Mohon tunggu...
Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Mohon Tunggu... Penulis

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Cahaya Kejujuran

4 Juli 2019   09:25 Diperbarui: 4 Juli 2019   09:31 0 9 4 Mohon Tunggu...
Cahaya Kejujuran
Sumaryanto, penjaga malam di kampung saya, merupakan orang yang jujur. (Foto: Dokumentasi pribadi).

Saya mengenal Sumar, awalnya sebatas petugas keamanan RT di tempat tinggal saya. Menyapa jika bertemu, beberapa kali memberi tambahan uang saku untuknya. Semua berjalan biasa. Hingga saat kemarin di akhir bulan Ramadan.

Ada sebuah peristiwa yang membuka mata, bahwa ia adalah seorang yang jujur dan saya patut mengapresiasinya.

Sehari sebelum lebaran, saya dan keluarga mudik. Berangkat dari rumah pukul dua siang. Segala persiapan dilakukan. Memang agak ribet dalam mempersiapkannya. Mulai dari baju, makanan, oleh-oleh, dan lainnya. Karena memang mudik lebaran itu berbeda dengan hari biasa.

Ketika sampai, kami bertemu dengan orangtua dan saudara. Alangkah senangnya, bersuka ria, menyambut datangnya Idul Fitri di kampung. Gema takbir mengalun sepanjang malam.
Akhirnya kami beristirahat.

Saat terbangun pukul 12 malam, saya dikejutkan oleh pemberitahuan dari tetangga, bahwa pintu depan rumah kami masih terbuka. Kejadian itu membuat kami terperanjat. Astagfirullah. Kami lupa menutup pintu. Terbuka lebar dan tidak terkunci! Meskipun pintu pagar sudah digembok.

Tentu saja membuat gaduh para tetangga yang kebetulan tidak mudik dan petugas keamanan. Sumar itulah yang pertama kali mengetahui bahwa pintu rumah kami terbuka. Pria yang bernama lengkap Sumaryanto adalah seorang yang jujur. Ia sebagai petugas keamanan RT di lingkungan kami sudah lima tahun.

Kondisi rumah ketika saya dan keluarga mudik ke kampung halaman. Pintu masih terbuka dan tidak terkunci. Betapa cerobohnya. Karena kejujuran Sumar sang penjaga malam, Alhamdulillah tidak ada barang yang hilang dan aman. (Foto: Dokumen pribadi).
Kondisi rumah ketika saya dan keluarga mudik ke kampung halaman. Pintu masih terbuka dan tidak terkunci. Betapa cerobohnya. Karena kejujuran Sumar sang penjaga malam, Alhamdulillah tidak ada barang yang hilang dan aman. (Foto: Dokumen pribadi).
Pada malam itu, seperti biasa ia berkeliling untuk mengecek keamanan. Menurut ceritanya, sebenarnya sejak Magrib, ia sudah melihat pintu rumah kami terbuka. Ia mengira, kami sekeluarga masih ada di rumah.

Ketika balik lagi pukul sepuluh malam, pintu masih saja terbuka. Ia sudah sedikit curiga, tapi belum mengambil keputusan, karena masih mengira ada orang di rumah. Hingga akhirnya pukul setengah dua belas malam, ketika pintu masih dalam posisi semula, ia curiga.

Akhirnya ia memberitahu Pak Gun, tetangga sebelah untuk mengecek bersama. Karena harus melompat pagar, maka perlu bukti. Difotolah rumah kami. Lalu mereka meminta izin untuk masuk rumah.

Kami yang sudah terlelap pada saat itu, tidak mengetahui ada telepon. Akhirnya sepakat, dibantu beberapa tetangga lainnya yang kebetulan malam itu ada di lokasi, mengecek ke dalam.

Mereka membawa peralatan pentungan, masuk ke rumah. Tujuannya waspada, karena siapa tahu ada orang asing yang berniat jahat di dalam rumah. Semua sudut rumah diperiksa. Hasilnya nihil. Tidak ada orang. Kesimpulannya, kami memang lupa menutup pintu dan menguncinya. Alhamdulillah, tidak ada barang yang hilang.

Akhirnya, pintu ditutup, dikunci dari dalam oleh Sumar, karena kebetulan pintu ada gerendel dari dalam. Lalu ia keluar dari pintu dapur yang masih ada kunci yang menempel dan mengamankannya.

Baru pukul dua belas malam, ketika saya terbangun, membuka ponsel, terkejut. Saat itu pula kami memutuskan kembali ke rumah. Karena tidak enak hati, telah membuat gaduh tetangga dan petugas keamanan.

Alhamdulillah, kami antar tetangga menjaga hubungan baik, sehingga setiap ada kejadian yang tidak diharapkan, kami saling tolong menolong. Tetangga, ibarat saudara dekat.

Dari kejadian tersebut, kami sangat berterima kasih pada Sumar sebagai petugas keamanan. Karena dengan kejujurannya, rumah dan kampung aman. Tidak ada barang yang hilang dan masih utuh seperti semula.

Jika ia mau, bisa saja ia diam dan membiarkannya, lalu mengambil keuntungan. Tetapi ia orang jujur, konsisten sebagai petugas keamanan.

Sumar berasal dari Wonogiri, merantau ke Semarang. Sehari-hari menumpang di pos kamling, melakukan kegiatan dan menjaga kampung agar aman. Ia belum memiliki rumah. Kebetulan ia belum menikah.

Sehari-hari Sumar menumpang tidur di Poskamling. Sambil beraktivitas sehari-hari. (Foto: Dokumentasi pribadi).
Sehari-hari Sumar menumpang tidur di Poskamling. Sambil beraktivitas sehari-hari. (Foto: Dokumentasi pribadi).
Dengan gaji Rp. 650.000,- per bulan sebagai petugas keamanan, ia mencukupkannya agar bisa hidup. Terkadang memperoleh tambahan sebagai tukang servis barang elektronik, tetapi tidak selalu ada.

"Yang penting cukup untuk makan sehari-hari. Jika ada lebihnya saya tabung." katanya.

Ia rajin beribadah. Juga memiliki keinginan untuk berangkat umroh, jika tabungannya sudah mencukupi. Kiranya ada yang bersedia memberikan berkah umroh kepadanya, alangkah bahagianya karena doanya selama ini bisa terkabul. Amin Allahuma Amin.

***

Tulisan ini diikutsertakan juga di landing page berlipatnyaberkah.allianz.co.id