Mohon tunggu...
Weinata Sairin
Weinata Sairin Mohon Tunggu... Teologi dan Aktivis Dialog Kerukunan

Belajar Teologia secara mendalam dan menjadi Pendeta, serta sangat intens menjadi aktivis dialog kerukunan umat beragama

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mewujudkan Kesalehan yang Konsisten

13 Mei 2021   09:46 Diperbarui: 13 Mei 2021   09:54 71 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mewujudkan Kesalehan yang Konsisten
https://0ikodomeo.wordpress.com/2017/10/06/hidup-saleh/

Vicit iter durum pietas.Kesalehan telah mengalahkan jalan yang sulit

Saleh adalah istilah yang amat populer dalam kehidupan bermasyarakat. Seseorang disebut saleh karaena rajin beribadah, setia menjalankan perintah agama, kerap melaksanakan perbuataan amal dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang juga disebut saleh karena ia aktif dalam berbagai aktivitas keagamaan, memberikan taushiyah ke berbagai tempat, menyampaikan ceramah agama, atau memiliki pondok pesantren dengan ribuan santri di dalamnya.

Acapa kali orang berbicara tentang adanya realitas dikotomis antara "kesalehan individual/ritual" dengan "kesalehan sosial". Seseorang dalam praktik memiliki kesalehan individual/ritual, ia amat fasih dalam melafalkan ayat-ayat kitab suci, tetapi pada sisi lain orang itu tidak peka terhadap masalah-masalah sosial yang ada, ia abai dan membisu terhadap masyarakat bawah yang terkapar dalam jeratan kemiskinan tanpa daya.

Sikap dikotomis dan polarisasi seperti itu yang ada sejak lama bahkan mendapat kritik pedas dari para tokoh. Lewat tulisannya, Nurcholis Madjid atau Munawar Sadzali mendorong agar ada sinkronisasi antara kesalehan individual/ritual dengan kesalehan sosial.

Di masa depan, tatkala seseorang sudah benar-benar memiliki sikap keberagamaan yang kuat dan matang, sikap dikotomis seperti itu seharusnya sudah terpupus. Kesalehan individual mesti membuah dan mewujud nyata dalam kesalehan sosial. Tidak boleh ada paradoks antara kesalehan individual/ritual dengan kesalehan sosial. Harus ada keseiringan antara kesalehan individual/ritual yang bernuansa vertikal-transendental dengan kesalehan sosial yang lebih diwarnai aspek horizon-imanen.

Kesalehan itu berarti taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah. Saleh juga dimaknai dengan suci, beriman, sikap ketaatan/kepatuhan menjalankan ibadah. Itulah rumusan-rumusan yang bisa kita temukan dalam KBBI. Penting kita menyimak pepatah yang dikutip di awal tulisan ini: kesalehan telah mengalahkan jalan yang sulit. Kesalehan, sikap religius yang kukuh, sikap keberagamaan yang matang, berpotensi untuk mengatasi jalan yang sulit. Dalam konteks itu, kesalehan memiliki makna positif, kesalehan menempatkan seseorang dalam relasi yang kuat dengan Tuhan sehingga mampu mengalahkana berbagai kesulitan hidup.

Pupuklah dan wujudkan hidup yang saleh, baik kesalehan individual/ritual maupun kesalehan sosial.
Secara signifikan kesalehan manusia itu mewujud pada aktivitas keagamaan, pada hari-hari raya keagamaan. Kesalehan itu seakan sirna atau tenggelam pada saat manusia bergulat dengan kehidupan riil diruang-ruang "sekuler". Sikap,diksi yang menjadi penanda kesalehan nyaris taknampak. Spirit dan roh kesalehan itu juga takberfungsi menjadi penuntun manusia dalam proses ia menetapkan sebuah keputusan.
Sebuah paradoks terjadi disitu, dalam diksi dan juga dalam tindakan.

Tindakan melawan hukum dalam beragam bentuk yang dilakukan seseorang adalah karena kesalehan itu mewujud secara parsial dan inkonsisten dalam kedirian seseorang.

Kesalehan,sikap keberagamaan mestinya terwujud konsisten, -kafah dan menjadi bagian integral dari identitas seseorang.

Hari-hari ini dalam balutan sukacita Hari Raya Idul Fitri dan Hari Kenaikan Yesus ke surga ada baiknya kita bertanya kepada diri kita sendiri :"apakah saya telah mewujudkan kesalehan konsisten, keberagamaan  yang kafah,menyeluruh?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN