Mohon tunggu...
Bujang
Bujang Mohon Tunggu... Melihat Dari Sudut Pandang Lain

Penulis Sejati

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Jalan Pengabdian Mulyadi dari Senayan ke Rumah Bagonjong

30 Oktober 2020   06:37 Diperbarui: 30 Oktober 2020   07:09 26 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jalan Pengabdian Mulyadi dari Senayan ke Rumah Bagonjong
Sumber: Facebook Ir. Mulyadi 

Dua tulisan yang sama di akun Kompasiana diposting oleh Roberto Amando dan Ari Lesmana mempertanyakan Mulyadi tinggalkan 144.954 pemilih demi maju ke pilgub Sumbar. Judul dan isi yang sama memperlihatkan kalau tulisan ini dibuat oleh satu orang.

Inti dari tulisan Roberto dan Ari, Mulyadi dianggab meninggalkan pemilih yang telah memilihnya pada pemilu 2019 dengan maju sebagai calon gubernur. Roberto dan Ari mempertanyakan lagi kenaikan suara Mulyadi dari pemilu 2014 dan 2019 jika pada akhirnya maju sebagai calon gubernur.

Jika bahasa yang digunakan Roberto dan Ari seperti itu, seolah-olah melarang orang yang mendapatkan dukungan tiga periode pemilu maju sebagai calon gubernur Sumatera Barat. Pada sisi lain, misalnya,  tidak melarang petahana yang belum berbuat banyak selama sepuluh tahun atau lima tahun untuk maju kembali. Lebih buruk dari itu, Roberto dan Ari melupakan kandidat yang berjanji tidak maju sebagai calon gubernur untuk tetap menyelesaikan jabatannya: jika pun ada.

Sekali lagi kembali terhadap pendapat kunci Roberta dan Ari, Apakah Ir. Mulyadi meninggalkan pemilihnya yang telah mengantarkannya sebagai anggota DPR-RI dengan suara tertinggi berturut-turut: 2014 dan 2019? Jika maju sebagai calon gubernur Sumatera Barat pada pilkada serentak 2020? Persepsi itu sah-sah saja, jika anggapan Mulyadi maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Tetapi, kenyataan Mulyadi maju sebagai calon gubernur Sumatera Barat.

Secara kewenangan, dengan maju sebagai calon gubernur Sumatera Barat Mulyadi  memperkuat posisi  masyarakat, terutama untuk pemilihnya pada pemilu 2019. Mulyadi tidak hanya punya wewenang membawa anggaran dari pusat dengan jaringan nasional yang dimilikinya, tetapi posisi gubernur akan lebih direalisasikan dengan program atau kebijakan-kebijakan lewat tanda tangannya sebagai gubernur.

Jika anggapan Mulyadi hanya memikirkan "kekuasaan", sejarah mencatat bahwa pada pilgub 2015 nama Mulyadi masuk sebagai calon gubernur potensial. Pilihanya untuk memberi ruang kepada Irwan Prayitno untuk melanjutkan kepemimpinan dan ia memaksimalkan lagi kinerjanya sebagai legislator. Kesempatan pada pilgub 2015 tentu tidak dibiarkan Mulyadi begitu saja jika jabatan gubernur hanya persoalan kekuasaan. Dukungan masyarakat yang terus naik dari pemilu ke pemilu, dorongan agar Mulyadi maju sebagai calon gubernur tidak ada lagi pilihan bagi Mulyadi kecuali mengambilnya pada tahun 2020.

Pilihan pengabdian Mulyadi dari Senayan ke Rumah Bagonjong (gubernur), langkah Mulyadi ingin berdampak terhadap banyak orang (masyarakat). Terpilih selama tiga periode berturut-turut sebagai anggota DPR-RI, ia telah lolos ujian elektoral. Sebagai politisi Mulyadi punya alasan yang kuat secara elektoral untuk maju sebagai calon gubernur. Proses yang dilaluinya tidak sedang uji coba sebagai calon gubernur, jika terpilih maka mengambil kesempatan tersebut, apabila gagal maka kembali melanjutkan jabatan sebagai Walikota atau Bupati.

Jalan pengabdian Mulyadi untuk masyarakat Sumatera Barat tidak tiba-tiba. Mulyadi datang dengan pengalaman, program, dan tawaran-tawaran terbaik untuk perubahan. Ia tidak sedang bercerita sesuatu yang belum ia lakukan. Kinerja terbaik sebagai legislator selama tiga periode barometer kalau Mulyadi berhak dan pantas diberikan kesempatan untuk memimpin Sumatera Barat. Kepantasan Mulyadi tidak dengan harapan kosong dan janji yang diharapkan ketika ia terpilih, tetapi melanjutkan dari kinerja yang telah ia lakukan untuk Sumatera Barat.

Singkat kata, merujuk kepada motto Semen Padang " Mulyadi Telah Berbuat Sebelum Calon Lain Memikirkan", Mulyadi sudah melakukan pekerjaan gubernur sebelum terpilih sebagai gubernur. Sekian.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x