L. Wahyu Putra Utama
L. Wahyu Putra Utama Editor Buku, Penulis, Kolumnis dan Pengajar

Literasi dan Peradaban

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Paradigma Transformasi Pendidikan, dari Konseptual-Pedagogis menuju Pragmatisme

15 Maret 2019   16:48 Diperbarui: 15 Maret 2019   19:01 176 4 3
Paradigma Transformasi Pendidikan, dari Konseptual-Pedagogis menuju Pragmatisme
Sumber ilustrasi: youthmanual.com

Dalam kaidah masyarakat tradisional perguruan tinggi merupakan akses tunggal untuk menggapai kesuksesan, sebuah instutusi agung yang membentuk karakter setiap individu.

Kerangka dasar dari institusi ini adalah memproduksi intelektual sehingga para lulusan bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa. Benak masyarakat tradisional meyakini, perguruan tinggi itu adalah pembawa misi suci yaitu mencetak generasi bangsa yang cerdas, bermartabat dan berguna bagi tanah air.

Paradigma seperti di atas nampak sudah usang. Patron klasik itu kini telah mengalami pergeseran di mana tak mampu lagi mempertahankan pondasinya sebagai institusi pencetak pengetahuan.

Justru, kini kampus sama dengan pasar di mana segalanya diperhitungkan berdasarkan kalkulasi kebutuhan pasar atau bahkan kampus adalah ladang bisnis untuk meraup keuntungan, bukan bermaksud untuk mengklaim secara umum, melainkan kita terkadang menemukan lembaga pendidikan yang kehilangan marwahnya, kehilangan identitaasnya sebagai produsen pengetahuan.

Tantangan kita hari ini ada dua, pertama bergesernya paradigma pendidikan, mahasiswa harus mengubah cara berfikir, bahwa pendidikan itu hari ini harus memenuhi dua unsur, yaitu wawasan keilmuan dan pangsa pasar.

Bagi masyarakat lokal, telah terjalin sebuah norma sosial yang meyakini bahwa menuntut ilmu akan menuntun kita untuk memperbaiki hidup dan kesuksesan hanya bisa dicapai melalui pendidikan. Ungkapan tersebut, tidak salah, tapi cara pandang itu telah bergeser, yaitu belajar di perguruan tinggi harus mempertimbangkan ruang kerja, potensi lulusan dan kebutuhan pasar (marketable).

Realitas yang kita hadapi hari ini yaitu adanya gap (jarak) antara kebutuhan pasar dengan potensi lulusan. Corak demografi pendidikan kita melimpah pada satu sektor yaitu sektor guru dan menyebabkan lembaga pendidikan tak lagi mampu menampung kuantitas lulusan di sektor tenaga pendidik.

Membludaknya lulusan sektor pendidikan karena beberapa alasan antara lain, hadirnya sebuah keyakinan tunggal terutama pada masyarakat lokal (pedesaan), anak-anamknya harus berkecimpung pada sektor pendidikan terutama (guru) bahwa jika orangtua guru, maka anak pun harus guru sehingga bisa dikatakan hampir 70% lulusan perguruan tinggi didominasi oleh lulusan pendidikan.

Realitas menuntut kita untuk memahami bagaimana mekanisme kehidupan. Begitu pula dengan pendidikan, zaman berubah, gaya dan pemikiran masyarakat mengalami perkembangan, intervensi pemerintah dalam pendidikan masuk di semua lini kehidupan.

Ada kampus yang fokus pada dunia kerja, ada pula yang mempertahankan landasan filosofisnya, tapi dalam waktu mendatang, institusi pendidikan yang hanya mempertahankan rasa filosofisnya akan terpuruk atau bahkan sepi peminat, saatnya generasi mulai mengubah paradigma berfikir, pun demikian perguruan tinggi dan terutama negara.

Melalui intervensi negara, maka tugas negara adalah mengakomodir dan mensosialisasikan serta mengelola lulusan perguruan tinggi. Karena bagaimanapun, tugas utama pemerintah yaitu menciptakan lapangan pekerjaan bagi para lulusan serta memperbaiki sistem. Sementara institusi, terus berinovasi agar peserta didik diarahkan pada keahlian yang dipersiapkan di dunia kerja.

Bagi, mahasiswa tak lagi terkungkung pada paradigma tradisional yang dimaksud, ia dituntut sekaligus mengemban tugas untuk terus berinovasi, berkompetisi tidak hanya untuk bekerja tapi menciptakan peluang kerja. Jadi, tugas utama mahasiswa tidak hanya mencerdaskan, tidak pula sebatas pemain, melainkan ia adalah penggerak utama roda pemerintahan. Intinya, kita (mahasiswa) dituntut multitalenta, punya banyak keahlian.

Tantangan Kita di Era Desrupsi

Kita sedang menapaki sebuah masa yang disebut era disrupsi atau ketiadakpastian. Arus informasi, perkembangan teknologi dan pemanfaatnya, monopoli pasar dan minimalisasi peran manusia. Gambaran sederhananya adalah, semua serba digitalisasi, sentralisasi dan (isasi) lainnya. Diperkirakan, satu dekade ke depan, manusia diganti dengan humanoid (robot) hal itu jelas mulai nampak di beberapa negara maju.

Tidak hanya itu, tantangan besar lainnya yaitu revolusi industri 4.0. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, revolusi industri 3.0 sudah lebih dari cukup, tapi apalah daya, dunia ini penuh dengan persaingan.

Menurut saya, revolusi industri 4.0 adalah bentuk dari intimidasi dari negara-negara maju. Dalam teori sosiologi, kita pahami bersama ada pemisahan yang jelas antara negara-negara maju dan negara berkembang. Bahkan, negara berkembang disebut Dunia Ketiga, yaitu potret negara agraris yang masih berbenah untuk memperbaiki sektor sosial, politik dan ekonomi.

Jika negara maju, sudah siap menghadapi kompetisi, maka negara berkembang termasuk (Indonesia) agaknya sulit untuk menghadapi kompetisi alot ini. Namun, sebagai sebuah produk global, Indonesia harus siap menghadapi kompetitor kuatnya, meskipun tertaih atau bahkan merangkak. Perlu kita memikirkan sebuah solusi, sebagai upaya kesiapakan kita dalam menghadapi persaingan itu.

Secara intern, ada tiga komposisi yang harus dipersiapkan, pertama memperbaiki dan memperkuat sistem. Baik dari sektor ekonomi, begitu pula dalam sektor pendidikan seperti pendidikan vokasi yang menunjang penguasaan keahlian.

Kedua, sektor institusi pendidikan, melalui integrasi program studi. Langkah ini nampaknya sudah dilakukan, perguruan tinggi Islam misalnya, membuka prodi rumpun keilmuan umum. Ketiga, sektor Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu mahasiswa yang dituntut untuk memiliki keahlian khusus.

Negara, institusi pendidikan dan mahasiswa merupakan trilogi dasar negara. Negara makin baik, apabila institusi pendidikan menopang kemajuan. Sebaliknya, negara akan rapuh apabila institusi pendidikan dan sumber daya kurang memadai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2