Mohon tunggu...
Ujang Ti Bandung
Ujang Ti Bandung Mohon Tunggu... Wiraswasta - Kompasioner sejak 2012

Mencoba membingkai realitas dengan bingkai sudut pandang menyeluruh

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Memahami Realitas sebagai System

13 Maret 2024   11:15 Diperbarui: 13 Maret 2024   17:59 90
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Images : logotyp.us

Definisi system :

Seperangkat element yang digabungkan satu dengan lainnya untuk suatu tujuan bersama.

Menurut Sutabri, sistem adalah suatu kumpulan atau himpunan dari suatu unsur, komponen, atau variabel yang terorganisasi, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain dan terpadu.

Ciri-ciri sistem yaitu terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan. Setiap komponen berkoordinasi untuk menjalankan fungsinya. Jika salah satu komponen hilang maka sebuah sistem tidak akan bisa berjalan.

Itu penjelasan formal-umum yang dapat kita temukan di media tentang system

.............

Pertanyaan pertama : Mengapa kita mesti memahami realitas sebagai system atau dari sudut pandang system,mengapa tidak full dengan indera dan metode empirik (bukankah ini lebih "pasti"-karena dapat dilihat mata ?)

Karena tidak bisa full dengan indera,tidak bisa full menggunakan metode empirik itulah maka kita berupaya menangkap atau memahaminya sebagai system dan subsystem

Fakta bahwa dalam dunia sains sendiri tidak seluruh obyek yang dibicarakan itu dapat dihadirkan secara empirik, sebagiannya tetap gaib,sehingga dalam sains banyak hipotesa hipotesa,gagasan gagasan teoritis disamping yang sudah empirik (terverifikasi secara indera)

Bedanya adalah,kalau menangkap realitas empirik itu full menggunakan indera (+bantuan alat teknologi) sedang kalau menangkap system itu mesti dengan akal pikiran.Karena system adalah suatu yang bukan selalu nampak secara langsung tapi suatu  yang untuk memahami substansinya mesti menyertakan akal pikiran

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun