Mohon tunggu...
Uli Hartati
Uli Hartati Mohon Tunggu... Blogger

A wife, mommy of 2 boys, working mom also as a blogger Contact me : WA 089627103287 Email uli.hartati@yahoo.com Blog http://ulihape.com IG dan Twitter @ulihape

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

7 Penyebab Belajar dari Rumah Tak Efektif

17 Juni 2020   11:07 Diperbarui: 17 Juni 2020   13:30 71 5 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
7 Penyebab Belajar dari Rumah Tak Efektif
Tahun Ajaran Baru-Image by Canva Edited by Ulihape

Artikel ini saya tulis setelah mendengar keputusan Mas Menteri bahwa fix Tahun Ajaran Baru tetap Juli, dan apapun keputusannya sebagai orang tua pasti kita support pemerintah. Namun karena Mas Menteri tampak tak tegas dalam keputusan tersebut maka saya ingin memberikan pengalaman saya selama mendampingi kedua anak saya selama melakukan pembelajaran dari rumah. Gak tegas gimana? Ituloh kapan sekolah melakukan tatap muka pada akhirnya tergantung persetujuan orang tua, kalo begini ceritanya memang bakalan gak akan ada kesepakatan mutlak, yah gimana orang tua sajalah!

3 bulan anak-anak melakukan Belajar Dari Rumah (BDR), memang empati saya kepada para guru makin baik tapi ini hanya berjalan di awal saja, karena pada akhirnya saya merasa "enak dong ya guru cuman kasih nilai, urus administrasi keguruan". Tulisan ini bukan berarti saya mengalami hal tak menyenangkan, tulisan ini murni untuk evaluasi mengapa saya menilai BDR tak efektif dan itu alasan kenapa pada artikel sebelumnya saya meminta Mas Menteri mengundur saja Tahun Arajan Baru apabila tatap muka di sekolah tak bisa dijalankan.

Berangkat haji saja batal karena mepetnya pemberitahuan dari Saudi, lantas apakah Mas Menteri bisa yakin dalam waktu 3 bulan kemarin bisa menciptakan proses BDR yang efektif dengan situasi saat ini? Tahukah Mas Menteri kalau ada banyak sekolah di desa tertinggal bahkan tak melakukan kegiatan belajar mengajar selama pandemi ini?

Status teman saya praktisi pendidikan PAUD
Status teman saya praktisi pendidikan PAUD

Lantas kenapa saya yang tak mengalami masalah malah ingin Tahun Ajaran diundur? Itu karena saya merasa kasihan pada anak-anak dan ada poin-poin yang membuat orang tua merasa gak ikhlas menjalani BDR, so let's check kenapa saya bisa bilang BDR tak efektif buat murid dan orang tua.

