Mohon tunggu...
Kris Wantoro Sumbayak
Kris Wantoro Sumbayak Mohon Tunggu... Guru - Pengamat dan komentator pendidikan, tertarik pada sosbud dan humaniora

dewantoro8id.wordpress.com • Fall seven times, raise up thousand times.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Jurus Jitu Belajar Bahasa: Dengar, Tulis, Lafalkan

25 Januari 2024   07:54 Diperbarui: 25 Januari 2024   07:54 143
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi murid melakukan presentasi | foto: cambridge.org

Kalau belajar bahasa, harus dilafalkan berkali-kali, supaya terbiasa. Demikian ujar temanku, guru bahasa.

***

Dulu, bahasa adalah pelajaran yang tidak masuk akal bagiku--kalau tak mau disebut sulit--selain Matematika. Betapa tidak, kalimat yang panjang bak kereta dalam baris-baris paragraf, kosakata asing macam tak ada penciptanya, dan kadang harus menghafal.

Konotasi, denotasi, homofon, homograf, gagasan utama, homonim, sinonim, antonim... Zzzzzz... Di mana letaknya pintu keluar ini...?

Tapi, semua berubah saat negara api menyerang. Entah bagaimana, sang waktu menyeretku di semesta pendidikan. Mengajar anak-anak. Meneruskan wawasan. Membobol belenggu kepicikan.

Syukur kepada Tuhan, aku mengajar tidak hanya di sekolah, tapi juga privat. Anaknya pun bukan cuma Indo. Ada satu muridku keturunan Indo-Cina, satunya lagi warga negara India. Pada keduanya aku harus mengajar memakai Bahasa Inggris, mapel yang diajarkan Matematika dan Bahasa Indonesia.

Murid India ini menjadi satu jawaban doaku. Suatu waktu, aku berdoa ingin punya murid yang benar-benar mau belajar Bahasa Indonesia, meski aku sendiri tidak mahir. Mau mahir bagaimana, sedang masa sekolah pun aku bergesekan dengan bahasa.

Pas sekali, muridku ini pindahan dari Sekolah Internasional (kurikulum Amerika) ke sekolah nasional (sekolah tempatku mengajar) dengan bahasa Inggris sebagai second language.

Memangnya aku jago Bahasa Inggris? Jelas tidak. Tahu sedikit. Dari mana bisa tahu? Dulu pernah ada mata kuliah umum Bahas Inggris. Lebih banyak adalah menonton film dengan subtitle Bahasa Inggris. Selebihnya aku mendengar langsung bagaimana teman-temanku menuturkan kosakata sehari-hari.

Mengajari bahasa Indonesia untuk anak yang berbahasa Inggris, aku sanggup mengajarnya. Mengajar Matematika--ibu semua subjek--juga begitu. Hukum dasarnya sama, hanya beda bahasa.

Aku membahas muridku khusus yang belajar Bahasa Indonesia, orang India. Dulu, aku melihat orang India cuma di TV. Kini, orang India itu di depanku, muridku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun