guru Jadul atau Guru Efektif?"][/caption]

Kita ketahui bahwa proses belajar atau kini biasa disebut proses pembelajaran menjadi jantung hati sistem pendidikan. Sasaran sistem pendidikan kita atau lebih sempit disebut sistem persekolahan kita, adalah kesempatan pemerataan pendidikan yang adil dan bermutu pada peserta didiknya (equal opportunity, equity and equality).

Mengingat kondisi daerah tanah air kita yang sangat memperlihatkan profil yang tidak merata ini, itu berarti kita harus menyiapkan kondisi yang dapat diraih oleh setiap anak Indonesia dalam kesempatan pendidikan sedemikian, sehingga sasaran pendidikan dapat terwujud.

'Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara', maka landasan tersebut menjadi amanah bagi setiap guru yang menjadi pendidik yang efektif, bukan pendidik yang berada di jaman dulu.

Dalam kaitan dengan amanah tersebut, patut dikaji berbagai masalah pendidikan yang masih memerlukan penanganan yang lebih tuntas,  antara lain kesempatan menikmati pendidikan yang belum merata, mutu yang dinilai belum memuaskan, keluarannya belum segera mendapat penampungan dari pasaran kerja, kalaupun tertampung kesiapannya untuk bekerja masih sangat kurang. Akhirnya kita melihat pengangguran terdidik ada dimana-mana. Diperlukan guru efektif yang mampu membimbing di bidang kewirausahaan, dan mampu mengembangkan karakter siswa dengan baik.

[caption id="attachment_38167" align="alignright" width="300" caption="Bertemu dengan mendiknas, Moh. Nuh"][/caption]

Suasana tersebut kini mendapat "cobaan" yang lebih serius lagi, dan menjelaskan kemengapaan mendidik dengan hati, karena krisis ekonomi yang melanda dunia, termasuk Indonesia, yang menyebabkan perekonomian Indonesia terpuruk. Hanya pendidik yang efektif dan mendidik serta membelajarkan dengan hati akan mampu merespons terhadap tantangan ini. Ini berarti para pendidik harus mendidik dengan empati, karena pada diri seseorang yang terdalam guru menjalin hubungan pendidikan dengan muridnya.

Paradigma guru pun harus di rubah. Guru sekarang bukanlah guru jadul (jaman dahulu) yang merupakan pusat sumber belajar, tetapi guru adalah salah satu pusat sumber belajar. Pembelajaranpun berubah menjadi "student oriented". Berpusat pada siswa, dan bukan lagi pada guru. Demikianlah yang disampaikan mendiknas pada guru-guru pemenang lomba buku pengayaan tingkat nasional 2009. Guru harus mampu membuat buku pengayaan yang membuat siswa lebih memperkaya ilmu pengetahuannya.

Namun sayangnya, cara mengajar guru-guru kita masih menggunakan pembelajaran ekspositoris, yang ternyata tidak memberikan hasil yang diharapkan (Sayadi, et. al, MOEC, 1998). Hanya pendidik yang efektif yang dapat menolong bangsa ini dari situasi yang terus berkembang. hanya guru efektif yang mampu membimbing peserta didiknya menjadi orang yang senantiasa dinamis. Mampu belajar mandiri karena guru mampu membuat pembelajaran yang mengundang.

[caption id="attachment_38175" align="alignright" width="300" caption="Guru Pemenang buku Pengayaan dan Kepala Pusat Perbukuan"][/caption]

Kondisi ini bila tidak diatasi memperlihatkan adanya "jurang" yang menganga, dan bisa menimbulkan kesenjangan dalam upaya mencapai jumlah lulusan sekolah menengah untuk memasuki perguruan tinggi di tahun-tahun mendatang, dalam rangka pengembangan sumber daya manusia.Diperlukan buku-buku bermutu yang diciptakan oleh guru efektif dan layak untuk dibaca para siswa. Itulahyang diharapkan Pusat perbukuan Depdiknas. Guru harus mampu membuat bukunya sendiri, dan memiliki keterampilan menulis ilmiah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x