Mohon tunggu...
Ukonpurkonudin S. Hum
Ukonpurkonudin S. Hum Mohon Tunggu...

Arti Sebuah Nama..... Ketika cahaya hati bertambah bersinar. Cahaya kepalapun menjadi padam. Ketika cahaya hati menjadi sempurna. Cahaya kepala akan kembali berkilau. Hati ialah cerminan jiwa. Sedangkan jiwa adalah ruh. Ruh merupakan sesuatu yang ghaib. Dialah yang maha ghaib. Akal ialah sesuatu yang berharga. Yang dimiliki setiap insan manusia. Yang membedakan antara hak dan batil. Itulah Al-Furqan sebagian dari namanya. Furqon adalah namaku. Quran adalah jalan hidupku Muhamad adah nabi dan imamku Ka’bah adalah kiblat agamaku Allah adalah tuhanku Islam adalah agamaku Aku berserah diri Islam menjadi agama

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sastra Sebagai Ilmu yang Menopang Peradaban

8 Juni 2011   02:05 Diperbarui: 26 Juni 2015   04:45 0 0 0 Mohon Tunggu...

Sastra bisa dikatakan sebagai sesuatu bentuk karya manusia yang mempunyai nilai estetis dan terlahir dari imajinitas pikiran sang proses kreatif karya itu sendiri. Sastra selalu dibenturkan dengan pemikiran imajinatif, dunia maya, ilusi, kebohongan, bahkan ada yang mengklaim pembodohan. Terlebih lagi dalam dunia pendidikan sastra selalu diklaim sebagai ilmu yang tidak ilmiah karena bergantung pada intuisi dan perasaan terlebih lagi teori, metode dan pendekataannya belum matang bahkan lebih ekstrim lagi tidak ilmiah dan tak jelas. Banyak sekali faktor yang melatarbelakangi sastra sebagai ilmu yang belum mapan karena diklaim sebagai pembodohan dan tak ada gunanya.

Anggapan miring diatas tentang sastra merupakan klaim temporal yang sifatnya memfonis dan menjustisifikasi secara sepihak bahwa sastra tidak mempunyai peran penting sama sekali dalam membangun tatanan social masyarakat dan peradaban umat. Dalam majalah, Koran atau laman berita lainnya, sastra hanya dijadikan suplemen dan pelengkap saja atau hanya sebagi sarana hiburan yang fungsinya hanya sebatas untuk memenuhi laman berita atau Koran tersebut. Klaim miring itu semua tidak bisa di benarkan begitu saja karena pada dasarnya sastra merupakan suatu ilmu yang telah mengakar dari nenek moyang kita yang diwariskan dari generasi kegenerasi. Dari segi historisnya sastra dijadikan metode dan sarana untuk mendidik dan membina prilaku umat

Pada tuisan ini, penulis akan membahas peran dan fungsi sastra dalam pada dunia pendidikan  dan memberi sedikit ulasan tentang peran fungsinya dalam menciptakan manusia terdidik di tatanan social masyarakat dan terlebih lagi sebagai pencipta peradaban.

Sastra merupakan disiplin ilmu yang sudah mengakar sejak zaman Yunani kuno seperti puitica karyanya aristotoles, homerus dan kritik sastranya julius cesar pada masa bangsa romawi. Dalam perkembangannya ilmu sastra mengalami keterpurukan, kemerosotan dan hanya menjadi suplemen pelengkap dalam ilmu-ilmu moderen sekarang ini. Ilmu sastra kalah saing dengan ilmu sosial atau saint karena sastra dianggap tidak ilmiah dan tidak mempunyai metode penelitian yang jelas dan selalu disampingkan karena tidak mempunuyai sumbangsih yang jelas terhadap perkembangan keilmuan moden. Semua anggapan yang negatif diatas sudah hilang setelah berakhirnya masa modern. pada masa postmodern ataupun dalam periodesasi sastra lebih dikenal dengan masa struktural pada masa poststruktural. Pada masa struktural sastra sangatlah kaku dan selalu dibenturkan dengan struktur otonomi sastra itu sendiri, sastra tidak menerima pengaruh dan bantuan dari ilmu lain karena keotonomannya yakni seni untuk seni (fan lil fan). Sedangkan pada masa poststruktural sastra tidalah kaku dan monoton yang selalu dikaitkan dengan estetika atau seni itu sendiri, pada masa ini terdapoat pergeseran paradigma dan banyak sekali sentuhan dan pengaruh dari ilmu lain sehingga tidak ada sekat pemisash antara sastra dan ilmu-ilmu modern saat ini. Ketika bersentuhan dengan ilmu-ilmu sosial maka lahirlah sosiologi sastra, ketika bersentuhan dengan kejiwaan manusia maka lahirlah pskologi sastra, ketika bersentuhan dengan ilmu budaya maka lahirlah antropologi sastra dan yang lainnya.

