Sosbud Artikel Utama

Apakah Artis Dangdut Boleh Dilecehkan secara Seksual?

11 Juni 2018   22:20 Diperbarui: 12 Juni 2018   20:25 3134 11 9
Apakah Artis Dangdut Boleh Dilecehkan secara Seksual?
Kompas.com/Andy Mutia Keteng

Sebagai perempuan dan warga negara yang menjunjung tinggi kesopanan khas timur, saya tergelitik ngeri dengan pernyataan sejumlah netizen dalam merespon pelecehan seksual yang dialami Via Vallen. Respon tersebut kurang lebih menyatakan bahwa sebagai artis dangdut Via Vallen harus bersikap biasa saja jika dilecehkan, toh kan penyanyi dangdut.  Sejak kapan ada aturan yang menyebutkan artis dangdut boleh dilecehkan secara seksual? 

Padahal keberanian  Via Vallen si Ratu Dangdut Koplo dalam mengungkap pelecehan seksual  secara verbal yang dialaminya patut diacungi jempol. Itu sebuah tindakan berani dan  mencerdaskan. 

Terlebih karena selama ini artis dangdut dianggap 'bisa dan biasa' dilecehkan secara seksual. Padahal si artis nggak pernah menyatakan dirinya 'hey guys, lecehkan aku dong', nggak kan?

Sehingga sangat menyesakkan dada ketika para perempuan justru bersikap 'julid' dan 'victim blamming' (menyalahkan korban) dengan menganggap Via Vallen lebay, cari sensasi, tidak kuat mental sebagai artis terkenal, membesar-besarkan masalah sepele dan tidak mengerti gaya komunikasi orang asing terhadap perempuan. Beuh, apa mereka pikir orang asing otaknya mesum semua ya? Kaum 'julid' sepertinya kurang gaul deh. 

Memang pandangan di neger ini masih banyak yang menganggap bahwa artis dangdut itu cuma boneka hidup yang tidak memiliki perasaan.

Sehingga, praktik pelecehan seksual dianggap sebagai makanan busuk yang harus ditelan mentah-mentah sekaligus ujian dirinya atas figur publik dan seniman.

Padahal, menjadi penyanyi dangdut itu adalah sebuah profesi sebagaimana profesi lainnya seperti Pilot, Koki,  Pelukis, Ketua DPR, Pramuniaga, hingga Presiden.

Sebagai profesi, penyanyi dangdut berhak dihormati atas dirinya sebagai manusia dan karyanya sebagai produk seni.

Karenanya, saat kita melabeli penyanyi dangdut sebagai manusia murahan yang legowo menerima pelecehan  seksual sebagai bumbu kehidupan, mungkin isi kepala kitalah yang karatan dan memerlukan pengobatan di rumah sakit jiwa. 

Pelecehan seksual adalah masalah serius yang jika dibiarkan begitu saja akan berlanjut pada  praktek kekerasan seksual dan kejahatan seksual seperti pemerkosaan.

Jadi, jangan pernah main-main dengan isi kepala dan kata-kata kita soal  hal-hal berbau seksualitas tubuh lawan jenis. Berbahaya!

Namun, hal yang paling menarik perhatian saya selain keberanian Via Vallen dalam menyuarakan kehormatannya adalah respon netizen,  khususnya yang menganggap bahwa sebagai warga negara Indonesia Via  Vallen dianggap berpikiran tradisional dalam menanggapi godaan cowok berkebangsaan asing. 

Padahal, sejatinya, masalah pelecehan seksual di negara manapun aturannya sama saja, pelecehan ya pelecehan. Tidak ada ampunan hanya karena pelakunya orang asing berambut pirang atau  berhidung mancung. 

Dalam  masyarakat Indonesia yang menganggap budayanya lebih sopan dibandingkan  budaya bangsa-bangsa lain, persoalan seks dan seksualitas memang dianggap hal tabu untuk diperbincangkan di ranah publik. Dosa, itu  alasannya.

Padahal sikap ini kontras dengan kasus-kasus pelecehan hingga  kejahatan seksual yang lumayan tinggi. 

Masih ingat kasus pemerkosaan  YY, gadis 14 tahun yang diperkosa belasan temannya sendiri atau gadis  buruh yang diperkosa beberapa lelaki kemudian alat kelaminnya dimasukkan gagang pacul hingga menembus jantungnya?

Atau di antara kalian masih ada yang ingat dengan  kasus-kasus korban pemerkosaan yang dipaksa menikah dengan pemerkosanya sendiri? 

Lihat, apakah itu budaya ketimuran yang jauh lebih sopan dibanding budaya bangsa-bangsa lain di dunia? Tidak, kawan!

Pelecehan seksual tetaplah kejahatan mau itu pelakunya orang Indonesia, Arab,  Inggris, Belanda, Amerika, Afrika, Jepang, Russia bahkan Kutub Utara.

Dalam konteks lain, pakaian misalnya, perempuan juga sering disalahkan. Perumpamaannya, "Salah sendiri pakai rok mini, pantas diperkosa," atau "Yah elu mah pakaiannya terbuka gitu, wajarlah orang mikir mau merkosa," atau "Apa lo melawan gue? mau gue perkosa lo?" dan lain sebagainya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3