Kesehatan

Penanganan Kematian Prematur Masih Jadi PR

6 November 2018   16:25 Diperbarui: 6 November 2018   16:46 166 1 1

Kematian adalah rahasia paling aman yang tak mungkin bocor. Tak ada seorangpun yang cukup kompeten untuk meramal kematian. Rahasia ini tak ubahnya seperti sebuah kejutan yang bisa menghampiri siapa saja dan kapan saja tanpa kenal usia, jenis kelamin, dan kondisi fisik.

Mereka yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit mungkin kerap dihantui bayang-bayang akan kematian yang terlihat dekat. Namun, sejatinya kita yang memiliki fisik sehat justru bisa saja berjumpa dengan kematian lebih dulu dibanding dengan mereka yang tengah berjuang melawan penyakit. Kembali lagi, rahasia tetaplah rahasia yang tak berhak kita ketahui.

Diantara banyaknya penyebab kematian di dunia, penyakit memang menjadi salah satu yang paling populer. Kondisi abnormal dari tubuh ini menyerang manusia karena banyak hal, seperti kekebalan tubuh sedang kurang baik, faktor genetis, hingga faktor eksternal seperti makanan yang dikonsumsi. Tercatat ada empat penyakit penyebab kematian tertinggi yang sulit ditangani di dunia, yakni kanker, gangguan pernapasan, gangguan kardiovaskular, dan diabetes. Total 7 dari 10 kematian di dunia disebabkan oleh empat penyakit tersebut.

Melansir CNNIndonesia, penelitian terbaru memprediksikan lebih dari setengah negara di dunia tak berhasil mengurangi kematian akibat empat penyakit mematikan tersebut. Padahal, seluruh negara di dunia yang menjadi anggota Perserikatan Bangsa Bangsa atau PBB telah berkomitmen untuk mencapai Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dengan meningkatkan kesehatan sebagai salah satu isinya.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menganalisis tingkat keberhasilan negara di dunia menangani ke empat penyakit penyebab kematian prematur (kematian dini) tertinggi tersebut. Analisa dilakukan berdasarkan perbandingan tingkat perubahan kematian sejak 2010 hingga 2016 di 186 negara, termasuk Indonesia. Hasilnya, hanya 35 negara yang berhasil mencapai target untuk mengurangi kematian dini pada perempuan, yang beberapa diantaranya adalah Korea Selatan, Singapura, Luksemburg, Norwegia, Selandia Baru, Rusia, Brasil, Qatar, dan masih banyak lagi.  Sementara 30 negara lainnya yang berhasil mengurangi kematian dini pada laki-laki yakni Islandia, Swedia, Norwegia, Jepang, Korea Selatan, Kanada, Luksemburg, Singapura, Belanda, dan masih banyak lagi.

Indonesia sendiri gagal masuk dalam kedua daftar tersebut. Hal ini bisa jadi karena kurangnya penanganan yang memadai. Katakanlah pasien yang menggunakan BPJS sebagai contohnya. Mereka yang menggantungkan harapannya dengan sebuah kartu umumnya kurang mendapatkan penanganan yang cukup, mengingat memang tidak semua penyakit bisa dicover oleh kartu BPJS. Namun, kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan untuk berobat membuat mereka terjebak dalam situasi yang memang benar-benar membutuhkan bantuan pemerintah seiring dengan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya.

Tak sedikit dari mereka yang pada akhirnya harus rela berdesak-desakkan di bangsal rumah sakit lantaran kamar yang tersedia biasanya berisikan banyak pasien. Selain itu, masih banyak biaya tambahan seperti biaya obat yang harus dikeluarkan. Penanganan yang kurang maksimal tersebut lambat laun akan berbuah pada kondisi yang semakin kritis dan pada akhirnya berujung dengan nyawa yang tak tertolong. Begitulah siklusnya.

Selain itu, banyaknya kalangan berduit yang memilih berobat ke luar negeri saat sakit parah membuktikan bahwa mereka lebih mempercayakan penanganan penyakitnya pada rumah sakit asing dibanding rumah sakit negaranya sendiri.

Kedua contoh tersebut cukup membuktikan bahwa Indonesia perlu membenahi layanan penanganan kesehatan agar semakin banyak jiwa yang bisa terselamatkan dari kematian prematur. Memang kematian adalah rahasia, namun penyakit adalah cobaan yang bisa diusahakan.