  1.  Orang Tua Tak Punya Ilmu Keguruan, saya dan suami sama-sama Sarjana namun itu bukan berarti saya bisa menjadi guru buat kedua anak saya. Anak saya baru kelas 1 SD dan TK A, jadi untuk urusan materi pelajaran saya masih sangat bisa handle. Kendalanya saya tak punya ilmu keguruan, makanya kan kalau mau jadi tenaga pendidik kita saja dituntut untuk mengambil 1 tahun ilmu keguruan. Jadi apakah Mas Menteri bisa merasakan sudah jadi apa anak-anak selama di rumah? Yang orang tuanya bisa ngajarin ya OK yang gak bisa? 
  2. Materi Satu Hari Diselesaikan Satu Jam, 3 bulan BDR jelas mengasyikkan buat kedua anak saya lah gimana gak? materi buat satu hari  sekolah bisa beres kok dalam satu jam. Ya gitu kalau orang tua bukan guru, disuruh bikin hurf A yo wes tulis A. Coba kalau bu guru? Bikin huruf A saja bisa sampai satu jam penjelasannya karena memang guru punya ilmunya. BDR yang begini jelas disukai anak-anak karena mereka berpikir untuk segera bermain.
  3. Anak Menuntut Bermain, setelah selesai BDR apa kegiatan anak? Oh orang tua nya dong yang bikin kegiatan apa kek? Yuhuu Mas Menteri, saya ini WFH loh bukan cuti dari kantor. Jadi ketika mendampingi anak-anak sayapun tergesa-gesa supaya kewajiban sebagai kuli bisa jalan juga
  4. Anak Sudah Tak Rindu Sekolah, setelah artikel kemarin ada seorang pembaca yang menelepon saya. Beliau menanyakan gimana semangat anak-anak saya selama BDR? Saya jawabnya apa adanya kalau yang SD memang biasa saja karena dia sudah mengerti punya teman, ada kegiatan sekolah, mengerti tugas sekolah. Namun yang TK bagaimana? Si anak TK ini belum paham apa arti teman, jadi selama BDR dia happy dan sekarang bilang "Aku sudah gak kangen sekolah". Nah si Bapak bilang bahwa bisa jadi ini mirip dengan Summer Slide, bahwa hasil penelitian di luar negeri yang menjalani empat musim, ketika anak-anak menjalani liburan di musim panas maka ditemukan fakta kemerosotan dalam minat belajar karena liburnya terlalu panjang.  
  5. Tak Semua Guru Memberi Materi Dengan Baik, awal melakukan BDR saya sempat bertanya kepada Ibu Wali Kelas "mengapa tak ada materi visual?" sehingga anak-anak tetap merasa ada tatap muka dengan para guru? Jawabannya adalah karena gak semua guru bisa membuat konten materi dengan visual. Saya bisa apa Mas Menteri? Salah pilih sekolah? Tidak! ini karena memang kita tak pernah siap dengan sistem belajar online. Lah kampus yang ngaku online saja banyak yang gak bener kok mas, apalagi kalau sekolah-sekolah ini mendadak online karena Covid-19 kebayanglah kan gimana nya? Di desa-desa sana malah guru-guru banyak yang sudah berumur ya boro-borolah punya hp android
  6. Bayar Sekolah Tetap Full, nah alasan yang bikin bete tuh ada sekolah-sekolah yang bayar SPP nya tetap full. Kok rasanya gak fair ya? Coba deh Mas Menteri bikin aturan yang tegas kasih instruksi sekolah-sekolah untuk memberi diskon bila memang gak ada tatap muka. Kelas ber AC jelas gak di pakai, pemakaian listrik ya jelas berkurang (eh tapi kemarin PLN bilang karena WFH malah banyak pemakaian, lah iku tetangga seumur hidup WFH malah ikutan naik juga). Kalaupun tatap muka gak bisa dis ekolah saya berharap guru-guru mau melakukan visit untuk melakukan penilaian terhadap anak didiknya.
  7. Tak Ada Tuntutan dan Persaingan, BDR ini juga saya lihat membuat anak saya santuy. Tak berangkat ke sekolah akhirnya dia tak perlu mempersiapkan emosi untuk bertemu teman yang menyenangkan maupun tidak, untuk bertemu dengan guru yang dia suka atau tidak. Semuanya hilang karena BDR dan ketika akan kembali masuk Januari nanti maka ini sama saja seperti menjalani Tahun Ajaran Baru yang tak baru. Dan selama BDR kalau ujian santuy banget, kalau saya sih tetap tegas karena saya paling anti menipu diri sendiri. Anak saya sampai kesal ujian di rumah kok masih latihan soal haha. Tapi ada berapa banyak orang tua yang tegas? 

Saya sendiri ada di Zona Merah maka sudah dipastikan kalau dari data Mas Menteri tak boleh ada tatap muka. Harapan ku sekolah bisa membuat kebijakan lain, toh Mas Menteri pada akhirnya menyerahkan keputusan pada orang tua bukan? Sekolah-sekolah silahkan ajukan polling mana orang tua yang setuju dan tidak setuju anaknya kembali ke sekolah. Kalau ada yang setuju maka sekolah wajib memfasilitsinya dengan pembelajaran sesuai protokol Covid-19. 

Kalau aku termasuk orang tua yang mana? Aku setuju anak melakukan tatap muka dengan guru selama memang sesuai protokol Covid-19. Kok tega sih lu? Helloo pernah lihat mak emak ajak anak naik angkot? Pernah lihat mak emak ajak anak ke pasar? Banyaaaaakk dan itu karena anaknya gak sekolah haha. 

VIDEO PILIHAN