Achmad Suwefi
Achmad Suwefi karyawan swasta

You will never walk alone

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Mengenang Timnas U-19 di Piala Asia 1994 Silam

14 November 2017   20:10 Diperbarui: 14 November 2017   21:33 2887 11 5
Mengenang Timnas U-19 di Piala Asia 1994 Silam
Foto: Kompas.id

Jelang 18 tahun usia penulis waktu gelaran Piala Asia U-19 1994 yang digelar di Stadion Utama Senayan, Jakarta dan diikuti 10 negara termasuk Indonesia selaku tuan rumah. PSSI sedang membentuk Timnas Indonesia masa depan bernama Primavera (U-19) dan Baretti (U-16) di awal 1990-an silam. Sebelumnya PSSI pun telah membuat program Timnas bernama Garuda I dan II sedangkan Primavera /Baretti dikirim Italia untuk berkompetisi U-19 di negeri 'spaghetti' tersebut.

Timnas PSSI Primavera untuk Piala Asia U19 1994 beranggotakan pemain dengan kemampuan skillĀ yang cukup baik seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, Kurnia Sandy, Anang Ma'ruf dan Sugiantoro. Magnet Kurniawan 'Kurus' Dwi Yulianto malah cukup menggema terutama saat dirinya dibawa tur oleh Sampdoria ke Indonesia dan beberapa negara lainnya (kesempatan yang sayang untuk dilewatkan penulis kala itu dengan ikut berdesak-desakann di tribun stadion utama Senayan menyaksikan Kurniawan beraksi bersama Vialli hingga Mancini).

Piala Asia U-19 1994 menjadi kali kedua Indonesia ditunjuk AFC sebagai tuan rumah ajang dua tahunan tersebut (sebelumnya digelar setahun sekali). Di edisi 1990, Indonesia pertama kali menjadi tuan rumah yang digelar 3-15 November namun apa daya Indonesia gagal lolos kebabak semifinal usai menjadi jadi juru kunci grup. Tiga kekalahan harus dialami Timnas Indonesia yakni 1-2 (vs Qatar), 1-5 (vs Korea Uatara) dan 1-2 (vs India).

Putaran Final Piala Asia U19 1994 dimulai dengan laga yang mempertemukan Irak kontra Kazakhstan digrup A dan Irak sukses mengalahkan Kazakhstan 3-2 yang diwarnai dua gol Mushrif Amer. Laga kedua mempertemukan Indonesia yang diperkuat tim Primavera yang berkompetisi di Italia kontra Qatar. Di hadapan 50 ribu penonton yang memadati stadion Utama Senayan, Indonesia harus berterima kasih pada gol Kurniawan Dwi Yulianto yang menyelamatkan Indonesia dari kekalahan dan memaksakan hasil imbang 1-1.

Di laga kedua (15.09.1994) penampilan Kurnia Sandy dkk malah melempem saat berjumpa Suriah. Alih-alih memanfaatkan dukungan penuh penonton yang hadir, Indonesia justru harus kebobolan empat gol di babak kedua dari Suriah lewat gol Louay Thaleb, Nihad Boshi, Nader Jokhadar dan Mahmoud Mamalji setelah mampu menahan imbang 0-0 Suriah d ibabak pertama. Kemenangan yang membuat Suriah mantap di puncak klasemen grup A Piala Asia U19 1994.

Usai kekalahan 0-4 dari Suriah, Timnas Indonesia harus mampu menang atas Kazakhstan jika ingin lolos kebabak semifinal. Pola 4-4- 2 yang dikembangkan Danurwindo akhirnya mampu memberikan hasil positif usai Indonesia menang 3-0 dalam laga yang digelar hari sabtu (17.09.1994) di mana penulis kebetulan hadir menonton di sana lewat gol bunuh diri Nourlan Issaev serta gol dari duet striker Timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto dan Indrianto Nugroho.

Di laga selanjutnya 19.09.1994 dan dihadapan 45 ribu penonton, Kurniawan dkk berjumpa dengan Irak yang di laga sebelumnya membungkam Qatar 3-0. Lewat pertandingan yang ketat baik Indonesia dan Irak gagal mencetak gol di 2x45 menit laga berlangsung. Hasil yang membuat Indonesia gagal lolos ke babak semifinal Piala Asia U19 dari Grup A yang akhirnya meloloskan Suriah dan Irak untuk berjumpa wakil grup B, Jepang dan Thailand.

Suriah yang tampil selama fase grup A Piala Asia U19 1994 dengan mencetak 13 gol atau rata-rata 3 gol/laga akhirnya tampil sebagai juara Piala Asia U19 untuk pertama kalinya usai mengalahkan Jepang 2-1 di partai final. Di babak semifinal, Suriah yang dilatih Anatoli Baldachnyi sukses mengalahkan Thailand dengan skor tipis 1-0 dan ini menjadi catatan sejarah bagi Suriah karena untuk pertama kalinya sukses menjadi juara Piala Asia U19.

Lalu apa yang bisa diambil dari penampilan Timnas Indonesia Primavera selama gelaran Piala Asia U19 1994? Pastinya penampilan mereka cukup bagus dan mampu menerapkan apa yang diperoleh selama berkompetisi di Italia, hanya memanga ketidak stabilan mewarnai penampilan Kurniawan Dwi Yulianto dkk jika melihat hasil selama fase grup A yang hanya meraih satu kemenangan, dua hasil imbang dan satu kali kalah.

"Tim Indonesia sebenarnya tim yang kompak, tetapi tidak stabil dalam memainkan bola," ungkap striker Suriah yang bermain dalam kemenangan 4-0 atas Indonesia, Achmad Kurdachli kepada wartawan bola kala itu.

"Secara keseluruhan tim Indoensia bermain baik, namun kurang berani shooting jika berada digaris tembak,"ungkap Thavatchal Sajakul, wakil presiden FAT (Asosiasi Sepakbola Thailand) kala itu.