Syaripudin Zuhri
Syaripudin Zuhri profesional

Saya senang bersahabat dan suka perdamaian. Moto hidup :" Jika kau mati tak meninggalkan apa-apa, maka buat apa kau dilahirkan?"

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Pilpres Itu Hanya Asam Garamnya Demokrasi Kita, Santai Saja

20 Desember 2018   14:42 Diperbarui: 21 Desember 2018   14:54 695 8 0
Pilpres Itu Hanya Asam Garamnya Demokrasi Kita, Santai Saja
(nasional.kompas.com)

Pilpres itu hal biasa dalam kehidupan berpolitik, dimana saja, dibelahan bumi manapun, di Indonesia atau di Rusia, di Amerika atau di India dan di berbagai negara yang menganut demokrasi, akan menjalankan pemilihan umum, baik Pilpres atau Pileg. 

Jadi mengapa harus dbuat tegang, dibuat seperti mau perang saudara atau sepertinya dunia mau kiamat kalau kalah dalam Pilpres, santai sajalah. Bukankah sebagian besar rakyat Indonesia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa?

Orang yang beriman yakin betul, bila dalam hidup penuh dengan duka dan kesedihan, dia tak putus asa, karena tetap saja masih ada harapan, karena ada Dia di mana-mana. Orang beriman tak akan protes. Mengapa hidup sudah berlaku dan bertindak baik, tapi juga masih ada saja orang yang tak suka, masih ada saja yang membenci dan iri hati, dengki bahkan memfitnah sesamanya, di dalam kampanye Pilpres, Pileg atau Pilkada?

Dalam tahun politik ini, dimana masa kampanye masih berjalan sampai April 2019 nanti, semoga suasana batin bangsa Indonesia tetap terjaga, iman masing-masing orang tetap terpilihara dan tak mudah memojokkan lawan politiknya, tak mudah menyerang kubu lawan dengan kata atau ujaran kebencian. Bukankah kubu lawan sama, sama anak bangsa Indonesia juga?

Tapi memang begitu dalam kehidupan, Anda benar saja, masih banyak orang yang tak suka pada Anda, apalagi Anda berbuat salah dan penuh dengan kesalahan, kalau pakai bahasa sekarang" digoreng habis", apa lagi kalau kesalahannya menyangkut masalah Pilpres, seperti sekarang, dua kubu akan mencari " semut " di seberang lautan, dan melupakan "gajah" yang di pelupuk mata. Kesalahan kecil pada pihak lawan, akan digoreng habis.

Namun jangan kwatir, yang pernah disakiti, dihina, dicaci, dimaki bukan cuma Anda, tapi banyak orang lain lagi, Anda sih belum apa-apa dan belum diapa-apakan oleh orang-orang tak suka pada Anda.

Bagi orang beriman yang tingkatannya sudah di atas rata-rata, maaf, diludahi dan dicium itu sama, dicaci dan dipuji itu sama, difitnah dan dipuja itu sama, disakiti dan disanjung itu sama, dijauhi dan didekati itu sama, dibenci dan dicintai itu sama, disambit dan disambut itu sama, dipenjara dan dibebaskan itu sama, baginya sama kedaan tak merubah dan mempengaruhi dirinya, tak mempengaruhi imannya.

Dan kalau dalam istilah Pilpres sekarang, apapun yang ditampilkan dua kubu, tak mempengaruhi pilihannya, karena sudah yakin benar pilihannya, tak mudah terombangambing oleh pujian dan hinaan,  oleh pencitraan dan kegombalan, pilihannya sudah mantap.

Semua itu dihadapi dengan selalu bersandar kepadaNya, dia lenyap bersamaNya, dia fana bersamaNya, dia tak peduli segala apa yang berkenaan dengan pujian atau cacian. Semuanya itu hanya bumbu-bumbu duniawi, dia lebih terfokus pada Yang Maha menyintai makhlukNya.

Perkara pilpres itu itu juga hanya urusan duniawi, hanya asam garam kehidupan berpolitik, tidak membuatnya membenci atau menghakimi kubu manapun, karena dia tahu kedua kubu tentu bertujuan baik, untuk mensejahterakan rakyatnya bila terpilih menjadi pasangan Presiden dan wakilnya nanti di tanggal 17 April 2019.

Saya tak akan lupa pada tanggal tersebut, karena sudah dapat kaos kehormatan ketika ada sosialisasi Pemilu di kantor oleh KPU Pusat, PPLN yang datang jauh-jauh dari Jakarta ke Rusia beberapa waktu yang lalu. Pada kaos tersebut tertulis dengan angka besar di depan, dengan tinta warna kuning emas dengan dasar kaos hitam, menyala bob! Acara sosialisasi yang cukup aktraktif, yang bertanya selain dapat tanggapan dari KPU juga kaos tersebut. 

Baik kita kembali ke Pilpres. Bila dia mendapat berita tidak enak atau mengalami duka cita yang mendalam, atau mendapat musibah yang tak habis-habisnnya, dia tak menyimpan segala duka dan kesedihan itu, dia lenyapkan segera sumber penyakit itu. Apalagi dalam saat kampanye Pilpres, dua kubu tentu ingin menarik sebanyak-banyaknya suara, agar menang.

Namun dia tak kwatir, dia tidak menyimpan penyakit, segera dia lupakan. Hidup mudah, kok dibuat susah. Tuhan saja tak mau membuat susah umatNya. Rosulpun bersabda: Permudahlah, jangan persulit!

Nah kalau dalam kampanye ada yang membuat Anda sulit, sudah bisa dibaca, ke mana arah politiknya, kemana rakyat akan dibawa. Loh belum jadi saja, rakyat sudah dibuat sulit, apa lagi kalau menduduki jabatan, tentu akan lebih parah.

Pilpres sedang berjalan dalam kampanye tentu ada hikmahnya. Boleh berjanji asal ditepati, boleh berjuang, jangan menendang. Boleh berbagi, jangan menghakimi. Maka pandai-pandailah mencari hikmahNya.

Saat duka melanda jiwa, derita menghantam segala daya dan saat seakan dunia begitu sempit, yakinlah ada anggrek di dalam hutan lebat, ada mentari di balik kabut, ada cahaya dibalik kegelapan, ada tawa dibalik tangisan, ada bahagia dibalik duka, ada kemudahan dibalik kesulitan, ada mutiara dalam lumpur yang hitam pekat, lalu mengapa Anda bersedih? Jikapun jagoan Anda nanti kalah, misalnya, toh tidak kiamat, Indonesia tidak bubar gegara jagoan Anda kalah dalam Pilpres.

Sebagai penutup jangan lupa bahagia, Pilpres hanya bagian dari demokrasi kita, dan itu bukan satu-satunya yang membuat rakyat sejahtera. Banyak jalan menuju Mekkah, sebanyak jalan menggapai kesejahteraan yang hakiki. Jadi jangan galau kalau jagoan Anda kalah, masih banyak jalan lain untuk bahagia.

Jagoan Anda kalah atau menang NKRI insya Allah tetap ada. Mari tetap menjaga aura Indonesia yang jaya, bersatu dalam perbedaan partai dan kubu, tetap damai dalam kampanye yang menyala-nyala,dan tetap menghormati sisi kemanusiaan betapa pun keinginan menang menggebu-gebu.