Mohon tunggu...
Vira Puspita Dewi
Vira Puspita Dewi Mohon Tunggu... Ig : virapd_

Vira puspita dewi XII MIPA 3

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi

22 November 2020   21:41 Diperbarui: 22 November 2020   21:49 2 1 0 Mohon Tunggu...

Pandemi Corona Virus Disease 2019  (Covid 19) memang melumpuhkan setiap sektor kehidupan, diantaranya adalah pendidikan, namun pendidikan kita tidak boleh lumpuh. Proses Belajar dan pembelajaran harus tetap berjalan, dan salah satu solusi yang di tawarkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan adalah dengan Belajar dari Rumah (BDR) dan salah satu  yang banyak di gunakan oleh satuan pendidikan adalah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam jaringan/online (Daring) yang menggunakan gadget atau laptop serta akses internet.

Permasalahan yang muncul di kalangan orang tua dan murid dalam hal ini banyak yang keberatan terutama bagi kalangan menengah kebawah dimana mereka masih banyak yang tidak memiliki gadget ataupun laptop, dan kuota juga menjadi permasalahan dalam pembelajaran daring ini. Akan tetapi untuk kuota pemerintah baru baru ini sudah mengeluarkan bantuan kuota internet untuk Pembelajaran Jarak Jauh bagi siswa - siswi tingkat Sd hingga Perguruan Tinggi.

Kendala tersebut benar-benar dihadapi oleh siswa-siswi selama diberlakukannya belajar di rumah. Pemerintah harus memperhatikan kondisi ini, supaya proses belajar tidak mengalami gangguan. Terutama, untuk siswa-siswi yang ada di daerah terluar dan tertinggal.

Senin (13/04/2020), kemendikbud melalui Sekretaris Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana mengeluarkan kebijakan terbaru terkait Bersama Hadapi Corona.

Ada 10 kebijakan kemendikbud dalam menghadapi corona. Beberapa kebijakan itu seperti, Pemberian fasilitas pembelajaran jarak jauh, pembelajaran melalui siaran TVRI selama 3 bulan, pelaksanaan lomba Tingkat Nasional terkait Covid-19, belajar di rumah, dan ketersediaan listrik dan akses internet pada satuan pendidikan.

Kebijakan pembelajaran melalui siaran TVRI selama 3 bulan yaitu kebijakan yang patut diapresiasi. Program itu memberikan alternatif belajar diantara pembelajaran online yang monoton dan itu-itu aja. Tapi, perlu adanya inovasi yang perlu dilakukan agar siswa tidak mengalami kebosanan dalam pembelajaran, seperti pembelajaran online selama ini.

Pengakuan  Menteri Nadiem bahwa PJJ atau pembelajaran jarak jauh selama masa pandemi kurang efektif bukanlah hal yang mengada-ada. Di berbagai wilayah terutama di di daerah terpencil banyak murid yang tidak memiliki smartphone dan akses internet. Tidak sedikit pula guru yang belum siap mengajar dari jarak jauh.

Sebelumnya, OECD  (Organization for Economic Cooperation and Development) pernah melansir data bahwa hanya 34 persen penduduk Indonesia yang terkoneksi dengan internet. Survey Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia pada tahun 2018 juga mengungkap hasil yang serupa. Di Jawa, lebih dari 55,7% penduduk dapat mengakses internet. Sementara itu di Kalimantan baru 6,6% saja yang terhubung ke internet. Namun semua fakta tersebut tidak menjadi alasan untuk memperlonggar izin pembukaan sekolah.

Tidak ada yang tahu, jika Covid-19 memberikan dampak yang sangat luar biasa buat kehidupan semua sektor. Tidak terkecuali, sektor pendidikan yang ikut juga mengalami dampak adanya Covid-19 ini. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) juga tidak selalu dilihat dari hal negatifnya, akan tetapi ada hal positifnya juga yaitu siswa - siswi dapat lebih mengenal, memahami dan mempraktikkan langsung mengenai teknologi yang sudah canggih ini. Untuk kedepannya lagi pemerintah, kalangan guru, dan terutama siswa harus  bisa bekerja sama untuk menghadapi Pembelajaran ini. Seperti pihak guru yang mengerti akan keterbatasan siswa dalam hal memberikan tugas, begitu juga siswa yang harus mengerti guru ketika guru sudah memberikan tugas sesuai deadline yang sudah diberikan olehnya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x