Mohon tunggu...
Wahyu Saripudin
Wahyu Saripudin Mohon Tunggu...

Trainer di Cahaya Renaisans (training motivasi, publik speaking, kepemimpinan)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menjadi Aktivis yang Dirindukan Umat dan Bangsa

19 September 2015   23:10 Diperbarui: 20 September 2015   07:27 123 0 0 Mohon Tunggu...

Bulan ini (September 2015) merupakan bulan pertama bagi para mahasiswa baru (MABA) di perguruan tinggi, khususnya di wilayah Jawa Barat. Pada fase ini, mahasiswa masih beradaptasi dengan perubahan dari Siswa menjadi Mahasiswa. Selain adaptasi perubahan, mereka pun mulai menjajaki karakter atau tipe mahasiswa apa yang akan mereka pilih. Seperti yang kita ketahui, ada berbagai tipe mahasiswa. Yang paling populer di kalangan kita, diantaranya: mahasiswa tipe "kupu-kupu" (kuliah pulang-kuliah pulang), ada mahasiswa tipe "kunang-kunang" (kuliah nangkring- kuliah nangkring), ada juga tipe "kura-kura" (kuliah rapat- kuliah rapat), tipe ini yang kita kenal dengan “Aktivis”. Tipe manakah yang akan mereka pilih? Tentu, hal ini akan bergantung pada dengan siapa mereka berkelompok, adakah seniornya yang mengarahkannya? Atau bahkan meskipun berbagai informasi tentang kemahasiswaan telah di dapat tapi hidup penuh dengan foya-foya yang akan mereka pilih? 

Akhir-akhir ini, mahasiswa nampaknya banyak memilih menjadi tipe mahasiswa kupu-kupu. Hal ini dikarenakan adanya settingan kampus yang ingin menciptakan mahasiswanya sibuk dengan tugas-tugasnya sehingga kondusifitas kampus terjaga dengan sedikitnya ruang gerak mereka untuk mengkritisi dunia sekitar. Tapi, selain itu ada juga hal lain yang mendasari MABA memilih tipe kupu-kupu, yaitu adanya fenomena banyak para aktivis ormawa yang menjadi MA (Mahasiswa Abadi) bahkan banyak yang sampai drop out.

Memang banyak di antara para aktivis organisasi mahasiswa yang lupa akan tujuan utama mereka menjadi mahasiswa atau dalam bahasa sunda dikenal dengan istilah "cul dog dog tinggal igel". contohnya, mereka terlena dengan berorganisasi lupa dengan kewajiban akademik mereka. Tetapi tidak sedikit pula, para aktivis yang berprestasi dan lulus dengan tepat waktu. Namun, Jujur kita akui, memang masih banyak di antara kita (para aktivis) yang memiliki kebingungan dalam memanej waktu antara bergulat dengan kesibukan sebagai aktivis dan memenuhi berbagai tanggung jawab akadmik. Tetapi di sinilah seninya, di satu sisi kita harus menjadi macan kampus dengan terkaan intelektual dan karya-karyanyanya. Namun, di sisi lain kita harus menjadi garda terdepan dalam pengabdian untuk umat dan bangsa. Disinilah seni nya kita menjalani kehidupan sebagai aktivis yang akdemis.

Ada tahapan yang patut dijadikan pegangan dan pedoman bagi para MABA jika memilih tipe mahasiswa kura-kura atau menjadi aktivis organisasi, tahapan ini  tertuang dalam misi sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebagai berikut: terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridloi Allah SWT. Intinya, bahwa seorang aktivis mahasiswa itu harus menjadi macan kampus dalam hal akademik, menjadi garda terdepan dalam hal penciptaan karya dan inovasi, menjadi panglima dalam hal pengabdian kepada umat dan bangsa, serta semua gerak langkahnya dipenuhi dengan nilai-nilai Islam maka pada akhirnya masyarakat adil makmur yang kita cita-citakan dapat terwujud.  

Menurut Saya, Mision HMI ini merupakan tahapan menuju aktivis sejati yaitu aktivis yang dapat bertanggung jawab untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang di ridloi Allah SWT. Jika kita kaji lebih dalam, pembinaan insan akademik disebut yang pertama.

