Wijatnika Ika
Wijatnika Ika Blogger | Freelancer

Saya juga menulis di: http://www.wijatnikaika.id/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Sejumlah Alasan Mengapa Anak dari Keluarga "Broken Home" Tidak Mudik Lebaran

14 Juni 2018   01:32 Diperbarui: 14 Juni 2018   11:55 2344 6 4
Sejumlah Alasan Mengapa Anak dari Keluarga "Broken Home" Tidak Mudik Lebaran
vebma.com

Mungkin  selama ini kita mengira bahwa jenis manusia malang yang hidup di dunia  ini adalah para yatim piatu, pengungsi, hingga korban perang. Padahal,  menjadi anak dari keluarga "Broken Home" adalah jenis kemalangan  berbeda.

Seseorang mengatakan, bahwa tidak ada kematian yang lebih  menyakitkan selain dilupakan dan itulah yang terjadi pada anak dari keluarga Broken Home.

Mereka memiliki rumah dan keluarga, ayah  dan ibu, keluarga besar, juga kampung halaman. Tetapi, semua itu hanya  fisik belaka. Mereka kehilangan hati untuk pulang, sebagai rumah yang  sebenarnya. 

Dalam sebuah grup di Instagram tentang Broken Home sang admin bertanya kepada para pengikutnya dalam sebuah postingan, "Mudik ke mana?"

Satu pertanyaan sangat singkat tetapi menusuk bagai belati, tepat ke jantung hati. Kemudian para pengikutnya memberikan jawaban beragam dalam menunjukkan kekecewaan, kesedihan, kecemasan, kesepian, pembangkangan, penolakan  hingga sikap pasrah yang dipaksakan. 

"Sengaja nggak pulang ke rumah," ujar TW.

"TW, sama. Udah lupa jalan pulang ke rumah," balas PR.

"Ke rumah tetangga," jawab LY iseng, tetapi sebetulnya sedih.

"Gak mudik, lebaran di kosan, kampung orang," tukas DE.

"Mudik???? Bingung jawabnya," kata DM.

"Mudik? Keluarga aja berantakan mau mudik," kata AS.

Jawaban-jawaban singkat namun menyedihkan dan menyiratkan kesepian yang sebenarnya dapat dituntaskan dengan solusi sederhana.

Selain karena mereka bingung hendak mudik ke mana, ke rumah Ayah atau Ibu. Ada juga yang merasa bahwa mudik bukan lagi peristiwa penting manakala keluarga sudah hancur berantakan.

Bahkan beberapa merasa nelangsa karena diabaikan keluarga baru orangtuanya, lalu memilih lebaran sendiria di perantauan.

"Enaknya ke rumah Ayah apa ke rumah Ibu? Sampe sekarang belum mudik. Bingung mau ke mana," tambah AN.

"Mudik nggak mudik tetep sama. Sama-sama nyesek setiap lebaran," ujar CP.

"Jangankan  mudik, hari lebaran aja bingung mau silaturahmi ke keluarga  mana. Mami  atau Papa? Dua-duanya sama-sama penting. Tapi, entahlah,"  keluh LL, yang sepertinya bingung hendak mudik ke rumah siapa.

"Di kosan, nangis diatas bantal pas malam takbiran," jawab DY dengan sejumlah emoticon menangis dengan kencang. 

"Awalnya  mau mudik ke Jogja bareng keluarga Papa, tapi dimajuin mudiknya dan  yang pergi Papa dengan keluarga barunya tanpa aku, jadinya lebaran di  kosan, sendiri," tambah MT dengan sedih. 

"Mudik?  Di rumah aja ngeliat bus dan mobil lalu-lalang sambil ngeliat  didalamnya ada keluarga yang sedang kegirangan bisa pulang kampung  bareng-bareng dan bahagia kumpul dengan keluarga besarnya," aku RFK  tampak putus asa.

"Ke Pekalongan. Itu pun hanya "mudik" tapi tidak dengan  suasana keluarga yang didalamnya ada cinta," tambah DH.

Mudik seringkali dimaknai sebagai cara yang patut lagi sopan para anak untuk berbakti pada orangtua. Karena memang dalam budaya Indonesiam orangtua itu selalu nomor satu dan tidak pernah salah.

Lantas ketika ada yang bertanya, "Nggak ada orangtua yang mau mudik ke anaknya, nih?" Kepala saya sontak tergelitik.

Ya, benar. Kenapa tidak kalau peristiwa mudik dijadikan momen bagi para orangtua yang selama ini mengabaikan anak-anaknya untuk menemui anaknya di perantauan.

Orangtua tidak selalu benar. Kadangkala, orangtua harus legowo meminta maaf kepada anak-anaknya jika memang melakukan kesalahan.

"Tidak berharap mudik ke mana-mana. Udah nggak seru lagi mudik tanpa keluarga  yang utuh. Semua udah kepisah-pisah. Cukup di rumah mikir yang  indah-indah aja. Nggak mudik," kata SP.

"Nggak mudik. Bukan yang spesial lagi dan bukan yang ditunggu lagi," tambah DE.

"Jangankan  mudik. Lebaran bisa berkumpul aja nyatanya nggak mungkin. Padahal aku  rindu. Baru kali ini lebaran serasa hidup sendiri," keluh ER.

"Jangankan mudik, kami merasa nggak sanggup melewati Hari Raya," ujar SY.

"Mudik?  Haha, mereka berdua udah punya keluarga masing-masing, kalo kita datang  malah jadi perusak suasana, ntar kitanya malah dikacangin," keluh KT,  sedih.

