Wachyu Eko Utami
Wachyu Eko Utami lainnya

I love Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Biasa Sukses Mencari Mangsa, dan Hari Ini Aku Kecewa

13 Januari 2018   05:49 Diperbarui: 13 Januari 2018   09:00 971 0 0

Memori lama, 2012.

"Ayo Kakak, Mb Zidni, Dede! Buruan. Kita jangan sampai terlambat!" konser klasikku di setiap pagi hari, sudah dimulai.

Anak-anak bergegas duduk mengambil posisi.

Dan seperti biasa, saya mulai menyisir jalan. Mencari anak-anak yang berseragam sekolah. Yang dikenal maupun yang tidak.

"Itu ada temanmu nyegat angkot Kak. Gimana, diajakin ya?"

"Mbak Zidni, itu ada temanmu. Ajakin yuuk. Kasihan."

"Ya sudah," jawab anak-anak ~kalau sedang bolong. Atau, sudah nunjuk-nunjuk dari jauh saat melihat ada orang yang (sepertinya) butuh tumpangan.

Kalau sedang manyun, wah beda lagi.

"Ummi mah. Tadi kita disuruh cepet-cepet. Sekarang malah nyamperin orang-orang. Kan bikin lama," omel anakku ~yang sedang tidak bolong.

Kebiasaan itu, terus berlanjut hingga sekarang, saat anak yang harus kuantarkan ke sekolah tinggal seorang dan cukup dengan sepeda motor.

Aku tetap selalu mencari mangsa. Toh bagiku tidak ada ruginya. Sementara bagi yang diajak, mudah-mudahan merasa terbantu. Cuma ya gitu dech. Harus siap mental. Kadang sebab merasa tidak kenal, ada sorot curiga yang tersirat di awal tatap matanya. Butuh waktu dan trik untuk meyakinkannya.

"Gak apa-apa Bu. Gak apa-apa Teh. Ayo, searah ini sama saya. Gak ngerepotin kok!"

"Ayo nggak papa. Kasihan itu dede bayinya."

"Sudah siang lho, lumayan ngirit waktu."

Dan pagi tadi, aku sudah mengintai seorang anak berseragam abu putih yang baru turun dari angkot, menuju SMAWAR. Sayangnya, aksiku keduluan oleh seorang ibu yang posisinya di depanku. Pasti beliau menawarkan tumpangan, karena kemudian anak itu segera memboncengnya.

Sambil melewati mereka, sebait doa kulantunkan bagi sang ibu tadi.

"Ya Allah, mudahkanlah segala urusannya. Karena sudah menolong muridku. Aamiin....."

Teringat kisah lama, yang pernah kubaca.

Di akherat, seorang yang shalih dipersilakan Allah memasuki surga. Sebelum melangkahkan kaki, Allah bertanya dengan lembut,

"Kamu tahu, mengapa Aku suruh kamu masuk surga?"

"Karena selagi di dunia, aku termasuk hambaMu yg taat padaMu ya Allah."

"Bukan, hambaKu. Ibadahmu, tidak sebanding dengan nikmat yang sudah Aku curahkan padamu."

"Laluu? Mengapa aku boleh masuk surgaMu, ya Allah?"

"Kamu, Aku masukkan surgaKu karena kasihmu pada seekor lalat. Suatu malam di saat kamu sedang menulis buku, seekor lalat hinggap di penamu. Kamu hentikan menulismu. Kamu biarkan lalat itu menyelesaikan hajatnya. Setelah terbang, baru kamu lanjutkan kegiatanmu. Karena kasihmu itu, Aku pun kasih padamu. Itulah sebabnya, mengapa Aku masukkan kamu ke surgaKu."

Sepele, namun Allah lihat. Dan membuatNya mempunyai alasan, untuk memasukkan hambaNya ke dalam nikmatNya.

Masyaa Allah....

Memang butuh proses, menyadarkan anak arti pepatah:

Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Sambil menyelam, minum air dan dapat mutiara ~yaelah...

Aku ingat kata-kata Ibu dulu, di saat aku heran dan menanyakan mengapa betapa ringan tangannya beliau.

"Ibu senang membantu karena punya harapan. Jika di kemudian hari anak-anak Ibu sedang punya kesulitan, akan ada orang yang membantu. Dimanapun kamu berada. Sekarang Ibu yang baik ke orang, nanti kamu yang senang."

Masya Allah, kasih sayang ibu emang sepanjang jalan ya. Yang begituan saja dipikirin untuk anak (Walau kesannya juga ada pamrih yah, hihihi. Peace...).

Dan taraaa... Kalimat bijak itulah yang kuturunkan ke anak-anakku. Bukan karena diriku benar-benar bijak. Melainkan karena ternyata, dulu, logika itulah yang sangat bisa aku terima sebagai remaja.

Semoga kita semua, termasuk hambaNya yang memiliki kasih tiada tepi. Walau tentu saja, itu suliiit... Kalau mudah mah hadiahnya payung, walau lumayan mumpung musim hujan #eh.

Serang, di suatu pagi Desember 2017