Rinaldi Abrakadabra™
Rinaldi Abrakadabra™

Anak muda yang rajin beribadah, sesungguhnya telah kehilangan masa mudanya.

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Benar, Daging Babi Enak, Daging Kambing “Nggak Keruan” Rasanya

24 November 2014   01:01 Diperbarui: 17 Juni 2015   17:02 658 2 5
Benar, Daging Babi Enak, Daging Kambing “Nggak Keruan” Rasanya
14167401461348943101




[caption id="attachment_377582" align="alignright" width="300" caption="Hidangan babi panggang khas Batak. Foto: Wikipedia"][/caption]

SAYA sepakat dengan Kaesang, anak Jokowi yang namanya tengah diperbincangkan orang belakangan ini. Bahwa daging babi lebih enak ketimbang daging kambing. Saya pernah mencoba keduanya.

Pertama kali mencoba sate babi di Denpasar, saya langsung suka. Rasanya empuk dan gurih. Terlebih bumbu dan sambalnya pas banget. Berbeda dengan daging atau sate kambing yang cenderung alot.

Menu bertema babi lain yang pernah saya coba adalah bakso babi. Rasanya gurih sekali, empuk. Saya tidak tahu apakah ini karena juru masaknya yang pintar mengolah, atau karakteristik daging babi itu sendiri yang memang empuk dan lezat. Yang jelas, sejak itu saya ketagihan menu babi.

Sebagai orang yang terlahir dalam kultur muslim, tentu awalnya saya tidak akrab dengan menu babi. Setelah bertahun-tahun murtad pun, saya masih belum pernah mencicipi menu babi.

Tetapi bukan hanya karena faktor latar belakang muslim. Di lingkungan yang mayoritas muslim, menu bertema babi memang jarang dijumpai. Jika pun ada, tak murah juga harganya. Sehingga baru kurang lebih setahun yang lalu saja, lidah saya bersentuhan dengan menu babi di lingkungan yang mayoritas Hindu.

Terus terang, sejak masih muslim pun saya sudah kepingin tahu bagaimana rasanya daging babi dan berbagai hasil olahannya. Walau sedikit khawatir dan jijik, karena doktrinasi bahwa daging babi tidak sehat oleh sebab mengandung cacing pita. Tetapi seiring dengan perkembangan nalar dan pendewasaan, iman saya luntur. Persepsi saya terhadap “babi” pun berubah.

Cacing pita?

Bagi orang Tionghoa, orang Minahasa, orang Bali, orang Batak, dan berbagai suku lain di Indonesia, menu babi sudah menjadi bagian dari tradisi kuliner mereka. Toh berabad-abad lamanya mereka sehat-sehat saja. Kenapa saya harus khawatir mencobanya? Rokok yang dampak negatifnya lebih besar daripada daging babi saja, umat muslim banyak yang rela menghisapnya setiap hari. Apalah arti menu babi yang dicicipi barang sekali-kali?

Saya sepakat dengan Kaesang, bahwa rasa daging babi itu empuk dan gurih. Daging kambing kalah jauh. Bahkan dibandingkan dengan daging sapi yang sama-sama halal, saya lebih pilih daging sapi. Bedanya, dia muslim dan setelah itu menyesal karena tidak sengaja mencicipi nikmatnya daging babi, sementara saya murtadin yang memang dengan sengaja mencicipi menu babi karena penasaran.

****

SESUNGGUHNYA saya tidak bermaksud menjadi “juri kuliner” dalam tulisan ini. Enak tak enak suatu menu makanan tentu relatif sekali. Se-nggak keruan-nya daging kambing menurut saya, toh penggemarnya tetap banyak.

Saya hanya geli membaca opini seorang “pemerhati masalah sosial dan keumatan” di sebuah situs Islam, yang menganggap bahwa orang yang mengatakan “daging kambing nggak keruan rasanya” adalah melecehkan makanan kesukaan Rasulullah.





“Miris rasanya membaca cerita tersebut. Di balik cerita putra Jokowi, baik di sengaja atau tidak, tampak jelas sikap melecehkan/mencaci makanan (daging kambing) yang notabene makan halal kesukaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. -Salim Syarief


Lucu, sebuah fanatisme yang membuta terhadap sosok Rasul, sampai makanan kesukaannya pun menjadi sesuatu yang sakral dan tak boleh dilecehkan.

Menurut berbagai kisah, Rasulullah, atau saya lebih suka memanggilnya Muhammad -karena begitulah namanya- menyukai daging kambing. Tak masalah, tak ada yang aneh, manusiawi sekali, karena toh ia pada satu aspek adalah seorang manusia biasa juga. Tetapi bahwa Kaesang tidak menyukai daging kambing karena menurutnya rasanya “nggak keruan”, juga sama-sama tak ada yang aneh. Manusiawi sekali.

Saya pun, selain tak suka daging kambing, juga tak suka korma, yang adalah juga makanan kesukaan Muhammad. Saya tak suka rasanya. Ketidaksukaan saya terhadap daging kambing dan korma, dua makanan kesukaan Muhammad, adalah murni selera. Tak ada hubungannya dengan murtadnya saya dari Islam.

Kalau saya mengekspresikan tidak enaknya rasa korma, atau mengupload foto saya menginjak-injak korma, apakah bisa dikatakan saya melecehkan makanan kesukaan Muhammad? Atau lebih jauh, melecehkan Islam? Tentu tidak begitu cara pikirnya.




Tak perlulah umat muslim bersikap lebay. Kaesang hanya menceritakan pengalaman pribadi di blog pribadinya. Bahwa menurutnya daging babi itu nikmat, dan daging kambing “nggak keruan rasanya”, kan pendapat pribadinya semata. Kaesang hanya mengatakan apa yang dirasakan oleh indera pencecapnya. Sesimpel itu.

Cara pikir Salim Syarief, penulis di situs Islam tersebut, sebenarnya berbahaya. Menjurus pada pengkultusan sosok Muhammad secara berlebihan. Fanatisme keumatan yang sempit dan bodoh. Tak lucu kan, kalau cara pikir ini berkembang dan di kemudian hari mengatakan daging kambing tidak enak bisa didakwa melecehkan agama?

Sosok Muhammad memiliki dua aspek. Pertama, aspek dia sebagai “Rasulullah”, di mana meyakininya bersifat keimanan. Kedua, aspek dia sebagai manusia biasa yang bersifat profan dan umum.

Sebagai Rasul, Muhammad bolehlah dipandang istimewa oleh para pengimannya. Tetapi sebagai manusia biasa, dia tak lebih dari orang Arab yang hidup di abad ke 7 masehi. Dia makan, minum, kawin, tertawa, marah dan berpakaian sebagaimana orang-orang Arab pada zamannya. Tak ada yang perlu disakralkan dari atribut kultur Muhammad. Tak perlu juga meniru-niru atribut kultur Muhammad. Sorban dan gamis tak lebih bagus dari batik dan peci.

Demikian pula, pada akhirnya, kambing dan babi hanya masalah pilihan selera. Hemat saya, tak perlu juga fanatik terhadap agama. Cobalah sekali-kali kedua menu tersebut. []