Mohon tunggu...
Veno Dwi Krisnando
Veno Dwi Krisnando Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis Buku

"Kalau cuma bicara mimpi, kita tidak akan bisa melihat kenyataan,"

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Tantangan Guru Menghadapi Era Digital Ethnologi

31 Oktober 2020   02:14 Diperbarui: 31 Oktober 2020   02:16 644
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kemajuan Teknologi Informasi memberi warna yang baru di dunia pendidikan, baik guru maupun siswa harus mengikuti perkembangan zaman, dalam pemberian pembelajaran harus dikemas semenarik mungkin dengan memanfaatkan teknologi dalam melaksanakan proses belajar dan pembelajaran dikelas. Delain itu guru harus bisa mengantarkan siswa untuk terampil dimana keterampilan itu sebagai bekal untuk menatap masa depan siswa. Dalam pembelajaran guru harus mampu melayani kebutuhan siswa untuk belajar tanpa batas ruang dan waktu dengan menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan keaadaan yang ada menggunakan teknologi yang telah berkembang.
 
Pada abad 21 dibutuhkan guru yang tidak hanya terampil dalam memanfaatkan teknologi melainkan guru juga harus mampu menjaga pesona, kewibawaan, pun juga kepribadian yang luar biasa sehingga mampu menjadi motivasi maupun inspirasi bagi peserta didik atau muridnya. Begitu juga dari segi proses pendidikan, guru di abad 21 akan dituntut untuk menyesuaikan perkembangan zaman sejak dari merencanakan, melaksanakan pembelajaran, melakukan penilaian, membimbing. Intinya bahwa  kreatif dan inovatif menjadi tuntutan bagi guru di abad 21. Seiring dengan perkembangan zaman, sebagai guru kita juga harus berusaha untuk mengembangkan diri untuk menjadi guru yang profesional. Bukan hanya mengajar tetapi juga belajar. Kompetensi sebagai seorang guru harus terus ditingkatkan dengan berbagai cara baik itu melakukan refleksi maupun belajar mandiri.

Saat ini pengetahuan dan teknologi yang sangat maju secara pesat dapat mempengaruhi semua bidang kehidupan. Pengetahuan dan teknologi khususnya komputer juga sudah masuk ke dalam duniasekolah maupun pendidikan. Dengan adanya komputer di sekolah dapat mempengaruhi kecepatan dan ketepatan dalam pelayanan di sekolah. Selain komputer, pembelajaran multimedia dengan menggunakan komputer, projector, dan LCD, CD pembelajaran, TV Edukasi bahkan electronic book yang bisa diakses melalui internet, sudah masuk sampai diruang kelas.

"Teknologi itu hanya pengubah kebiasaan", hal yang sama disampaikan oleh Prof. Waldrip. Beliau menyebutkan penerapan teknologi dalam proses belajar-mengajar yaitu, mengubah cara mengajar, mengubah cara berinteraksi dengan siswa, dan mengubah harapan yang pengajar miliki untuk siswa. Kata kuncinya terdapat dalam kata mengubah. Dalam hal mengubah cara berinteraksi dengan siswa, Prof. Waldrip menyatakan, dengan mengubah cara penyampaian materi ajar dari menggunakan papan tulis menjadi penggunaan proyektor, penyampaian materi bisa lebih cepat dan menjadikan interaksi guru dan murid berkurang. Prof. Waldrip mengatakan, "Karena teknologi memiliki kemampuan terbatas berupa pemecahan masalah yang rasional. Ketika ada hal-hal yang irasional, manusia masih lebih unggul dalam menyelasaikan masalah.". Dengan kata lain, peran para pengajar tidak akan tergantikan oleh teknologi, bagaimanapun teknologi itu berkembang semakin canggih.

Meskipun kemajuan teknologi pembelajaran sudah pada tahap yang cukup mencengangkan, namun kemajuan ini tidak dapat menggantikan fungsi dan peran guru dalam seluruh proses pendidikan anak. Manusia memang sudah hidup dalam dunia yang berteknologi tinggi tetapi secara psikologis pada kelompok anak-anak dan remaja usia sekolah tetap ada hasrat untuk mencari figur yang dapat mereka kagumi, hormati, dan bahkan meniru perilaku dan prestasi kehidupannya. Ada banyak alasan yang memperkuat peran strategis guru tidak bisa diganti atau diambil alih oleh media canggih apapun.

