Mohon tunggu...
Venusgazer EP
Venusgazer EP Mohon Tunggu... Just an ordinary freelancer

#You'llNeverWalkAlone |Twitter @venusgazer |email venusgazer@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

PDIP, Gerindra, dan Golkar Akan Bersatu Lawan Ahok

12 April 2016   13:51 Diperbarui: 12 April 2016   14:19 0 11 18 Mohon Tunggu...

Kita masih belum tahu nasib Ahok selanjutnya. Tidak sedikit yang berharap Ahok ditangkap KPK entah karena kasus RS Sumber Waras atau persoalan Reklamasi. Walau begitu dukungan terhadap Ahok untuk Pilgub 2017 sepertinya susah untuk dihentikan. Bayangkan, dalam waktu 1 bulan saja 500r ribu warga Jakarta menyerahkan KTP-nya.

Ahok tidak bisa dianggap remeh. Bukan saja popular, Ahok masih dianggap sebagai harapan untuk Jakarta Baru. Gaya kepemimpinan Ahok yang model dictator buat warga Jakarta cocok terutama dalam membenahi birokrasi yang bobrok.

Orang tidak perduli dengan mulut Ahok yang kasar tanpa tedeng aling-aling.  Jelas bikin telinga gerah bukan kepalang. Mereka yang coba bermain-main dengan anggaran disikat habis. Sering kali Ahok juga menciptakan permusuhan dengan DPRD DKI.

Soal gusur menggusur Ahok paling jago. Berbekal dukungan dari TNI dan Polri tidak ada yang bisa menghentikannya. Ratna Sarumpaet yang terkenal sangat anti Ahok pun dibuat tidak berkutik. Lah, Parpol-partpol pun tidak ada yang bersuara. Coba tengok penertiban Kalijodoh dan Pasar Ikan itu, Parpol tiarap semua. Hanya TV One saja yang berani vocal dalam segala hal yang berbau Ahok. Entah ada dendam apa stasiun TV ini terhadap Ahok.

JIka Ahok lolos dari berbagai kasus maka  Ahok tidak akan punya lawan yang seimbang pada Pilgub nanti. Lihat saja PDIP, partai besar pemenang pemilu saja sampai kebingungan mencari kader yang sepadan buat jadi lawan Ahok nanti. Lakon PDIP membuat penjaringan bakal calon bisa disebut dagelan. Hanya menunjukan kekerdilan mereka, tidak mampu melahirkan sosok yang punya karakter bersih dan tegas.

Gerindra apalagi, bakal calon mereka Sandiaga Uno sedang dirundung masalah. Namanya tersangkut dalam “Panama Papers”. Kader mereka M Sanusi malah terjerat kasus korupsi. Prabowo jelas bingung, siapa lagi yang mau percaya pada partai ini. Sikap mereka yang sejak Pilpres berseberangan dengan Jokowi membuat partai ini juga dinilai anti Jokowi.  Jadi susah, karena Jokowi dan Ahok itu sohiban.

Golkar, partai ini sudah jadi partai yang tidak jelas arahnya. Kemelut internal membuat mereka lebih kepada pengkonsilidasian internal dulu. Namun secara kasat mata kita bisa melihat arahya melalui corong media mereka yaitu TV One.

Parpol-parpol sudah tidak punya taji lagi. Kasus M Sanusi diprediksi akan menyeret banyak pihak dari pihak legislative yaitu DPRD. Korupsi berjamaah sudah menjadi rahasia umum. Dari Sabang sampai Merauke lembaga dewan identic dengan sarang penyamun. So, siapa lagi yang mau percaya parpol?

Sosok-sosk seperti Megawati, Prabowo, apalagi ARB sudah habis kharisma mereka. Sikap Megawati yang angkuh atau ARB yang masih punya stempel buruk karena Lapindo membuat orang malas untuk melirik. Kalau Prabowo? Ya lumayanlah, tapi kekalahannya melawan Jokowi menjadikannya pecundang. Sudah jatuh terlalu dalam dan susah untuk diangkat kembali. Ya kecuali dimata para militan mereka.

Keberanian Ahok memilih jalur independen jelas menohok parpol.  Kepala daerah jadi wajib balas budi pada partai karena sudah mengusung. Begitulah, seolah selalu ada kong-kalikong antara eksekutif dan legislative yang bermain secara sembunyi-sembunyi.

Ahok jelas ancaman, di era Ahok semua serba transparan. Sampai-sampai kehadiran kaleng bir di rumahnya saja tidak perlu ditutupi. Ahok apa adanya, sampai-sampai mantan menteri seperti Roy Suryo sampai bersorak kegirangan melihat kaleng bir di rumah Ahok. Ada amunisi baru pikirnya untuk menggiring respon negative terhadap Ahok.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x