Achmad Suwefi
Achmad Suwefi karyawan swasta

You will never walk alone

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Beberapa Alasan Liga Indonesia Tetap Dinanti Musim Depan

15 November 2017   13:43 Diperbarui: 15 November 2017   22:02 2284 10 3
Beberapa Alasan Liga Indonesia Tetap Dinanti Musim Depan
Foto: Tribunnews.com

Usai sudah gelaran kompetisi Liga1 musim 2017 dengan munculnya juara baru, Bhayangkara FC sebagai yang terbaik dari 18 peserta kompetisi. Bali United pun tampil sebagai runner up Liga1 disusul PSM Makasar, Madura United dan Persija Jakarta dalam klasemen akhir lima besar kompetisi. Banyak pekerjaan rumah yang harus diperbaiki PT. LIB selaku operator kompetisi yang ditunjuk PSSI jika ingin Liga1 kian menjual dan menarik musim 2018.

Permasalahan baru maupun yang masih terulang kerap terjadi di Liga1 musim 2017, permasalahan yang masih bisa dicarikan solusinya untuk membuat lebih baik dimusim depan. Permasalahan KITAS pemain kerap menjadi kisah di awal kompetisi, permasalahan gaji walau tidak separah musim-musim terdahulu, problem wasit yang masih terus terjadi walau sudah menggunakan wasit asing sekalipun. Kemudian regulasi pemain U23 dalam soal menit bermain bersama klub dan permasalahan lainnya yang bisa dipecahkan satu per satu.

Sebagai pendukung sepak bola nasional tentunya berharap Liga 1 mampu menjadi 'kawah candradimuka' munculnya pemain-pemain lokal dengan kemampuan teknik dan skill mumpuni sehingga mampu menjadi elemen Timnas Indonesia yang kompetitif dan bersaing dilevel internasional. Selain itu kompetisi Liga 1 juga menjadi ajang pemersatu semua kelompok suporter Indonesia, apalagi musim depan berpotensi memunculkan persaingan klub dengan basis suporter tinggi jika PSIS Semarang, Persebaya Surabaya dan Persis Solo lolos ke Liga1.

Lalu apa yang menjadi alasan Liga 1 tetap akan menjual dan menjadi 'komoditas' menarik dipersepakbolaan Indonesia dan Asia Tenggara. Berikut beberapa analisa penulis terkait hasil Liga1 musim 2017 serta potensi kedepannya.

Kompetitifnya Liga 1

Juara kompetisi ditentukan hingga pekan terakhir, itulah alasan kenapa Liga 1 lebih kompetitif dibanding Liga di kawasan ASEAN. Di lima besar klasemen hanya berjarak delapan poin antara Bhayangkara (68), Bali United (68), PSM Makasar (65), Persija Jakarta (61) dan Madura United (60). Sedangkan Persegres menjadi lumbung gol dengan kebobolan 104 gol dan sangat kontras bila dibandingkan dengan hegemoni Buriram United di Thai League musim 2017 ini.

Thai league 2017 masih menyisakan satu laga lagi namun Buriram yang unggul 14 poin dari Muangthong (69) telah memastikan gelar juara sekaligus tiket langsung ke fase grup Liga Champions musim 2018 mendatang. Sedangkan Super Power Samut Prakan menjadi lumbung gol selama Thai League 2017 dengan kebobolan 126 gol dan sekaligus menempatkan mereka dipapan bawah klasemen liga Thailand.

Topskor Tertajam di kawasan ASEAN dari Liga 1

Sylvano Comvalius tercatat sebagai topskor Liga 1 dengan 37 gol dari 34 laganya bersama Bali United yang sekaligus memecahkan rekor gol yang dicetak Peri Sandria saat berbaju Bandung Raya dengan 34 gol. Namanya bersanding dengan topskor Bangkok United, Dragan Boskovic yang juga mencetak 37 gol musim ini yang sekaligus mengantarkannya sebagai topskor Thai League musim ini.

Catatan 37 gol Comvalius pun tercatat tertajam di kawasan ASIA jika dibandingkan dengan topskor Arabian Gulf League (UEA), Ali Makhbout yang mencetak 33 gol musim. Namun torehan gol Maktoub secara rata-rata lebih baik dibanding Comvalius karena dicetak dalam 26 laga yang dimainkan di liga UEA tersebut. Tentunya menarik performance Comvalius di kompetisi Asia jika Bali United tampil serta mampu mempertahankan sang pemain di Bali musim depan.

Rata-rata Penonton Tertinggi di kawasan ASEAN

Untuk urusan rata-rata penonton, Liga 1 musim 2017 boleh berbangga hati karena menempati posisi teratas di ASEAN dalam hal jumlah penonton. Liga1 mencatatkan 8,708 penonton musim ini unggul dari Liga Super Malaysia (6,676), V league (5,634) dan Thai League (4,677). Laga Persib kontra Persija pun menjadi laga dengan penonton terbanyak dengan 36,545 penonton, unggul dari jumlah penonton yang menyaksikan laga Buriram vs Muangthong dengan 32,600 penonton.

Bahkan laga Persib kontra Arema pun melewati catatan laga panas Buriram vs Muangthong karena mampu menghadirkan 34,056 penonton. Namun jika dibandingkan dikawasan Asia, rata-rata penonton Liga 1 hanya kalah dari A league/Australia (12,294), J1 League/Jepang (19,899) dan China Super League (23,766). Untuk kawasan Asia tahun ini rata-rata penonton tertinggi terjadi di India saat gelaran Piala Dunia FIFA U17 dengan 25,906 penonton.

Penonton terbanyak musim ini di kawasan Asia menjadi milik laga Persepolis vs Padideh (80,000) disusul laga Western Sydney vs Sydney FC (61,880) dan Urawa Reds vs Kashima Antlers (57,447) serta laga Beijing Sunobo vs Guangzhou yang menyedot perhatian 54,108 penonton. Sedangkan final Piala Dunia FIFA U17 di India ditonton 66,684 penonton yang menyaksikan Inggris menjadi juara Piala Dunia U17 untuk pertama kalinya.

Jika untuk bertepuk tangan kita memerlukan dua tangan maka PSSI dan PT. LIB perlu masukan dari stakeholder sepakbola nasional agar kompetisi Liga1 musim depan kian menjual dan selalu dinanti pecinta sepakbola nasional. Bagaimana PSSI dan PT. LIB?