Usamah Zaki
Usamah Zaki

Mahasiswa Teknik Kimia ITB. Mencari perjalanan yang menyenangkan dan membawa hikmah besar. sedang menekuni bidang kemasyarakatan dan social enterprise.

Selanjutnya

Tutup

Hijau

Carbon Credits : Menguak Keuntungan Program Biogas Rumahan di Indonesia

10 Juli 2017   15:48 Diperbarui: 10 Juli 2017   16:01 290 0 0

Geliat biogas di Indonesia mulai terasa sejak tahun 2008. Pada saat itu dirjen listrik dan pemanfaatan energi departemen ESDM mengajak kerja sama Belanda untuk menanamkan investasi di bidang energi terbarukan dari biogas limbah peternakan sapi. Kedutaan meminta HIVOS dan Organisasi non profit dari Belanda untuk melaksanakan survei potensi biogas di Indonesia. Pada studi tersebut, diketahui potensi biogas di Indonesia berjumlah 1 juta unit dengan sistem pengembalian yang lebih menguntungkan untuk petani. Kesepakatan pun akhirnya terjadi, melibatkan banyak komponen masyarakat yaitu pengusaha swasta, perbankan, koperasi susu sapi perah, dan peternak itu sendiri.

                Kedatangan program ini membawa angin segar untuk para pengusaha biogas beton. Hivos dan SNV menggandeng Bank asal Belanda untuk memberikan dana pinjaman modal kepada koperasi-koperasi sebagai modal untuk penanaman bioreaktor beton yang masif. Pengusaha swasta pembuat biogas beton juga diseleksi dan ditentukan oleh HIVOS dan tersedia untuk setiap daerah penanaman di seluruh Indonesia. Desain dan teknis pembangunan sudah didatangkan matang-matang dari Belanda, hanya tinggal dibangun dan disosialisasikan secara sederhana ke masyarakat.

                Mekanisme penawaran dibuat melalui kanal-kanal koperasi susu yang sangat berikatan dengan keseharian peternak. Melalui koperasi, peternak mendapatkan pakan hewan, mendapatkan bibit kawin, menjual susu, mengobati sapi sakit, mendapatkan kebutuhan sehari-hari. Maka lepasnya ikatan seorang peternak dengan koperasi berarti pensiunnya seorang peternak dari pemerahan susu yang ia lakukan. Program ini disampaikan kepada para peternak melalui praktek percontohan kepada ketua kelompok peternak atau peternak yang berpengaruh untuk menginspirasi  peternak lain untuk turut menggunakan biogas. Tentunya persentase keberhasilan program ini berbeda-beda di setiap daerahnya. Daerah jawa timur dan jawa tengah menunjukkan presentase keberhasilan yang lebih tinggi di Jawa Barat. Ini disebabkan kebiasaan dan sifat rajin dan telaten yang berbeda untuk setiap daerah.

                Sempat terpikir dalam benak penulis, terkait gairah energi terbarukan yang rendah di Indonesia. Apa yang menyebabkan perusahaan dan NGO Belanda tersebut berminat untuk datang dan melakukan kegiatan pengembangan energi terbarukan biogas peternakan di Indonesia. Maka, salah satu jawabannya adalah Carbon Credit.Carbon Creditadalah salah satu sertifikat yang dapat diperjual belikan yang mepresentasikan emisi 1 ton karbon dioksida atau gas rumah kaca lainnya yang setara dengan karbon dioksida equivalen. Melalui mekanisme ini, HIVOS dan SNV dapat mengklaim emisi CH4yang dihasilkan untuk dijualbelikan dengan negara atau perusahaan yang mengemisikan gas rumah kaca berlebih. Bayangkan program 1 juta unit tersebut berhasil dilakukan, akan berapa banyak uang yang mereka dapatkan per tahun, sejumlah tahun umur reaktor yang dibuat.

                 Inilah yang akan penulis singkap dalam tulisan bulan depan, setelah melakukan kerja praktek bersama salah satu pengusaha biogas Pak Wiji, alumni Tekim 1997. Tunggu singkapannya