Widi Kurniawan
Widi Kurniawan Pegawai Kantoran

Blogger, senang menulis, jeprat-jepret, masak nasi goreng dan jalan-jalan ........ wdkrn.com

Selanjutnya

Tutup

Energi Pilihan

Masih Mau Pakai Gas Subsidi?

29 Oktober 2017   21:44 Diperbarui: 30 Oktober 2017   12:08 1867 1 1
Masih Mau Pakai Gas Subsidi?
Tabung Bright Gas warna pink ukuran 5,5 kilogram (foto: widikurniawan)

Pada suatu malam, setahun yang lalu, pulang kerja seharusnya saya langsung mandi, minum teh panas, makan sambil bercengkerama dengan anak dan istri yang seharian ditinggal mencari nafkah. Tapi impian sesederhana itu pun tidak menjadi kenyataan akibat satu hal yang cukup vital dalam rumah tangga, yakni ketika gas elpiji habis!

"Maaf Yah, tempenya baru mau digoreng gasnya udah keburu habis..." kata istri saya.

Apa mau dikata, gas elpiji 3 kilogram milik kami memang hanya bertahan maksimal dua minggu dan kami tidak memiliki cadangan. Akhirnya saya pun harus lari ke warung terdekat karena penjual gas langganan kami yang bisa pesan antar mengatakan tidak punya stok.

"Maaf Pak, gasnya habis," ternyata jawaban inilah yang saya dapatkan ketika mendatangi beberapa kios.

Malam semakin larut, sudah hampir jam 9 malam dan tubuh saya terasa makin lengket karena belum mandi. Pencarian pun saya lakukan dengan mengendarai sepeda motor, radius pencarian menjadi semakin jauh.

Bagaimanapun saya harus berhasil mendapatkan gas malam itu juga. Mungkin bisa saja saya menyerah dan berakhir dengan makan malam tanpa lauk tempe goreng favorit saya, tapi saya mesti memikirkan kebutuhan untuk esok paginya. Intinya saat gas habis, ritme kehidupan serasa oleng.

Saya sudah jauh menggeber sepeda motor dan hampir patah semangat, tapi tiba-tiba teringat sesuatu. Sebenarnya tak jauh dari rumah saya, meski beda RT, ada satu warung sayur yang buka sampai malam dan biasanya menjual gas melon juga.

Akhirnya saya pun balik arah dan berharap warung itu menjadi akhir dari pencarian saya. Syukurlah Mas Rohmat, pemilik warung itu, belum berencana menutup warungnya karena dia masih lembur mengupas kulit kelapa.

"Mas, ada gas?" tanya saya dengan nafas yang sedikit tersengal.

"Ada, tenang aja, masih ada tiga," jawabnya.

"Wah, saya lupa kalau sini buka sampai malam. Tadi nyari-nyari sampai jauh nggak ada yang jual, habis semua," ucap saya.

"Lha memang lagi susah stoknya, soalnya yang masih pakai gas melon kan banyak Mas, jadi cepat habis. Padahal tahu sendiri lah, ini kan barang subsidi, nih ada tulisannya 'Hanya Untuk Masyarakat Miskin'!"

Jujur saat itu kata-katanya bikin saya terhenyak. Memang selama ini saya tahu ada tulisan 'Hanya Untuk Masyarakat Miskin' pada tabung itu. Tapi tulisan itu saya hiraukan saja, seolah tidak masuk ke dalam benak saya dan saya anggap formalitas belaka.

"Kalau buat orang miskin kok sampeyan tetap mau jual ke saya?" saya mencoba bertanya untuk memancing reaksi Mas Rohmat.

"Gini aja gampangnya Mas, kalau situ beli berarti di mata saya situ memang masih miskin kok... Saya kan cuma kasihan sama situ, hehe..." ucapnya.

Jleb! Kembali kata-kata pemilik warung sayur itu menohok saya. Dalam hati saya malah terjadi perdebatan, sebenarnya saya ini miskin atau tidak sih?

Tabung gas bersubsidi ukuran 3 kilogram (foto: widikurniawan)
Tabung gas bersubsidi ukuran 3 kilogram (foto: widikurniawan)
Gara-gara Mas Rohmat, hari-hari berikutnya saya mencoba survei harga tabung gas 12 kilogram. Tapi kok rasanya sayang uangnya. Bisa jadi saya ini termasuk golongan masyarakat yang sebenarnya tidak mau dibilang miskin, tapi kaya pun tidak karena untuk membeli tabung gas 12 kilogram saja mikirnya terlalu lama.

Hari berganti, pekan berganti dan bulan berganti. Rencana untuk membeli gas 12 kilogram tidak kunjung terealisasi. Hingga akhirnya saya bersorak gembira ketika di sebuah warung kelontong terlihat tabung gas berwarna pink ukuran 5,5 kilogram. Inilah yang selama ini saya tunggu-tunggu karena saat itu beritanya sudah santer tapi belum nongol juga di lingkungan saya yang masuk wilayah Kabupaten Bogor.

Saya pun mampir untuk membeli tabung gas pink tersebut.

"Memangnya nanti stoknya ada terus nggak bu kalau mau isi ulang?" tanya saya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2