"Enggak mudik. Cuman ngeliatin orang-orang pada mudik bareng keluarganya yang lewat depan rumah," ujar LY.

"Tahun ini enggak mudik, lebaran di kos, sendirian. Karena nggak kuat lihat di rumah," kata CH.

"Suka nyesek kalau lebaran, nggak bisa bareng-bareng kayak keluarga lainnya," kata RL. 

Ternyata permasalahan kebangsaan negara Indonesia tercinta ini bukan  melulu tentang infrastruktur, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, hingga  korupsi.

Banyak sekali warga negara yang tidak bahagia, sampai-sampai mudik lebaran pun tidak mampu karena keluarganya  berantakan dan tidak peduli.

Hipwee
Hipwee

Ilmuwan India, Amartya Sen, mengatakan bahwa fondasi dari kesejahteraan sosial adalah kebahagiaan individu.  Memang, tidak pernah ada pasangan yang menikah untuk bercerai atau membuat  keluarga kecilnya berantakan.

Tetapi seringkali banyak orangtua yang  alpa bertanggung jawab pada kebahagiaan anak-anaknya ketika memutuskan berpisah dengan pasangan, kemudian membangun keluarga baru. Padahal, kunci utama dalam menjaga ikatan antara anak dan orangtua yang tercerai  berai semacam ini hanya satu, yaitu komunikasi.  

Banyak sekali orangtua yang "MALAS" menjaga komunikasi dengan anak-anak mereka ketika telah berpisah dengan  pasangan dan memiliki kehidupan baru. Padahal, komunikasi merupakan  satu-satunya hal yang paling diinginkan anak-anak dari keluarga "Broken Home" semacam ini. Komunikasi merupakan salah satu bentuk kepedulian dan  kasih sayang meski memang terpisah jarak dan waktu. Bertanya, "Sayang, apa kabar? Papa/Mama rindu nih," atau "Nak, pulang ya, Bapak/Ibu rindu makan bareng kamu," merupakan hal yang paling dirindukan anak-anak yang berjuang menata  hidupnya diatas reruntuhan yang diciptakan oleh kedua orangtuanya. 

Dalam hal ini, pasangan yang telah berpisah seringkali "EGOIS" dengan meminta anak-anak mereka mengerti kondisi dan pilihan hidup  mereka.

Tetapi sebaliknya, mereka tidak berusaha untuk peduli pada  kondisi batin dan kebutuhan anak-anaknya akan perhatian-perhatian kecil  yang menjadi pengikat hubungan anak-orangtua.

Sebab, menjadi orangtua  bukan sekadar melahirkan dan memberi makan, juga memberi asupan nutrisi  ke dalam batin anak agar mereka merasa berharga, dicintai, diinginkan  dan dianggap ada. 

Jika  orangtua memilih tidak peduli pada kasus-kasus semacam ini, yang  diakibatkan oleh perbuatan mereka sendiri, maka dapat menyebabkan  anak-anak itu menjadi stress dan depresi. Apakah para orangtua harus  kehilangan anak-anak mereka oleh banyak sebab untuk membuat mereka sadar  bahwa menjadi anak dari keluarga "Broken Home" itu tidak mudah dan butuh mental yang kuat? 

Mungkin, selama ini para orangtua tidak menyadari bahwa pola komunikasi yang buruk antara orangtua-anak dapat memberi pengaruh jangka panjang secara psikologis, khususnya dalam hidup si anak.

Orangtua yang menyepelekan masalah komunikasi dalam hal pengambilan keputusan, memberikan wejangan, mendengarkan curhat anak, berdiskusi dengan anak atau sekedar menyatakan rasa sayang dan rindu berkontribusi dalam membuat si anak bermasalah dalam kehidupan sosial.

Anak dengan masalah komunikasi di lingkungan keluarga dan sosial bisa bermasalah saat memasuki dunia kerja yang kejam dan kompetitif.

Nah, kalau para pekerja di Indonesia bermasalah dalam hal komunikasi, bisa mengganggu kinerja dan menurunkan daya saing. Dampaknya jelas berbahaya bagi kondisi perekonomian nasional. 

Kok jauh banget sih pembahasannya? Ya, begitulah diri manusia yang unik. Segala sesuatu tentang manusia di mulai dari lingkungan masyarakat terkecilnya, yaitu keluarga.

Oleh, karena itu, masalah yang dianggap sangat personal dan tidak ada hubungannya dengan hajat hidup orang banyak ini bisa berdampak besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Akhir  kata, selamat merayakan Idul Fitri 1439 H dengan hati damai dan  gembira. Bagi yang merayakan bersama keluarga, bersyukurlah dan sayangi  mereka selagi ada untuk kalian.

Bagi anak-anak dari keluarga Broken Home tingkatkanlah ketabahan dan kesabaran kalian, semoga Tuhan memeluk hati  kalian dengan lembut.

Bagi para pasangan yang telah berpisah tetapi memiliki anak yang kalian abaikan sekian lama, hilangkanlah sikap  malas dan egois kalian, dan bertanggung jawablah pada anak-anak  kalian yang sedang berjuang keras melawan kesepian dan kesedihan tanpa  perhatian dari kalian sebagai orangtua. 

Sempat tidak sempat tetaplah peduli, cinta dalam keluarga haruslah abadi

BACA JUGA: 

Nissa Sabyan, Shalawat dan Pesan Perdamaian Universal

Bersyukur dan Menikmati Hidup yang Gembira