Mohon tunggu...
Hendra Wardhana
Hendra Wardhana Mohon Tunggu... soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita | www.hendrawardhana.com | wardhana.hendra@yahoo.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Musim Kudeta, dari Nissa Sabyan, AHY, hingga Kaesang

8 Maret 2021   08:35 Diperbarui: 16 Maret 2021   13:33 277 11 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Musim Kudeta, dari Nissa Sabyan, AHY, hingga Kaesang
Gambar Flyer Kursus Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Basic Factory -- Bersertifikat dari Tokopedia.com/Arkademi/sertifikasi

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum reda di tanah air, "kudeta" menyeruak sebagai pusat berita. Di banyak tempat orang-orang tiba-tiba bisa membincangkan "kudeta" dalam obrolan mereka. Sementara media-media, baik TV, radio, koran, media online, hingga media sosial intens membahasnya.

Kudeta memang sedang menjadi perhatian besar masyarakata Indonesia. Tak perlu jauh melihat ke Myanmar, tempat terjadinya kudeta oleh militer yang disusul dengan gelombang protes warga hingga mengakibatkan puluhan nyawa melayang. Sebab di Indonesia serangkaian kudeta juga tengah berlangsung dalam waktu yang berdekatan.

Tentu saja yang paling menghebohkan jagat politik nasional ialah kudeta yang menimpa Partai Demokrat. Sekelompok orang yang dimotori oleh sejumlah mantan petinggi partai yang  telah tersisih dan dipecat oleh AHY menggelar KLB di Deli Serdang pada Jumat (5/3/2021) lalu.

Dua keputusan besar diambil pada KLB tersebut. Pertama, mencopot AHY sebagai ketua umum Partai Demokrat. Kedua, memilih Moeldoko sebagai ketua umum yang baru.

Di tempat terpisah, kubu lainnya yang dipimpin oleh AHY menolak KLB Deli Serdang beserta segala hasilnya. KLB tersebut dianggap ilegal. Lebih jauh, AHY dan SBY menyatakan perang terhadap Moeldoko yang dicap sebagai perusak demokrasi berdarah dingin.

Kudeta oleh Moeldoko sebenarnya telah terendus sebelumnya seiring manuver sejumlah tokoh senior dalam Partai Demokrat yang memperlihatkan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan AHY dan dominasi SBY dalam tubuh partai. Sementara AHY melalui pernyataan terbukanya dengan tegas menuduh keterlibatan orang dekat Presiden Jokowi di lingkaran istana yang hendak mengambil alih kekuasaan Partai Demokrat.

Untuk beberapa saat, setelah sempat memantik kegaduhan, isu kudeta Partai Demokrat sedikit mereda. AHY mulai menurunkan tekanannya soal keterlibatan istana dalam intrik kudeta. Menurut AHY, Presiden Jokowi tidak tahu soal manuver Moeldoko. Begitu pula SBY yang meyakini integritas Jokowi masih terjaga, tapi tidak dengan Moeldoko.

Turunnya intensitas kegaduhan hanya berlangsung sesaat. Segera setelah tersiar akan digelarkan KLB di Sumatera Utara, isu kudeta kembali memanas. Hingga akhirnya KLB benar-benar terlaksana dengan terpilihnya Moeldoko sebagai pemimpin partai, gaduh soal kudeta Partai Demokrat tak lagi sekadar isu. Melainkan telah menjadi kenyataan.

Kini ada dua kubu kepemimpinan dalam tubuh Partai Demokrat yang saling berebut kuasa. Perang antara jenderal dan mayor berebut tahta partai politik. Moeldoko yang mantan Panglima TNI berhadapan mantan mayor, AHY. Di antara keduanya ada SBY, mantan presiden yang dulu mengangkat Moeldoko sebagai panglima.

Oleh karena itu, perebutan tahta dalam Partai Demokrat tidak sekadar perang pengaruh dan dukungan, tapi juga pertaruhan harga diri yang dikobari emosi. SBY yang marah jelas tidak akan tinggal diam membiarkan sang anak yang masih miskin pengalaman politik untuk berperang melawan Moeldoko.

Meski sebenarnya sangat baik jika AHY sepenuhnya mengandalkan kemampuan dirinya untuk melawan Moeldoko. Sebab jika berhasil mengatasi kudeta dalam tubuh partainya, itu akan menjadi kampanye citra yang sangat berharga bagi AHY sebagai modal bersaing dalam kepemimpinan nasional pada masa mendatang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x