Mohon tunggu...
Widi Handoko
Widi Handoko Mohon Tunggu... Konsultan - Statistisi Ahli Muda

Data untuk kita

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Catatan Bencana Palu

1 November 2018   08:14 Diperbarui: 1 November 2018   08:16 292
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

28 September 2018, mutiara khatulistiwa terkoyak, diguncang gempa 7,4 SR. Saya yang berdinas di Kabupaten Boalemo, sekitar 540 km dari pusat gempa pun merasakan gempa tersebut. Tidak keras memang, namun terasa dan cukup lama. Saat gempa, saya sedang sholat magrib di mesjid. Sujud rakaat kedua tepatnya gempa pertama kali terasa, awalnya saya berpikir bahwa saya sedang pusing atau sakit kepala. Namun saya sadar saat duduk, bahwa ini gempa. Bimbang sesaat saat akan melanjutkan ke rakaat ketiga, namun tetap saya lanjutkan hingga selesai. Tidak lama selesai sholat, gempa sudah mereda, pikiran saya langsung membayangkan keluarga di rumah. Langsung selesai dzikir dan doa singkat, saya bergegas ke rumah, tidak seperti bayangan saya, ternyata istri tidak tahu kalau barusan ada gempa. Mungkin karena istri dan anak-anak di atas kasur jadi guncang gempa tidak begitu terasa.

Breaking news pun mengudara di berbagai stasiun TV, benar saja yang barusan saya rasakan adalah gempa yang cukup besar. 7,4 SR dengan pusat gempa di Donggala, Sulawesi Tengah. Peringatan dini tsunami pun diaktifkan, namun tidak lama dihentikan.

Lebih cepat daripada breaking news, video lewat WAG sudah bertebaran. Dan parah memang, bahkan tsunami pun cukup tinggi, sekitar 5 meter perkiraan saya jika dilihat dari video. Namun demikian, video gempa palu semakin banyak dan bervariasi, miris dan sedih melihatnya. 

Besok harinya ada video yang menampilkan rumah jalan, saya pikir awalnya karena tsunami ternyata bukan. Likuifaksi. Istilah baru bagi saya yang awam. Peristiwa likuifaksi itulah yang membuat rumah yang ada di video saya tonton berjalan.

Saya pikir kengerian gempa palu sudah selesai sampai rumah berjalan itu saja, tetapi tidak. Likuifaksi jauh lebih mengerikan dari pada perkiraan saya. 

Bagaimana tidak, dulu saya mengenal istilah "hilang ditelan bumi" sepertinya hanya ungkapan kiasan saja, di palu hal ini benar-benar terjadi. Bukan hanya orang, rumah beserta isinya pun ditelan utuh. 

Memang benar bencana di Palu dan sekitarnya sangat unik, beda dan mengerikan.

Belum selesai cerita mengerikan tentang gempa, tsunami dan likuifaksi berakhir, berderet cerita sebab musabab bencana tersebut banyak beredar. 

Nomoni, sebuah tradisi yang katanya mengandung syirik, disebut salah satu penyebabnya. Ada juga cerita kemaksiatan yang dilakukan penduduk di wilayah terdampak parah, mulai dari perjudian, minuman keras dan perzinahan, yang memicu azab.

Ramai dibahas sebab dari bencana tersebut, para pakar keilmuan geologi pun tidak mau ketinggalan. Para pakar menjelaskan sebab bencana Palu, mulai dari posisi lempeng sesar palu koro, yang membelah palu hingga ke lembah popikoro. Sesar palu koro sendiri membentang 500 km dari selat Makassar sampai pantai Utara Teluk Bone.

Sesar palu koro merupakan salah satu sesar yang paling aktif, dengan pegerakan sampai 44 mm pertahun, inilah yang menyebabkan Palu rawan gempa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun