Mohon tunggu...
Ummu Fathur
Ummu Fathur Mohon Tunggu... Guru - Mencerdaskan

Mendidik mencerdaskan umat

Selanjutnya

Tutup

Kurma

Meraih Sukses di Penghujung Ramadhan

11 Juni 2018   06:41 Diperbarui: 11 Juni 2018   07:41 394
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kisah Untuk Ramadan. Sumber ilustrasi: PAXELS

Bulan ramadhan yang penuh berkah kini berada di penghujungnya. Setiap muslim tentu harus tetap optimal beramal sholeh agar meraih sukses pada bulan Ramadhan ini. Berdasarkan nas-nas syariah sukses Ramadhan bagi seorang muslim bisa dilihat dalam beberapa aspek sebagai berikut. 

Pertama, sukses meraih ampunan Allah swt. Rasulullah saw bersabda, yang artinya "Sungguh rugi seseorang yang bertemu dengan Ramadhan lalu Ramadhan berlalu darinya sebelum dosa-dosanya diampuni. Sungguh rugi seseorang yang mendapati orangtuanya dalam keadaan renta tetapi keduanya tidak (menjadi sebab yang) memasukkan dia ke dalam surga (HR. Tirmidzi, Ahmad Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim).

Kedua, sukses meraih kebaikan lailatul qadar. Rasulul bersabda  yang artinya "Sungguh bulan (Ramadhan) ini telah datang kepada kalian. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang tidak mendapatkan (kebaikan)-nya maka dia tidak mendapat kebaikan seluruhnya. Tidak ada yang diharamkan dari kebaikannya kecuali orang yang bernasib buruk(HR. Ibnu Majah). 

Ketiga, sukses meraih secara maksimal, keutamaan pahala amal shlaih yang dilipatgandakan seperti yang Allah janjikan dalam hadits qudsi. Allah berfirman "Tidaklah hamba-Ku bertaqarub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku fardhukan atas dirinya. 

Hamba-Ku terus bertaqarrub kepada-Ku dengan amal-amal nawafil hingga Aku mencintai dirinya (HR al-Bukhari, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi). Keempat, sukses dalam merealisasi hikmah pensyariatan shaum, yakni mewujudkan ketakwaan, sebagaimana firman-Nya dalam QS 2:183 yang artinya "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.

Kunci sukses itu bisa ditempuh diantaranya melalui dua pendekatan sebagai berikut. Pertama, meninggalkan segala perkara yang haram atau sia-sia. Rasul saw. bersabda;" Puasa itu perisai. Karena itu janganlah seseorang berkata keji dan jahil. Jika ada seseorang yang menyerang atau mencaci, katakanlah, "Sungguh aku sedang berpuasa," sebanyak dua kali. Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, bau mulut orang berpuasa lebih baik di sisi Allah ketimbang wangi kesturi; ia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya demi Diri-Ku. 

Puasa itu milik-Ku. Akulah Yang lansung akan membalasnya. Kebaikan (selama bulan puasa) dilipatgandakan sepuluh kali dari yang semisalnya (HR al-Bukhari). Kedua, menunaikan perkara-perkara wajib maupun sunnah. 

Rasul saw. bersabda "Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dan menghidupkan Ramadhan dengan dilandasi keimanan dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT niscaya diampuni dosanya yang telah lalu. Siapa saja yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan dilandasi keimanan dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT niscaya diampuni dosanya yang telah lalu" (HR at-Tirmidzi).

Dengan melaksanakan shaum di bulan Ramadhan ini tentu Allah berharap hambaNya menjadi orang bertaqwa. Dalam mewujudkan taqwa ini, bisa dimaknai sebagai kesadaran akal dan jiwa serta pemahaman syar'i atas kewajiban mengambil halal dan haram sebagai standar bagi seluruh aktivitas yang diwujudkan secara praktis di dalam kehidupan. Menurut Syaikh Abu Bakar Jabir al Jazairi, makna firman Allah SWT "la'allakum tattaqn" yakni agar dengan puasa itu Allah mempersiapkan kalian untuk meraih takwa, yaitu melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya (Al Jazairi, Aysar at-Tafasir, I/80). 

Hal senada dinyatakan oleh Imam an-Nawawi di dalam Syarh Shahh Muslim. Selain menjadi hikmah shaum yang mesti diraih oleh setiap individu Muslim, takwa juga harus terwujud di dalam keluarga dan masyarakat. Kunci mewujudkan ketakwaan individu, keluarga maupun masyarakat tidak lain dengan menerapkan syariah Islam secara formal dan menyeluruh (kaffah).

Penerapan syariah Islam secara secara formal dan menyeluruh menjadi kunci mewujudkan keimanan dan ketakwaan penduduk negeri. Penduduk negeri yang beriman dan bertakwa adalah mereka yang secara bersama-sama melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun