Ujang Ti Bandung
Ujang Ti Bandung wiraswasta

Mencoba membingkai realitas dengan bingkai sudut pandang menyeluruh

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Menembus Dimensi Hakikat sebagai Lapisan Realitas Terdalam

16 Maret 2019   08:03 Diperbarui: 17 Maret 2019   21:04 223 5 1
Menembus Dimensi Hakikat sebagai Lapisan Realitas Terdalam
Images : whitedolphinwoo.wordpress.com

Sesungguhnya realitas itu berlapis, ada yang kasat mata dan ada yang tak kasat mata. Ada yang bisa ditangkap mata kepala, ada yang hanya dapat ditangkap mata batin semisal realitas adanya cinta-kasih sayang.Ada alam lahiriah yang bisa masuk pengalaman dunia indera dan ada alam gaib yang diluar pengalaman dunia indera.ada realitas abstrak seperti unsur niat dan ada realitas nampak seperti perbuatan lahiriah-fisik

Itulah pemahaman terhadap realitas yang multi dimensional dan pemahaman terhadap realitas yang multi dimensi adalah syarat utama untuk bisa memahami agama sekaligus konsep metafisika secara utuh

Karena jangan salah ada golongan yang pemahamannya terhadap realitas hanya satu dimensi yaitu kaum materialist yang memandang realitas sebagai entitas yang hanya bersifat material dan karenanya mereka tidak akan pernah bisa memahami konsep agama yang berdasar konsep multi dimensi itu serta konsep metafisika yang bersifat utuh-menyeluruh

Nah persoalannya banyak yang tidak mengimplementasikan pengetahuan tentang cara pandang multi dimensional itu dalam realitas kehidupan sehari hari. Bahkan pada orang orang yang mengaku beragama sekalipun maka pandangan mereka terhadap realitas dunia kadang seperti tak ubahnya cara pandang kaum materialist

Banyak dari kita yang mengklaim beragama yang masih tertipu oleh segala bentuk pernak pernik duniawi yang nampak mata dan lupa kepada adanya hakikat dibalik itu semua atau dengan kata lain, masih banyak yang mengaku beragama tapi masih tidak faham apa itu 'hakikat', mereka masih saja mudah terpesona serta tertipu oleh fenomena yang nampak mata lahiriah

Hakikat itu bermakna 'hal terdalam dari segala suatu atau asal muasal terdalam dari segala suatu' dan untuk sampai kepada pengetahuan serta pemahaman sesungguhnya tentang 'hakikat' maka mau tak mau seseorang harus masuk ke dunia agama.Karena hanya Tuhan yang bisa memberi gambaran utuh-menyeluruh tentang makna-pengertian 'hakikat' artinya, pengetahuan menyeluruh tentang hakikat itu tidak akan dapat manusia peroleh dalam dunia sains maupun filsafat. Sains hanya menelusur dunia alam lahiriah-material dan filsafat ketika berbicara tentang hakikat itu bersifat terbatas,hanya sebatas yang akal fikiran manusia dapat fahami serta masih dapat menjangkaunya.

Sedang hakikat dari segala suatu itu hal yang sudah berada diluar wilayah logika-bukan wilayah logika karena eksistensi keberadaannya tidak dibuat serta tidak ditentukan oleh logika manusia melainkan oleh ketetapan sang pencipta.sebagai contoh; hakikat manusia itu berasal dari tanah, hakikat kehidupan itu adalah bermakna ujian, maka hal hal seperti itu tidak ditentukan atau tidak ditetapkan atau dikonsepsikan oleh logika-oleh dunia sains-filsafat melainkan dinyatakan oleh sang pencipta

Nah sang pencipta memiliki serta memegang hakikat dari seluruh yang nampak kedalam pengalaman dunia inderawi dan hakikat demikian dapat didalami serta difahami hanya oleh orang orang yang mau mendalami dan  tentu memegangnya

Analoginya; bila sekumpulan orang menonton sebuah sandiwara diatas panggung dengan jalan ceritera yang panjang dan berliku maka tiap penonton kelak  mungkin akan berupaya membuat tafsiran sendiri sendiri atas makna ceritera sandiwara itu,tetapi hakikat yang sesungguhnya dari makna ceritera sandiwara itu ada di tangan sang pembuat ceriteranya dengan kata lain sang pembuat ceritera itulah yang memegang 'hakikat' sesungguhnya dari makna ceritera yang dibuatnya, para penonton ibarat para failosof yang hanya berupaya meraba raba.

