RiTX UMG Idealab
RiTX UMG Idealab

"Kini Kemudahan Bertani Ada Di Tangan Anda " Sebuah Inovasi Aplikasi Yang Membantu Petani Dalam Proses Penanaman, Perawatan, Panen, Hingga Penjualan

Selanjutnya

Tutup

Tekno

RiTX Dorong Kemandirian Petani Indonesia

12 Maret 2018   11:08 Diperbarui: 12 Maret 2018   11:16 576 0 0
RiTX Dorong Kemandirian Petani Indonesia
dokumentasi pribadi

Sebuah kehadiran teknologi dapat dikatakan mampu mengubah yang ada di sekitar. Baik dalam kehidupan sosial saat ini, maupun pada masa yang akan datang. Tak sedikit pula yang berbondong-bondong menciptakan teknologi baru untuk menggugah manusia sekarang ini.

Tujuan dan upaya untuk mencapainya pun berbeda-beda antara satu teknologi dengan teknologi lainnya. Hanya satu hal yang serupa dari teknologi-teknologi tersebut yaitu memberikan kemudahan ataupun kenyamanan untuk manusia.

Termasuk RiTX, sebuah teknologi digital yang diinisiasi oleh UMG Idealab. Tidak lain tidak bukan adalah memberikan kemudahan kepada penggunanya. Berbeda dengan teknologi yang telah marak pada sektor transportasi saat ini, RiTX sendiri lebih mengfokuskan diri kepada petani-petani di Indonesia.

Hal tersebut dilatarbelakangi kondisi Indonesia sebagai negara agraris saat ini. Tak dapat dipungkiri, impian menggaungkan kembali swasembada pangan merupakan PR yang sangat besar untuk Indonesia. Ditambah, dengan kesejahteraan petani Indonesia yang makin hari makin terpinggirkan.

Polemik itulah yang tengah diurai oleh RiTX melalui teknologi yang dimilikinya. Seperti yang disampaikan salah satu peneliti RiTX Indonesia, Abi Pratiwa Siregar sebagai narasumber dalam acara Diskusi Panel "Dari Indonesia Untuk ASEAN" , Sabtu (10/3).

Dalam kegiatan yang diusung ASEAN Studies Forum (AST) ini, hadir pula dua pembicara lainnya. Yaitu, Walid Anante Dimunte seorang lulusan Kajian Asia Tenggara di Thammasat University, Bangkok dan peneliti ekonomi INDEF Izzudin AlFarras Adha.

Lanjutnya, Abi menyampaikan, solusi nyata yang diberikan RiTX Indonesia untuk petani adalah dengan melalukan pendampingan secara langsung. Mengingat, salah satu permasalahan yang dialami petani saat ini adalah kurangnya pendampingan, bukan penyuluhan.

"Saat penyuluhan narasumber hanya menyampaikan informasi di hari itu saja. Tapi, berbeda dengan RiTX, kami membentuk grup komunikasi untuk memudahkan petani bertanya tentang masalah yang tengah dihadapi," jelasnya.

Mengingat, setiap petani di daerah yang berbeda memiliki permasalahan yang berbeda pula. Sering kali, di saat seperti itulah petani merasa bingung harus bertanya kepada siapa, dikarenakan ilmu yang mereka miliki terbatas.

Bahkan, tak sedikit ilmu yang dipakai adalah ilmu warisan yang berikan orang tuanya atau sebelum-sebelumnya. Tentu, hal tersebut bertolak belakang dengan perkembangan masa saat ini dan mendatang. Solusi yang dihadirkan pun harus sesuaikan dengan saat ini.

Ia menyebutkan, persoalan yang sering kali ditanyakan petani dalam salah satu fitur unggulan RiTX adalah perihal penyakit yang diderita tanamannya. Kenapa tiba-tiba mengering atau menguning disaat belum panen maupun cara menghilangkan penyakit dan penyebabnya. Kemudian, berlanjut soal pembudiyaan, bagaimana memaksimalkan dan cara melalukannya.

Selain itu, kerap kali mereka pun menjadi yang dirugikan baik saat kondisi pangan turun maupun naik. Sebut saja beras salah satunya, yang akhir-akhir sempat mengalami kelangkaan dan tingginya harga beras. Kemudian, ditambah dengan keputusan impor beras oleh pemerintah, tak ayal tentunya petani-petani kita menjerit. Saat harga beras naik, lanjut ia, petani tidak menerima keuntungan di dalamnya. Apalagi saat harga beras turun, maka nilai jual beras petani pun semakin mencekik mereka.

Menurutnya, hal tersebut disebabkan adanya rantai penjualan yang sangat panjang. Tak sedikit pula tengkulak memainkan harga pasaran. Pada kondisi seperti itulah yang coba dipangkas oleh RiTX, melalui salah satu fiturnya yang mempertemukan petani dengan pembelinya. Bahkan, dengan harga komoditi yang sesuai, tidak merugikan petani maupun menguras kantong konsumen.

Pun, fitur tersebut tidak dimaksudkan untuk memonopoli penjualan maupun memotong rantai penjualan dengan gamblang. Namun, memberikan tekanan kepada tengkulak agar tidak bisa memainkan harga yang dapat merugikan petani maupun konsumen.

"Sehingga, petani pun tidak akan terjerat lagi oleh hutang maupun kredit yang tidak tahu bagaimana harus melunasinya. Karena, dari hasil panen mereka pun mampu untuk membayarnya," ungkap Abi dalam kegiatan ASF yang terlaksana di Sampoerna Academy, L'Avenue, Pancoran, Jakarta Selatan.

Ia menegaskan, perihal-perihal yang diupayakan RiTX adalah untuk mendorong kemandirian petani dan memajukan kesejahteraanya. Sehingga, dengan perlahan Indonesia bisa mencapai swasembada yang diinginkan dan kembali menjadi negara agraris yang patut dipertimbangkan, setidaknya untuk ASEAN sendiri. Mesipun, perjalanan Indonesia masih cukup panjang untuk mencapainya.

Peneliti Ekonomi INDEF, Izzudin mengungkapkan, pemerintah pun harus lebih dahulu membenahi kedaulatan pangan internalnya sebelum bisa menjadi unggulan di ASEAN. Masih banyak PR yang belum diselesaikan oleh pemerintah meskipun sudah memasuki MEA saat ini.

Begitu pula dengan Walid (alumni Thammasat University) mengatakan, setiap negara memiliki standard dan klasifikasinya dalam pengan. Bahkan, masing-masingnya memliki High Sensitive List yang tidak bisa dicampuri sesama negara ASEAN. Akan sulit bagi pangan Indonesia pula untuk bisa mempengaruhi apabila kedalautan pangan internalnya belum bisa diperbaiki.