Mohon tunggu...
Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Mohon Tunggu... Penulis

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Memberikan Kebahagiaan dengan Kemenangan

10 Desember 2018   10:41 Diperbarui: 10 Desember 2018   18:11 0 42 38 Mohon Tunggu...
Memberikan Kebahagiaan dengan Kemenangan
Suasana Kompasiana Award 2018 di Lippo Mall Kemang Jakarta, tanggal 8 Desember 2018. (Dokpri).

Malam itu, mungkin adalah satu waktu dimana sebuah peristiwa, membuat saya bagai terbuai mimpi. Tetapi ketika saya mencubit diri saya sendiri, auw... terasa sakit. Ternyata ini bukan mimpi. Ini kenyataan dan saya berada di dalamnya.

Penghargaan Kompasiana Award 2018 kategori Best in Fiction diberikan kepada saya. Alhamdulillah. Tentu saja saya sangat bersyukur kepada Allah SWT yang atas izinnya, sesuatu yang menjadi keinginan saya bisa terwujud.

Memang saya tak begitu berharap banyak dari terpilihnya saya masuk nominasi Best in Fiction tahun ini. Karena nominator lainnya memiliki potensi dan karakter yang kuat. Mas Mim Yudiarto, kak Nurul Pertiwi, mas Pringadi dan mas Maman A Rahman. Sungguh, mereka adalah penulis yang hebat dan patut diperhitungan.

8 Desember 2018. Saat itu saya datang ke Lippo Mall Kemang Jakarta ketika hampir sore hari. Situasi jalanan Jakarta yang macet dan ramai membuat laju taksi yang saya tumpangi tidak bisa maksimal kecepatannya. Beberapa kali berhenti dan itu memakan waktu. Sementara mbak Siti Nur Hasanah teman saya sesama admin RTC sudah menunggu.

"Sudah sampai mana?"

"Masih di taksi mbak." jawab saya. Karena saya yang tidak mengetahui seluk beluk Jakarta, tidak tahu berada di mana, maka saya menjawab masih di taksi.

Sesampai di Lippo Mall Kemang, suasana telah ramai. Kemudian saya registrasi dan mendapat hadiah dompet juga topi hitam sebagai marchandise. Lumayan, buat kenang-kenangan untuk dibawa pulang. Istimewa? Tentu saja, karena ada tulisan Kompasianival dan Kompasianer. Keren.

Lalu saya masuk area acara Kompasinival. Masih bingung. Saya bertemu Pak Thamrin Sonata. Penulis senior, yang juga penulis idola saya. Pak Isson, Pak Iskandar Zulkarnaen.

Setelahnya bertemu mbak Tamita, Syifa Annisa dan mbak Muthiah. Wah, ternyata di pojokan kanan panggung telah banyak berkumpul Kompasianer. Juga ada Menteri Zaman Now Bapak M Hanif Dhakiri. Mereka berkumpul di sana. Termasuk Kompasianer dari Jambi, Ibu Nursini. Salim, bu. Alhamdulillah. Bahagia hati saya bertemu mereka.

Situasi di sebuah taman pojok, berkumpulnya para Kompasianer. Ada bapak menterinya loh. Bapak M Hanif D. (Dokpri).
Situasi di sebuah taman pojok, berkumpulnya para Kompasianer. Ada bapak menterinya loh. Bapak M Hanif D. (Dokpri).
Waktu kian merangkak. Selepas maghrib, ada sastrawan idola saya, Eyang Sapardi Djoko Damono. Hehehe, sempet mendapat tanda tangan dari beliau, meski dengan sedikit memaksa, mencegat beliau saat akan menuju panggung. Terimakasih ya Eyang, maafkan daku telah memaksa.
Saya sengaja bawa buku dari rumah untuk meminta tanda tangan penulisnya, Eyang Sapardi Djoko Damono. Taraaa... Alhamdulillah dapat. (Dokpri).
Saya sengaja bawa buku dari rumah untuk meminta tanda tangan penulisnya, Eyang Sapardi Djoko Damono. Taraaa... Alhamdulillah dapat. (Dokpri).
Di atas panggung beliau membacakan puisi bersama mbak Nana. Eyang Sapardi kharismatik. Meski sudah sepuh tetap bersemangat dalam bidang tulis menulis dan konsisten terhadap puisi. Salut dan salim hormat buat beliau.
Perfome Eyang Sapardi Djoko Damono yang kharismatik. (Dokpri).
Perfome Eyang Sapardi Djoko Damono yang kharismatik. (Dokpri).
Setelahnya, ada dua acara lagi meluncur di panggung Kompasianival. Konsentrasi saya sudah agak kabur karena menunggu sesuatu yang membuat hati dag dig dug. Demi ini saya dari Semarang datang ke Jakarta. Di samping karena menghormati dan terimakasih saya untuk teman Kompasianer yang telah memberikan vote kepada saya. Sehingga saya bisa masuk dalam nominasi Best in Fiction.

Tibalah saat pengumuman Kompasiana Award. Best in Specific Interest diraih oleh dr. Posma Siahaan. Best in Opinion diraih oleh kak Krishna Pabichara. Lalu saat dibacakan nominasi Best in Fiction, hati saya seolah luruh, saat nama saya disebut sebagai pemenang Best in Fiction Kompasiana Award 2018. Bahagia bercampur haru. Ketelatenan saya di bidang fiksi tak sia-sia. Saya memang menyukai sesuatu yang mengalir. Berproses dan ketika tiba saatnya, akan memetik hasilnya. Alhamdulillah.

Alhamdulillah, saya berhasil terpilih menjadi Best in Fiction di Kompasiana Award 2018. Bahagia banget... (Dokpri).
Alhamdulillah, saya berhasil terpilih menjadi Best in Fiction di Kompasiana Award 2018. Bahagia banget... (Dokpri).
Mbak Siti Nur Hasanah yang ada disamping saya memeluk erat. Ia datang dari Surabaya bersama keluarga demi Kompasianival dan saya.Ternyata kebahagiaan bukan hanya milik saya. Ia pun bahagia. Persahabatan yang kami bangun di Rumpies The Club (RTC) bersama teman lainnya, tak bisa dipungkiri membuat persahabatan kami sangat erat.
Bersama mbak Siti Nur Hasanah dan mas Nurulloh. (Dokpri).
Bersama mbak Siti Nur Hasanah dan mas Nurulloh. (Dokpri).
Selanjutnya pengumuman lainnya, Best in Citizen Journalism dan People Choice Kompasiana Award 2018 diraih oleh Mbah Ukik, Kompasianer of The Year 2018 oleh mas Giri Lumakto, Lifetime Achievement oleh pak Pepih Nugraha.

Bisa bersanding dengan penulis hebat seperti mereka, saya merasa tersanjung. Apalah saya. Hanya seorang ibu yang kebetulan memiliki hobi menulis. Dan beliau-beliau adalah penulis hebat. Tetapi mereka membuat saya merasa ikut menjadi hebat. Dan saya tetap harus ingat pada salah satu pesan sahabat saya, bahwa seorang penulis tidak boleh sombong dan tetap berkarya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x