Mohon tunggu...
Bambang Wibiono
Bambang Wibiono Mohon Tunggu... Buruh Sarjana | Penulis Bebas | Pemerhati Sosial Politik

Alumnus Ilmu Politik FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Menyingkap Makna di Balik Jilbab

19 Juni 2020   09:54 Diperbarui: 19 Juni 2020   10:02 52 1 0 Mohon Tunggu...

Oleh: Bambang Wibiono

_

Saya sempat berfikir saat membaca sebuah postingan berita atau mungkin gosip lebih tepatnya. Seorang teman membagikan berita itu di media sosial dan mungkin sudah di-share oleh ratusan orang di berbagai media sosial. Saya tidak perlu menyebutkan nama medianya disini. Sebuah postingan tentang seorang istri pengusaha kaya yang kepergok selingkuh. 

Diberitakan, sang suami yang mergoki istri sedang tanpa busana berdua dengan laki-laki lain. Sebenarnya itu hal yang umum dalam pemberitaan dan hal "lumrah" juga terjadi di sekitar kita. Yang menggelitik pikiran saya bukan soal selingkuhnya, tetapi dalam berita itu yang ditonjolkan adalah soal wanita berjilbab lebar. Dengan bahasa yang sinis dan terkesan menyindir simbol jilbab yang perilakunya tak pantas.

Pikiranku memaksa kembali mengingat teori-teori jaman masih kuliah. Teori tentang simbol, identitas, interaksionisme simbolik, dekonstruksi, diskursus sampai teori kekerasan simbolik ala Pierre Bourdieu kembali terngiang. Aahh, tapi lupa persisnya seperti apa teori-teori itu. Yang pasti, saat baca postingan berita itu, yang saya tangkap, ada simbol "jilbab" yang dimaknai sebagai identitas muslimah dengan predikat yang taat pada ajaran agama dan menjaga perilaku serta sikapnya. 

Terlebih lagi, ditulis bahwa oknum perempuan itu berjilbab lebar. Disini terlihat kesan ingin menelanjangi simbol "jilbab lebar" sebagai identitas "muslimah" yang ternyata berperilaku bejat. Boleh dibilang, ada kekerasan simbolik dalam frame artikel atau berita itu yang seolah ingin menuduh islami pun bisa bejat. Tak lupa ditampilkan postingan media sosial sang oknum yang selalu menulis tentang hal-hal ajaran Islam, bahasa sederhananya "postingan relijius".

Ada upaya dekonstruksi atau membongkar makna bahwa perempuan berjilbab belum tentu baik perilakunya. Ada yang bilang bahwa sebenarnya jilbab dan akhlak itu sesuatu yang berbeda. Tapi biarlah itu ranahnya para ulama untuk membenar-salahkan dengan dalil-dalil. Saya hanya ingin mengomentari soal simbol dan identitas yang ditampilkan.

Flashback

Kita kembali dulu pada masa beberapa dekade ke belakang. Saat kerudung atau jilbab masih menjadi sesuatu yang eksklusif dan seolah menjadi simbol perempuan yang islami. Bahkan sempat ada pandangan, orang berjilbab adalah orang yang fanatik dalam berislam. Sampai pemerintah melarang perempuan mengenakan jilbab/kerudung di instansi-instansi pemerintah. 

Bahkan untuk pas foto ijazah, dan kartu identitas lainnya tidak boleh mengenakan kerudung. Seiring berjalannya waktu, simbol jilbab pun diidentikkan dengan orang yang pemahaman dan ketaatan agama Islam yang khafah atau keyakinan yang sebenar-benarnya. Kalau umumnya perempuan tidak berkerudung, maka orang yang berkerudung dianggap antimainstream, diluar kebiasaan umum.

Konstruksi Makna Jilbab

Bagaimana makna jilbab dikonstruksi/dibentuk/dibangun dan berkembang sampai saat ini? Simbol jilbab dikonstruksikan sedemikian rupa lewat interaksi sosial, bahkan diperkuat dan dilanggengkan dengan kebijakan-kebijakan sampai muncul "kesepakatan bersama" seperti itu. Lambat laun, saat pemerintahan otoriter tumbang, stigma jilbab sebagai Islam fanatik mulai pudar. Bahkan kampanye soal jilbab mulai muncul diawali dari kampus-kampus. 

