Mohon tunggu...
Widz Stoops
Widz Stoops Mohon Tunggu... Animal Lover

Smile! It increases your face value -www.tomcil.com

Selanjutnya

Tutup

Humor

Merah Merona Bawa Petaka!

1 September 2019   03:28 Diperbarui: 1 September 2019   05:34 0 10 6 Mohon Tunggu...
Merah Merona Bawa Petaka!
Sumber : Website Dreamstime.com

Tersebutlah sebuah negara kecil yang adil dan makmur. Semua penduduk di negara ini merasakan keadilan dan kemakmuran yang begitu benar-benar adil dan merata. Tidak ada penduduk yang lebih kaya atau miskin di negara ini. Semua sama!

Istilah kata, jika pemimpin negara ini mampu untuk membeli sepasang ekor kuda maka semua rakyat di negara ini juga mampu membeli sepasang ekor kuda, tidak peduli apapun mata pencaharian mereka. Keadilan dan kemakmuran yang merata memang sangat di junjung tinggi di negara ini.

Jabatan seorang hakim di negara kecil ini diangkat berdasarkan pilihan dari masyarakat untuk memastikan agar hakim yang terpilih nantinya benar-benar orang yang dipercaya oleh masyarakat dan dapat berlaku seadil-adilnya dalam setiap kasus yang ditangani.

Suatu ketika ada suatu kasus yang tengah menjadi pergunjingan diantara masyarakat setempat. Kuht-il yang berprofesi sebagai perampok mengalami patah tulang saat hendak merampok rumah Gohk-il . Adapun cidera patah tulang tersebut terjadi ketika Kuht-il dan kawannya mencoba memasuki rumah Gohk-il melalui jendela dan tiba-tiba jendela tersebut ambruk menimpa tangan Kuht-il hingga mengalami cedera patah tulang.

Sedangkan kawan Kuht-il mati karena kaget tertimpa oleh badan Kuht-il beserta jendela yang jatuh. Akibatnya, kini Kuht-il tidak hanya kehilangan kawannya tapi juga mata pencahariannya sebagai seorang perampok dan menuntut Ghok-il si empunya rumah ke meja pengadilan.

"Apa tuntutanmu kali ini Kuht-il?" Tanya hakim.

" Saya ingin menuntut Gohk-il, empunya rumah yang terletak di dekat kali Aja, tepat nya tiga rumah dari sebelah kiri pohon beringin, tuan hakim" Jawab Kuht-il sambil mengerang kesakitan.

"Apa pasalnya hingga kamu ingin mengajukan tuntutan itu Kuht-il?"

"Begini tuan hakim, profesi saya adalah perampok spesialis rumah. Pada hari minggu malam tanggal 18 Agustus kemarin, saat saya dan kawan hendak merampok rumah Gohk-il melalui jendela rumahnya, tiba-tiba jendelanya roboh, saya pun terjatuh dan jendela tersebut menimpa kawan saya yang akhirnya mengakibatkan kawan saya tewas karena kaget bukan kepalang.

Sedangkan saya cidera patah tangan. Untuk itu saya ingin menuntut Gohk-il sebagai pemilik rumah, karena ini adalah kesalahannya tidak memasang jendela rumah yang kokoh akhirnya mengakibatkan satu orang  mati dan saya menderita patah tulang.

Kini saya tidak cuma kehilangan kawan yang juga partner bisnis saya tapi juga  menyebabkan saya tidak bisa bekerja lagi dan kehilangan mata pencaharian!"

"Baiklah kalau begitu saya akan memanggil Gohk-il ke atas podium untuk mengajukan pembelaannya!" Begitu kata hakim sambil mengarahkan pandangannya kepada Gohk-il yang terlihat lunglai saat menuju ke podium.

"Tuan hakim yang saya muliakan. Maaf beribu maaf tuan hakim, saya tidak setuju dengan tuduhan ini. Kuht-il telah memberi tuduhan ini kepada orang yang salah!"

"Hmmhh.. apa maksudmu, Gohk-il? Menurutmu siapa sesungguhnya yang patut dituntut pada kasus ini? Tanya hakim.

"Menurut saya yang patut di tuntut disini adalah si tukang kayu, karena dia-lah yang memasang jendela tersebut dua minggu sebelum perampokan itu, tuan hakim. Bukan saya!" Ujar Gohk-il berapi-api.

"Sabar Gohk-il masalah seperti ini harus kita hadapi dengan tenang. Baiklah kalau begitu, sidang akan saya tunda untuk sementara sampai kita menemukan keberadaan si tukang kayu untuk hadir di sidang ini sebagai saksi!" Seru hakim sambil mengetuk palu menutup sidang sementara pada hari itu.

Selang berapa hari kemudian, sidang kembali diteruskan dengan hadirnya si tukang kayu sebagai saksi.

"Wahai tukang kayu, apakah benar anda yang memasang jendela di rumah Gohk-il?" Tanya hakim.

"Benar tuan hakm!"

"Coba jelaskan mengapa jendela tersebut sudah roboh padahal baru dua minggu dipasang!"

"Begini tuan hakim, pada saat saya memasang jendela rumah, tiba-tiba ada seorang wanita muda yang memakai baju merah merona lewat di depan rumah Gohk-il. Warna bajunya yang merah merona itu menarik perhatian saya sehingga saya hilang konsentrasi dan lupa memasang salah satu engsel jendela rumah itu, tuan hakim.

Namun menurut saya, semua ini adalah kesalahan si wanita muda berbaju merah merona, tuan hakim! Seandainya saat lewat rumah itu dia tidak memakai baju merah merona pasti konsentrasi saya tidak akan hilang dan saya akan fokus memasang jendela itu dengan baik dan benar tuan hakim" Jawab si tukang kayu dengan wajah menunduk.

"Hmmm .. baiklah kalau begitu. Sidang hari ini akan saya tunda lagi sampai wanita muda berbaju merah merona bisa hadir disidang ini sebagai saksi!" Ujar hakim sambil mengetok palu mengakhiri sidang di hari itu.

Keesokan siangnya sidang kembali dimulai dengan kehadiran si wanita muda berbaju merah merona yang kemudian diketahui bernama Chent-il di atas podium.

"Wow, wahai wanita muda, warna pakaianmu memang benar-benar menarik perhatian! Sekarang saya mohon anda menjawab dengan jujur apakah benar anda lewat di depan rumah Gohk-il saat tukang kayu ini sedang memasang jendela?" Tanya hakim.

Sambil tersipu-sipu Chent-il  menjawab pertanyaan hakim, "Benar tuan hakim, sayalah yang pada saat itu lewat di rumah Gohk-il, tapi maaf tuan hakim izinkanlah saya menjelaskan duduk perkaranya.Baju ini adalah satu-satunya baju favorit saya warisan dari kakak saya yang belum lama meninggal dunia. Adapun warna asli baju ini adalah putih.

Tapi karena biru adalah warna kesukaan saya , lalu saya meminta Thel-mee untuk mewarnai baju ini. Pada saat saya menerimanya kembali dari Thel-mee ternyata baju itu berwarna merah dan bukan biru seperti yang saya inginkan.

Sedangkan untuk membuang baju ini rasanya tidak mungkin, karena ini adalah baju peninggalan dari kakak saya. Jadi menurut saya yang patut di salahkan dalam kasus ini adalah Thel-mee sang pewarna baju, tuan hakim!"

"Walaah! Baiklah kalau begitu terima kasih atas kehadiran anda di sini. Setelah mendengar penjelasan anda, saya memutuskan untuk menunda sidang kembali hingga Thel-me sang pewarna baju dapat di hadirkan untuk dimintai keterangan pada sidang selanjutnya !" Seru Hakim sambil terus memandangi wanita berbaju merah merona itu.

Jelang tiga hari kemudian, sidang dilanjutkan dengan kehadiran Thel-mee.

"Apakah anda yang bernama Thel-mee sang pewarna baju?"

"Benar tuan hakim!"

"Coba jelaskan kenapa baju wanita muda bernama Chent-il di beri pewarna merah merona dan bukan biru seperti permintaannya?"

"Ampun beribu ampun tuan hakim, pada saat Chent-il  datang meminta saya untuk mewarnai bajunya, saya sedang kehabisan warna biru dan warna merah tinggal satu-satunya warna yang ada. Saya berpikir model baju dan warna kulit Chent-il lebih pantas memakai warna merah ketimbang warna biru, tuan hakim!"

"Hmmh... tahukah kalau keputusanmu untuk mewarnai bajunya dengan warna merah berakibat fatal?" Tanya hakim kepada Thel-mee

"Kok bisa, tuan hakim?" Thel-mee berbalik tanya.

"Karena keputusanmu itulah si tukang kayu tidak bisa berkonsentrasi dan memasang jendela dengan baik hingga mengakibatkan jendela roboh saat hendak dimasuki oleh Kuht-il dan kawannya. Kuht-il cidera patah tangan sedangkan kawannya akhirnya mati kaget saat tertimpa Kuht-il  dan jendela itu!"

Mendengar itu, Thel-mee hanya tertunduk diam.

"Baiklah, kini jelas duduk perkaranya! Dengan ini saya memutuskan saudara Thel-mee sebagai terdakwa dan bersalah dalam kasus ini. Karena keputusannya itulah yang akhirnya membawa kematian dan kecelakaan, untuk itu saya memutuskan hukuman yang setimpal untuk saudara Thel-mee adalah hukum gantung di depan umum. 

Adapun hukuman tersebut akan dilaksanakan tiga hari dari sekarang!" Tok! .. Tok! .. terdengar suara palu di ketok setelah vonis dibacakan sekaligus menutup persidangan hari itu.

Tiga hari kemudian terlihat masyarakat berkumpul untuk menghadiri hukuman gantung Thel-mee. Ada yang membawa bangku sendiri dari rumah, ada yang membawa tikar, bahkan ada juga yang membawa makanan dan minuman untuk kenyamanan mereka. Kuht-il, Gohk-il, si tukang kayu, Chent-il dengan baju merah meronanya bahkan sang hakim pun terlihat hadir pada acara  hukuman gantung itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x