Sastra sudah menjadi disiplin ilmu yang ilmiah dan mempunyai metode yang jelas. Ada tiga muatan sifat dasar dalam sastra yang harus dipenuhi sebagai karya yang mempunyai nilai tinggi dalam tatanan sosial dan relevansinya dalam kehidupan masyarakat, yakni muatan estetis, etis dan logis. Tiga aspek ini merupakan trilogi keilmuan yang indah, baik dan benar. pada masa pertengahan eropa yang pada umumnya sastralah yang tersubordinasikan terhadap etika dan logika, artinya segala sesuatu benda dikatakan indah apabila juga mengandung nilai etika dan logika.1

Secara etimologis kata sastra berasal dari bahasa sansekerta, dibentuk dari akar kata sas- yang berarti mengarahkan, mengajar dan memberi petunjuk. Akhiran –tra yang berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk. Secara harfiah kata sastra berarti huruf, tulisan atau karangan. Kata sastra ini kemudian diberi imbuhan su- (dari bahasa Jawa) yang berarti baik atau indah, yakni baik isinya dan indah bahasanya. Selanjutnya, kata susastra diberi imbuhan gabungan ke-an sehingga menjadi kesusastraan yang berarti nilai hal atau tentang buku-buku yang baik isinya dan indah bahasanya.sedangkan dalam bahasa inggris berasal dari kata letter, jerman letterich, belanda letterkunde, francis litterature semuanya mengacu pada bahasa latin lettera yang mempunyai makna huruf atau tulisan dan yang selalu dikaitkan dengan gramatika atau susunan bahasa. Sedangkan dalam bahasa arab mempunyai makna adab. sedangkan kata adab sendiri mempunyai arti Akhlak atau budi pekerti dan mencakup makna memberikan pendidikan atau pelajaran, begitu juga pada. Ini dinisbatkan dari sabda Rasuluallah SAW:

أدبنى ربى فأحسن تأديبى

Artinya: Tuhanku telah mendidik akhlaku sehingga ahlakku menjadi baik.

Kata adab sendiri mempunyai banyak padanan kata dan sulit bsekali mencari padanan katanya yang sesuai.kata adab mempunyai makana madaniyah (civilization), hadlarah (peradaban), tsaqofah (kebudayaan). Turats (tradisi) dan fikr (pemikiran). Kelima istilah diatas memiliki arti yang saling tumpang tindih tetapi dengan tingkat spesifikasi dan generalitas yang berbeda. Madaniayah adalah kata yang general mencakup hadlarah (peradaban), tsaqofah (kebudayaan). Turats (tradisi) kesenian, kesusastraan, ilmu pengetahuaan gaya hidup personal dan komunal. Sedangkan hadlarah mempunyai tingkat generalitas dibawah madaniyah, sebab ia hanya mencakup aktivitas akal budi pekerti atau pemikiran-pemikaran yang menjadi basis produk material. Sedangkan tsaqofah lebih spesifik karena hanya terpokus pada sisi pemikiran dalam hadlarah baik pada tatanan teoritis maupun praktis,. Adapun turats menunjukan pada produk hadlarah (peradaban) dibidang pemikiran, kesusastraan kesenian termasuk diantaranya adalah tradisi rakyat. Dan fikr merujuk pada dimensi teoritis pemikiran dalam tsaqofah (kebudayaan

Sedangkan menurut para ahli dan kritikus sastra secara terminologi sastra didefinisikan sebagai berikut;

Mursal Esten, menyatakan sastra atau kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan punya efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan). Suyitno, Sastra adalah sesuatu karya yang imajinatif, fiktif dan inventif juga harus melayani misi-misi yang dapat dipertanggungjawabkan. .Damono, mengungkapkan bahwa sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat, antar masyarakat dengan orang- seorang, antarmanusia, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang.

Melihat dari semua definisi yang ada sastra merupakan sebuah alat atau metode untuk mendidik. Baik itu sifatnya mengarahkan dan memberi petunjuk manusia yang tertuang dalam karya-karya baik itu tulisan seperti nopel, puisi, cerpen, lisan orasi pidato, dan seni gerak seperti drama atau film.

artikel ini merupakan sebuah kutipan dr makalh saya yang ada di blog:  http://ukonpurkonudin.blogspot.com/2011/05/sastra-pendidikan-islam-dan.html

KONTEN MENARIK LAINNYA
x