Kalau tidak salah ingat, kampanye soal jilbab mulai heboh sekitar tahun 1997-an dari masjid-masjid kampus. Sedikit demi sedikit mulai ada "negosiasi" makna jilbab, atau malah boleh dibilang rekonstruksi makna dari Islam fanatik menjadi hanya Islam. Dengan perubahan makna ini memungkinkan kaum hawa yang beragama Islam mulai memberanikan diri bersentuhan dengan jilbab. 

Tetapi tetap saja berjilbab masih menjadi simbol wanita Islam yang taat. Sehingga orang yang mengenakannya biasanya benar-benar sudah yakin dan telah melalui proses "pembersihan" diri dari sifat dan sikap tercela. Banyak diantara kaum hawa yang enggan berjilbab lantaran menganggap dirinya masih kotor.

Sebenarnya makna jilbab sebagai identitas muslimah yang taat dan terpuji laku pikirnya, jauh lebih baik ketimbang di negara asal kelahirannya, Timur Tengah sana. Jilbab, bagi masyarakat Indonesia jauh lebih mulia dan terhormat. Sampai-sampai tidak semua perempuan Islam berani mengenakannya, karena dianggap terlalu suci.

Dekonstruksi Makna

Makin lama, simbol jilbab itu pun mengalami pergeseran makna yang tentunya melalui proses "negosiasi sosial". Dekade belakangan ini sepertinya simbol jilbab didekonstruksi sedemikian rupa. Dalam waktu cepat, jilbab yang dulunya dianggap suci berubah menjadi trend mode atau gaya hidup perempuan. 

Dampak positifnya, jilbab mulai banyak dipakai berbagai kalangan, tak terkecuali juga anak-anak. Jilbab yang dulu dianggap antimainstream, justru sekarang menjadi mainstream kaum hawa masa kini. Tak peduli apa latar belakangnya, apa pekerjaannya, bagaimana perilaku kesehariannya, jilbab menjadi sesuatu yang jauh dan berbeda dari itu.

Jilbab mulai dimanfaatkan sebagai bisnis fashion. Jangan-jangan, malah kepentingan bisnis inilah yang menjadi dalang dekonstruksi makna dari simbol "muslimah taat" menjadi sekedar "pakaian" atau "aksesoris gaya hidup". Ada yang menyebut dengan sinis kondisi ini sebagai bagian dari kapitalisme religius. 

Karena perubahan makna ini pun, muncul istilah baru, "jilbab" dan "jilbob". Jilbab, dalam perbincangan di media sosial dimaknai secara positif. Sedangkan jilbob memperoleh stigma negatif, yaitu bagi mereka yang berjilbab hanya untuk tampil modis. Bahkan terkadang penjelasan untuk istilah ini, "atas ditutup, bawah dipamerkan". Entahlah.

Kembali pada kasus berita perempuan berjilbab lebar yang selingkuh. Mungkin oknum ini pun memiliki prinsip antimainstream dan juga sekaligus ingin menegaskan bahwa simbol jilbab, bahkan jilbab lebar yang identik dengan muslimah taat kembali didekonstruksi. Seolah dia ingin berkata, "jangan percaya pada jilbabku, pada postingan religius di media sosialku, karena aku juga manusia yang bisa khilaf dan mempunyai nafsu". Itu hanya imajinasi liar saya saja.

Terlepas dari itu, jika melihat fakta kekinian, bahwa jilbab sudah menjadi trend mode atau gaya hidup, seharusnya persoalan kasus asusila dan perselingkuhan yang dilakukan perempuan berjilbab lebar juga adalah kasus "wajar" dan "biasa". Tak perlu begitu sinis memojokkan agama tertentu dengan simbol jilbabnya. Simbol dan maknanya itu terbentuk karena interaksi dan kesepakatan kita bersama. Semua terserah ingin memaknai seperti apa. Begitulah kira-kira.
Sekian.

tulisan ini telah tayang di blog pribadi

VIDEO PILIHAN