Maka persis seperti itulah logika logika manusiawi seperti yang lahir dari dunia filsafat yang mencoba membuat tafsiran atas berbagai realitas kehidupan, yaitu ibarat para penonton sandiwara yang mencoba membuat tafsiran sendiri sendiri atas jalan ceritera yang diamatinya tetapi hakikat atas berbagai realitas kehidupan tentu saja dipegang oleh sang penciptanya.

Dengan kata lain, realitas terdalam yang merupakan 'hakikat' dari jalan ceritera sandiwara yang membuat ceritera sandiwara itu bisa eksis diatas panggung ada ditangan sang pembuat ceriteranya dan karenanya sebagaimana juga opini opini,tafsiran tafsiran serta filosofi filosofi manusiawi maka tafsiran para penonton sandiwara itu kebenarannya bersifat spekulatif-tidak hakiki, karena kebenaran 'hakiki' seputar jalan ceritera sandiwara itu dipegang oleh sang pembuatnya sendiri

Itulah, kebenaran yang disandarkan pada pemahaman terhadap 'hakikat' disebut 'kebenaran hakiki' atau kebenaran yang sesungguhnya, bukan kebenaran 'bayangan'.kalau sesuatu wujud fisik terkena cahaya maka 'kebenaran yang sesungguhnya' bukanlah bayangan dari benda itu

................................

Dan itulah,pemahaman terhadap makna 'hakikat' itu berhubungan dengan pengetahuan terhadap realitas yang bersifat multi dimensi. Artinya sebagai contoh, seorang yang memahami realitas hanya sebagai suatu yang terbatas nampak kedalam pengalaman inderawi misal, itu tidak akan memahami apa makna 'hakikat' yang sesungguhnya, seorang yang ingin memahami apa itu 'hakikat' mutlak harus memiliki pandangan multi dimensi, memiliki mata batin disamping mata lahir.

Artinya, seorang yang memahami apa itu 'hakikat' adalah seorang yang pandangannya dapat menembus lapisan terdalam dari realitas.maka karena itu seorang yang memiliki mata batin yang dapat menembus hakikat ia tidak silau-tidak tertipu oleh segala suatu fenomena pernak pernik duniawi yang nampak mata karena ia dapat menangkap apa hakikat dibalik semua yang nampak itu tentu saja menutut sudut pandang sang penciptanya

Kesimpulannya,realitas itu tidak datar-tidak satu dimensi melainkan berlapis mulai dari yang nampak mata lahir hingga ke yang hanya dapat ditangkap mata batin. Nah hakikat dari segala suatu terletak di lapisan realitas terdalam yang hanya dapat ditangkap oleh mata batin,dengan kata lain apapun yang nampak kedalam pandangan dunia inderawi tidak selalu mencerminkan hal yang sesungguhnya.seseorang yang menampakkan diri sebagai 'baik'-'saleh' dihadapan mata inderawi manusia hakikatnya belum tentu demikian.

Seorang yang menampakkan diri sebagai orang yang mengklaim beragama maka hakikatnya belum tentu demikian dihadapan Tuhan.sebuah ideologi buatan manusia yang diproklamirkan sebagai suatu yang 'baik' dan 'benar' dihadapan manusia belum tentu hakikatnya demikian dihadapan Tuhan. seorang yang di citrakan sebagai tokoh publik yang kepribadian serta pandangan pandangannya dipandang baik dan benar maka belum tentu hakikatnya demikian dihadapan Tuhan

Dengan kata lain, seorang yang faham ilmu 'hakikat' maka ia tidak akan tertipu atau terkecoh oleh segala bentuk pencitraan, opini opini, persepsi persepsi hingga ke filosofi filosofi atau pandangan pandangan manusiawi yang berada dibalik semua mazhab filsafat-isme-ideologi buatan manusia karena ia tahu bahwa semua itu hanya ibarat bayangan semata dari sebuah obyek fisik yang terkena cahaya-bukan obyek yang sesungguhnya-tidak mencerminkan hakikat yang sesungguhnya

..........................

Lalu bagaimana cara untuk dapat menggapai pemahaman akan hakikat sebagai realitas terdalam dari segala suatu itu agar tidak tertipu oleh berbagai fenomena yang nampak mata itu ?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2