Mohon tunggu...
Hendra Wardhana
Hendra Wardhana Mohon Tunggu... soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita | www.hendrawardhana.com | wardhana.hendra@yahoo.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Mbah Setiono dan Arti Uang Rp 5.000 di Car Free Day Solo

7 November 2019   08:40 Diperbarui: 9 November 2019   17:51 0 10 1 Mohon Tunggu...
Mbah Setiono dan Arti Uang Rp 5.000 di Car Free Day Solo
Mbah Setiono, berjualan bakso di Car Free Day Solo Jalan Slamet Riyadi pada Minggu (20/10/2019) (dok. pri).

Matahari mulai menyengat Minggu pagi itu. Waktu sudah mendekati pukul 09.00. Langkah saya pun sudah berjarak sekitar 2 kilometer jauhnya dari titik awal.

Mengasyikkan dan tak terasa melelahkan memang berjalan-jalan di Car Free Day Jalan Slamet Riyadi Kota Solo. Menurut saya ini tempat yang baik untuk berekreasi, berolahraga santai, maupun untuk memuaskan selera lidah kita pada beragam kuliner.

CFD Solo juga bisa mempertemukan kita dengan orang-orang baik. Orang-orang yang yang menjalani hidupnya dengan semangat positif meski mungkin tidak mudah. Orang-orang yang selalu memulai hari dengan niat baik dan menjalaninya demi mengupayakan hari berikutnya yang lebih baik. Salah satunya adalah Mbah Setiono.

Bukanlah sosoknya yang pertama kali menarik perhatian saya. Melainkan gerobak biru yang tampak rapuh dalam riuhnya CFD Solo.

Ketika beberapa langkah melewatinya saya memutuskan untuk berbalik karena mengetahui itu adalah gerobak bakso. Sudah agak lama saya tidak menikmati bakso dan sepiring pecel yang beberapa jam sebelumnya saya santap sudah tercerna sempurna. Saya sudah lapar lagi dan bakso di gerobak biru itu mengundang saya untuk mendekat.

Mbah Setiono sudah 4 tahun berjualan bakso (dok. pri).
Mbah Setiono sudah 4 tahun berjualan bakso (dok. pri).
Pada mulanya saya tak menemukan penjualnya. Hanya ada empat atau lima remaja yang sedang duduk lesehan menyantap bakso. Lalu Mbah Setiono muncul dari arah samping belakang saya.

Semangkuk bakso saya pesan kepadanya. Oleh karena tikar yang dihamparkannya sudah penuh diduduki oleh para remaja pembeli sebelumnya, Mbah Setiono memberi saya kursi plastik. Ia menaruhnya tepat di samping gerobak dan saya tidak menggesernya lagi.

Saat baru duduk, kaki ini hampir menginjak kantung plastik berisi arang. Itu membuat saya bertanya kepada Mbah Setiono. Rupanya ia menggunakan arang untuk memanaskan bakso dan kuahnya.

Mbah Setiono mengambil sebuah mangkuk. Mengelapnya sebentar dengan sehelai kain, kemudian ia masukkan mie bihun, tauge, potongan sawi, dan tahu. Berikutnya ia berikan beberapa butir bakso dari dalam wadah kuah yang disiramkan bersamaan ke dalam mangkuk.

Itu bakso untuk saya. Mbah Setiono menawarkan sambal, saus, dan kecap, tapi saya hanya mengiyakan yang terakhir.

Tak terlalu besar porsi semangkuk bakso dari Mbah Setiono. Namun, lebih dari cukup sebagai pelengkap rasa di CFD. Apalagi dalam semangkuk bakso itu ikut terbawa semangat Mbah Setiono menjalani hari tuanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2