Pertama, alasan psiko-pedagogik. Guru dalam melaksanakan tugas keguruannya tidak hanya sekedar berperan untuk mentransfer ilmu kepada anak didik, karena peran ini sudah tidak populer lagi dan tidak sesuai dengan tuntutan pembelajaran modern. Ketika guru berperan hanya sebatas mentransfer ilmu, maka peran ini sudah bisa dengan lebih efektif diambil alih oleh media-media pembelajaran.

Guru dalam melaksanakan tugasnya diharapkan dapat menyajikan sebuah pembelajaran dengan suasana yang penuh kehangatan, keramahan yang dapat membuat semua siswa dalam kelasnya merasa nyaman untuk menyampaikan pendapatnya, mencoba sesuatu yang baru diketahuinya, merasa nyaman untuk berbeda pendapat dengan gurunya, termasuk penting juga merasa nyaman untuk melakukan kesalahan. Ruang kelas bukan saja tempat untuk belajar tentang sesuatu yang benar tetapi juga tempat untuk mencoba dan salah (try and error) supaya diperbaiki dan disempurnakan.


Pola komunikasi yang terjadi dalam pembelajaran yang disajikan oleh guru adalah sebuah pola komunikasi yang humanis karena komunikasi antara manusia dengan manusia yang lebih melibatkan suasana hati, rasa peduli, dan tenggang rasa yang tidak mungkin dialami anak didik ketika belajar dengan menggunakan alat-alat pembelajaran elektronik yang dingin, kaku dan tak punya perasaan. Seorang anak yang hanya dibesarkan dengan media pembelajaran elektronik, bukan tidak mungkin akan mengalami sedikit kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kecerdasannya dengan berinteraksi sosial tidak dikembangkan dengan baik. Keluwesan berkomunikasi dengan lingkungannya akan gagap.

Kedua, pedagogik moral. Guru sebagai pendidik juga bertugas untuk mewarisi nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan hidup untuk menjadi pegangan para siswa dalam menjalani hidupnya dikemudian hari. Pewarisan dan penanaman nilai-nilai kehidupan tentu tidak hanya diajarkan secara verbal searah sebagaimana yang bisa diperoleh melalui media pembelajaran elektronik, tetapi harus dikomunikasikan secara baik tidak hanya melalui ceramah dan pidato retoris tetapi terutama dan paling bermakna harus melalui contoh dan sikap hidup yang nyata. Mengajarkan dan mewariskan nilai-nilai hidup tidak hanya cukup dengan kata-kata tetapi harus dengan contoh dan teladan hidup.

Sebagai misal, mendidik siswa untuk tertib dan disiplin sangat tidak efektif kalau hanya dengan ceramah tentang tata tertib, apalagi menggunakan kekerasan, tetapi harus ditunjukkan dengan contoh perilaku yang tertib dan disiplin dari para guru. Seorang guru yang tidak tertib tidak akan pernah berhasil menertibkan anak-anaknya.

Anak didik pada usia remaja terkadang bingung bagaimana harus bersikap dan berperilaku. Oleh karena itu mereka sangat membutuhkan contoh perilaku orang dewasa yang positif sebagai referensi bagi mereka dikemudian hari ketika mereka memasuki dunia kehidupan orang-orang dewasa. Di sini guru tidak saja berperan sebagai pendidik tetapi juga berperan sebagai orang tua kedua. (the second parents) untuk menegaskan dan menguatkan kembali nilai-nilai kehidupan, nilai-nilai moral, atau keutamaan-keutamaan hidup yang sudah disemai di rumah oleh orang tua mereka, karena para siswa yang dihadapi saat ini adalah calon orang tua di masa depan.

Sekolah-sekolah yang sudah menggunakan teknologi pembelajaran yang canggih tetap tidak bisa menyangkal bahwa guru masih memegang peran kunci. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Pemanusiaan manusia muda pada sekolah-sekolah tidak bisa dilaksanakan hanya dengan mengandalkan teknologi. Begitu juga sebaliknya dengan teknologi yang sangat terbatas sekalipun proses pemanusiaan manusia tetap masih bisa dijalankan, bahkan jauh lebih efektif kalau gurunya benar-benar berkompeten dan kreatif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun