Usman D. Ganggang
Usman D. Ganggang

Berawal dari cerita, selanjutnya aku menulis tentang sesuatu, iya akhirnya tercipta sebuah simpulan, menulis adalah roh menuntaskan masalah

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Memburuh Kasih Perempuan Sampan

16 Mei 2018   12:11 Diperbarui: 16 Mei 2018   13:26 316 1 0
Memburuh Kasih Perempuan Sampan
dok.pribadi

(Berkenalan dengan Sastrawan Akib  di Batam Kepulauan Riau)


Oleh Usman D.Ganggang *)

Berwisata sastra ke Batam(11/5), yang bemula penulis diundang penyair perempuan enerjig Eva Devlina, terkait peluncuran bukunya bertajuk "Bahasa Kalbu", akhirnya berkenalan dengan sejumlah sastrawan negeri Pantun Riau ini. Salah satunya yang diangkat di sini adalah sastrawan Akib, bernama panjang Abdul Kadir Ibrahim.

Dalam perkenalan (13/5) kemarin itu, banyak hal yang dapat dicatat penulis. Selain kebanggaan dan kesyukuran kepada Allah SWT, yang atas perkenannya, akhirnya dapat jumpa darat dengan sejumlah sastrawan Nageri Riau, salah satunya adalah Akib yang selama ini hanya dikenal namanya melalui buku dan tulisannya di berbagai media,baik cetak maupun elektornik. Yang lainnya, tentu penulis bangga dapat melihat dari dekat Provinsi Riau dan Provinsi Kepuluan Riau, khusunya Kota Batam  yang dikatakan orang, adalah Singapurnya Indonesia.

dok.pribadi
dok.pribadi

Iya, usai peluncuran buku Bahasa Kalbu Mbak Eva Devlina, penulis semakin dekat dengan sastrawan Riau dan Kepulauan Riau, pertemuan dengan sastrawan Akib kian akrab, hingga penulis pulang (14/5), masih juga sastrawan Akib datang ke hotel, saling bertukar cindera mata. 

Sejumlah buku Akib berikan kepada penulis. Dan salah satu bukunya yang kita bicarakan saat ini adalah sebuah buku novel yang bertajuk: Memburuh Kasih Perempuan Sampan". Novel yang menurut penulis, sangat unik, berbicara Perempuan Sampan, yang terjerat kisah kasih dalam bercinta. .

Mencermati  sumber ide Akib , dalam novelnya bertajuk  Memburuh Kasih Perempuan Sampan, memang rasanya, terasa familiar dan akrab. Boleh jadi, di balik sub judul  yang dihadirkannya dalam buku ini, tidak terlepas dari gaya hidup anak  orang  desa (nelayan) maupun dengan lingkungan di mana sastrawan Akib  berada, terutama terkait dengan  hasil penggelandangan imajinasinya,yang semakin luas seluas samudra, sehingga terkumpul sejumlah sub judul yang terkait dengan hal-hal yang ada di sekitar Riau dan Kepulauan Riau tempat sastrawan ini berada.

Akib yang bernama panjang Abdul Kadir Ibrahim ini, lahir  di Tanjungpinang, pada 4 Juni 1966 ini, memang sudah terbiasa dengan hal-hal yang sering didengar, dilihat, dan diciumnya serta dirabarasakannya,  kemudian diproses-alurkan dalam  bentuk alur-alur cerita nan  puitis. 

Dan, karena sering terkontak dengan hal-hal terurai di atas, maka hasil  akhir proses kreatifnya, terasa memberi peluang kepada penikmat atau pembaca untuk hadirkan tanya, terkait dengan hasil pengamatan Akib  terhadap objek kajiannya secara bertahap, bermula dari: hasil (mengobservasi), diikuti dengan bertanya pada objek yang perlu dideskripsikan (menanyakan), seterusnya  tergugah  dalam penggalian  sumber ide(mengeksplore)) bahkan sampai pada asosiasi (mengasosiasi) dan ujungnya terasa komunikatif  terkait dengan  pengaplikasian  ide (mengomunikasikan)  hingga tibalah   pada  simpulan  akhir  dari hasil galian yang dihadirkan Akib dalam novel yang judulnya amat menggugah rasa.

dok.pribadi
dok.pribadi

Sesuai benar dengan pendekatan kurikulum 2013, tersebutlah di sana  5 M (mengamati, menanyakan, menggali, mengasosiasi, dan mengomunikasikan). Hasil akhirnya, ternyata M.Tini, berusaha menghasilkan karya (mencipta), maka genaplah m-nya ke -6, sebagai buktinya yaitu "Memburuh Kasih Perempuan Sampan".

Akib  yang terlahir  dari pasangan Haji Ibrahim Bukit dan Hj.Hatijah naim ini, dalam menyusun novelnya , begitu paham, apa maunya penikmat, terutama untuk penikmat pemula, dalam hal menggali sumber ide. Itu sebabnya, perlu ada pencerahan terkait  proses kreatif untuk penikmat pemula. 

Bagimanapun, seperti diakui Raudal Tanjung Bauna, dalam Kata pengantar buku novel ini, Kiranya menarik melihat penjabaran novel Memburuh Kasih Perempuan Sampan ini, "Kemauan dan kemampuan Akib mengangkat marwah Orang Laut-sebutan untuk orang dari suku bangsa Persukuan yang hidup mengembara di lautan- dalam batas tertentu saya kira mendekati masalah nasib penghuni yang berlatar kampung di celah gunung atau pulau karang terutama terkait nasibnya yang tak pasti".

