Wardha Andriyuni
Wardha Andriyuni Mahasiswa

Hidup Seperti Semilir Angin, Menyejukkan Meski Hanya Sesaat. Menulis selagi masih bernafas.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Tentang Manuskrip yang Terabaikan, Belajar Budaya di Museum Sonobudoyo

8 November 2018   13:48 Diperbarui: 8 November 2018   17:59 324 7 1
Tentang Manuskrip yang Terabaikan, Belajar Budaya di Museum Sonobudoyo
dokpri

Sekitar 50 kompasianer Jogja mengunjungi Museum Sonobudoyo dalam acara Mengenal Peradaban Melalui Manuskrip. Acara terselenggara atas kerjasama antara Kompasiana, Kementrian Agama, dan Museum Sonobudoyo. Tujuannya untuk mengenalkan sejarah terutama dunia manuskrip kepada para blogger. 

Sebelum memulai materi, seluruh peserta berkeliling Museum Sonobudoyo ditemani pemandu. Ini kali kedua aku berkunjung ke Sonobudoyo. Tapi kali ini ditemani pemandu, jadi lebih banyak mendapatkan informasi soal koleksi museum.

Sonobudoyo merupakan museum sejarah dan kebudayaan Jawa yang dianggap paling lengkap setelah Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta. 

Selain benda-benda dari Jawa ternyata juga ada koleksi dari Bali. Kali ini kita berkunjung ke Museum Unit I, ada juga Unit II yang digunakan sebagai kantor dan tempat penyimpanan koleksi.

Museum Sonobudoyo Unit I terletak di Jalan Trikora No. 6 Yogyakarta, sedangkan Unit II terdapat di nDalem Condrokiranan, Wijilan, di sebelah timur Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. 

Sejarah awal mula adanya Museum Sonobudoyo adalah dari aktivtas Java Instituut, sebuah yayasan yang bergerak dibidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali, Madura, Lombok yang berdiri tahun 1919 di Surakarta.

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Jakarta No. 73, tanggal 17 Desember 1919 yang ditanda tangani oleh Sekretaris Umum G. Rd. Redtrienk merupakan jawaban Surat Dr. Hoesein Djajadiningrat dan Dr. F.D.K. Bosch tanggal 3 Oktober 1919. 

Surat Gubernur Jenderal tersebut memberikan wewenang kepada Java Instituut untuk melakukan kegiatan organisasi selama 29 tahun, terhitung mulai tanggal 4 Agustus 1919. Lama juga selama 29 tahun, hingga akhirnya memiliki banyak koleksi untuk menjadi sebuah museum. 

Pada akhir tahun 1974 Museum Sonobudoyo diserahkan ke Pemerintah Pusat/Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan secara langsung bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal dengan berlakunya Undang-undang No. 22 tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan kewenangan Provinsi sebagai Otonomi Daerah.

dokpri
dokpri
Ketika berkeliling museum, ruang pertama yang dijumpai adalah Ruang Pengenalan. Ruangan ini nuansanya remang-remang. Di atas pintu masuk menuju ke ruang pengenalan terdapat relief candrasengkala "Buta Ngrasa Esthining Lata". Ruang pengenalan berukuran 62,5 m2. 

Salah satu koleksi yang ada di ruang pengenalan yaitu pasren atau krobongan yang terdiri dari tempat tidur, bantal, guling, kasur, kelambu, sepasang patung loro blonyo, sepasang lampu robyong, dan sepasang lampu jlupak. Terbayang model kamar tidur jaman dahulu deh.

Bersama pemandu kami memasuki Ruang Prasejarah dan langsung menuju sebuah peti berisi replika tengkorak. Ada juga beberapa display bentuk tengkorak masa purba. 

Ruang ini berisi banyak benda peninggalan masa prasejarah yang menggambarkan cara hidup manusia pada masa itu meliputi berburu, mengumpulkan dan meramu makanan. Kamu bisa mengamati betapa jaman dahulu manusia purba bertahan hidup dengan peralatan yang sederhana mulai dari peralatan berburu dan bercocok tanam. Berbagai macam bentuk kapak ada di ruangan ini.

dokpri
dokpri

Dari jaman prasejarah kami memasuki jaman sejarah Islam di ruangan Klasik dan Peninggalan Islam. Pusat perhatian kami adalah ke daun lontar yang berisi catatan. Manuskrip yang akan menjadi bahan diskusi nanti.

Ada beberapa kelompok koleksi di ruangan ini yaitu: Sistem Kemasyarakatan, Bahasa, Religi, Kesenian, Ilmu pengetahuan, Peralatan Hidup, hingga Mata Pencaharian Hidup.

Puas mengagumi sejarah budaya Islam kami kembali ke nuansa Jawa. Ruang Batik yang memamerkan beberapa koleksi batik. Selain itu terdapat proses membatik yang di mulai dari pengerjaan pola sampai proses jadi sebuah batik. 

Kamu bisa melihat peralatan yang biasa digunakan untuk membati seperti tungku, canting dan kain. Kata pemandunya, jaman dahulu kegiatan membatik dilakukan oleh para puteri sebagai pengisi waktu dan mereka semua pandai membatik. 

Bahkan ketika galau gundah gulana mereka membatik atau mengekspresikan perasaan mereka menjadi pola batik. Wah.. sangat produktif.

dokpri
dokpri
Ruangan selanjutnya adalah ruangan Wayang dan Topeng. Berjejer tokoh-tokoh wayang yang baik dan jahat. Selain wayang kulit yang banyak kita kenal sekarang ternyata ada beragam jenis wayang yang lain. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2