Hal ini dikarenakan akademik merupakan dasar dalam menjalankan perubahan yang dicita-citakan. Seorang akademisi tentunya adalah seorang ilmuan, atau dalam konteks bahasa arab menjadi "ulama", orang yang berpengetahuan/ orang yang berilmu. Dengan ilmu lah segala aktivitas akan berjalan dengan baik, bahkan dalam konteks ukhrawi pun hanya dengan ilmu lah amal kita akan diterima, sebaliknya orang yang tidak berilmu segala perbuatannya tidak akan diterima baik dalam konteks dunia maupun dalam konteks ukhrawi. Sebagaimana Ibn Ruslan dalam sya'irnya : wakulluman-wakulluman ya'malu bighairi ilmu, amaluhu-amaluhu mardudatun la tuqbalu. yang artinya "setiap orang yang melakukan perbuatan tanpa dibarengi ilmunya, maka perbuatanya itu hanya akan sia-sia di tolak tidak diterima". Jadi penguasaan ilmu (insan akademik) merupakan landasan untuk kita dapat melakukan perubahan yang dicita-citakan.

Penguasaan akademik ini menjadi alat dalam menjalankan perubahan besar. Jika aktivis melupakan akademisnya, maka dia merupakan pemimpi di siang bolong. Bisa Anda bayangkan seseorang yang berjuang di medan pertempuran tanpa membawa senjata atau tidak memiliki pengetahuan bertempur? Tentunya dia akan mati konyol, bukan? Pun demikan dengan aktivis yang lemah akademiknya. Disaat dia mencita-citakan perubahan besar tetapi perubahan kecil pada dirinya sendiri tidak bisa dilakukan, yang terjadi adalah kebingungan bahkan dia pun bisa “mati konyol” dalam konteks sosial. Maka daripada itu penguasaan akademik tidak bisa ditawar-tawar lagi bagi maba sebelum terlibat dalam perjuangan besar menuju perubahan.

Menurut pengamatan saya, ada dua skill yang harus menjadi dasar bagi MABA dalam pembinaan insan akademik ini, yaitu: Pertama, penguasaan bahasa Arab dan Inggris, karena  untuk konteks sekarang gudang ilmu masih dikuasai barat dan timur tengah maka kuncinya adalah menguasai bahasanya. Jika kita merasa belum memiliki skill ini, segera focus dan dalami kedua bahasa ini di tahun pertama. Bahkan skill ini menjadi kunci untuk perubahan diri kita. Contohnya, untuk mendapatkan beasiswa nanti s2 hampir semua pemberi beasiswa menyaratkan si pelamarnya mahir salah satu bahasa tersebut.

Kedua, teruslah berlatih menulis. Skill menulis ini merupakan skill yang juga harus dimiliki seorang akademisi untuk menuju tahapan aktivis berikutnya. Kemampuan menulis perlu latihan yang panjang, ketekunan dan tentunya harus memiliki kebiasaan membaca. Jadi secara tidak langsung, kemampuan menulis erat kaitannya dengan budaya membaca kita. Banyak di antara para aktivis yang tidak memiliki kemampuan ini sehingga jangankan melakukan perubahan besar, untuk dapat menulis makalah tugas dari dosen saja sudah tidak berdaya. Kemampuan ini juga akan mengantarkan kepada tahap selanjutnya yaitu insan pencipta. Dengan menulis kita dapat menciptakan karya yang bermanfaat bagi umat dan bangsa bahkan bisa melakukan perubahan besar dengan tulisan-tulisan yang inspiratif yang dapat merubah pola pikir masyarakat yang lebih luas.

Dengan kedalaman ilmu yang diperoleh serta kuatnya skill-skill dasar yang dimilikinya, maka kita akan menuju fase insan pencipta. Di sinilah aktivis sejati memulai gerakan perubahannya dengan karya-karyanya dan menjadi problem solver ditengah hiruk pikuk permasalahan umat dan bangsa. Di sini lahirlah para penulis-penulis handal yang dapat menyampaikan kritik-kritiknya dengan goresan tinta yang menarik, lahir pula inovator-inovator ulung dengan kedalaman ilmunya. Aktivis yang seperti ini yang didambakan umat dan bangsa.

Selanjutnya, ketika aktivis telah memiliki kedalaman ilmu, memiliki karya dan inovasi maka barulah kita terlibat dalam pengabdian nyata kepada masyarat. Mengabdikan semua jiwa dan raga kita untuk umat dan bangsa. Di sinilah misi perubahan itu terimplementasikan. Dengan kemampuan dan karya yang kita miliki kita bisa menjadi pemimpin ditengah masyarakat memberikan secercah cahaya menuju pencerahan. Maka dari proses inilah kita dapat menjalankan tanggung jawab kita menjadi garda terdepan dari perubahan besar menuju masyarakat adil makmur yang diridloi Allah SWT.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x