Bagaimana tidak? Dari segi kemampuan, Akib yang adalah suami dari Armita Thaib, S.Ag dan ayah dari Tiara Ayu Karmita, Safril Rahmat dan Sasqia Nurhasanah ini, bercerita dalam hantaran bahasa yang unik dan puitis. 

Unik, demikian Raudal, karena bahasanya kental bercita rasa Melalyu, sehingga bahkan logat  ucap tokoh-tokohnya seperti lekat di daun kuping, dan untuk itu semua ia ceritakan dengan enak memasukkan kosakata setempat tanpa catatan kaki, boleh jadi ini efek "sihir" lingua-franca, atau hipnotis "rasa" bahasa.

dok.pribadi
dok.pribadi

Dari 46 sub judul dalam novel ini, memang tercantum hal-hal yang disebutkan Raudal Tanjung Banua. Menikmati alur-alurnya, amat menggugah penikmat atau pembaca, meskipun sulit juga memahami kosakatanya. 

Kita lihat saja pada sub," Sekali Merengkuh Dayung". Ini percakapannya," Lung, saya datang tanpa diundang.Saya membawa rombongan.Kami nak jumpa dan bincang-bincang perkara mustahak dengan Lung dan sesiape terbabit dengan Lung di sini", kata lelaki yang berjalan menuju pantai sebagai mewakili rombongan Asep

"Saya dah pun tahu, Wan. Anak saya Nyin sudah bicara semalam. Dan bukakah bersama Wan ada anak muda bernama Asep?" tanya ayah Nyaina sambil menyalami Wan. "Memang betullah adanya Lung.Dia sangat terdera oleh cintanya kepada Nyaina..."

Menyimak kosa-kata yang ada dalam penggalan di atas, pembaca atau penikmat rasanya pahami maksudnya meski ada kosa kata yang unik dan terasa pelik dipahami. Boleh jadi, itulah yang dimaksudkan Raudal Tanjung Banua dalam Kata Pengantar buku Novel ini, " terjadi efek "sihir" lingua-franca atau hipnotis "rasa" bahasa. Sehinga Raudal selanjutnya berujar," Lewat Licentia puitika semacam ini bahasa prosa Akib jadi terasa indah, puitis, sayup-sayup mengandung muatan pantun atau pepatah lama, namun sebenarnya menarasikan persoalan kekinian".

dok.pribadi
dok.pribadi

Dari segi kemauan, Akib yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang ini, patut diangkat jempol. Bagaimana tidak, setelah kita akrabi isi sub --sub novel yang terangkum dalam "Memburuh Kasih Perempuan Sampan" ini, tampak sekali Akib bergulat dengan tema orang-orang marginal si sudut dunia yang kurang dikenal masyarakat, apalagi masyarakat Kota.

Orang-orang marginal itu, seperti diakui Raudal, isa berupa tenaga kerja yang terasing di negeri seberang, para pengungsi yang terdampar di sebuah pulau, dan dalam konteks tema utama cerita dalam novel ini, adalah perempuan sampan yang secara harafiah memang hidup di atas sampan. Lalu, terkait tidak dikenal masyarakat, karena mereka posisinya jauh dari pusat hingar-bingar kota.

Iya, orang laut, seperti diungkapkan Akib dalam novel ini, diutarakan sebagai orang yang berada di bawah ketiak orang-orang kota, dan siapakah orang Kota itu? Jawabannya tentu yang terdekat adalah Kota Batam. Bahkan Raudal menarasikan dalam Kata Pengantarnya, Orang Kota Batam yang dijuluki Pulau Kalajengking itu, namun oleh kapital modal ekonomi industrial , mereka(orang sampan)  seolah dianggap tidak ada.

dok.pribadi
dok.pribadi

Dalam situasi vakum empati inilah sastrawan Akib lalu masuk untuk memberi suara pada sayup, alih-alih bersedih, ia justru menghembuskan nafas optimisme dan semangat hidup. Alhasil, sosok perempuan sampan yang diwakili oleh Nyaina-dan selanjutnya  sebagai representasi Orang Laut- tidak jauh pada sikap perangai orang cengeng , tapi kuat , riang dan jenaka. "Nyaina dan sosok-sosok lainnya di dalam novel ini digambarkan hidup penuh semangat, sekalipun menghadapi banyak  masalah", puji Raudal.= terkait hadirnya Novel Memburuh Kasih Perempuan Sampan.

dok.pribadi
dok.pribadi

Akib memang harus diberi aplous. Bagaimanapun juga, Akib yang pernah menjadi wartawan itu, telah memberikan motivasi kepada orang laut untuk tabah dalam menghadapi persoalan yang ada yang selalu datang tanpa diundang. Iya, Akib, sastrawan yang penulis kenal, dia dikenal dalam karya nyata (baca karuya satra) senantiasa membangkitkan keceriaan  dan kecermerlangan pikiran pelaku dalam ceritanya.

Kalau pembaca atau penikmat membaca biodata Akib, tidak keliru kalau kita katakan bahwa Akib adalah salah satu satrawan Riau dan Kepulauan Riau yang paling produktif.Hasil karya banyak, belum lagi yang belum dicetak masih disimpannya menunggu waktu yang tepat.

dok.pribadi
dok.pribadi

Hasil dari keproduktifannya, dibaca banyak pihak hingga akhirnya, Akib memperoleh Piagam Pengharagaan  Nasional Man of The Year 2009 dari Yayasan Penghargaan Indonesia atas pengabdiannya dalam memajukan sastra, Kebudayaan dan Pariwisata . Kemudian "Indonesia Best Executive of The Year 2009dari Citra Mandiri Indonesia.Dan sejumlah pengahargaan lainnya, diterimanya.***)

Kota Kesultanan Bima, 15 Mei 2018