Mohon tunggu...
twinkle lily
twinkle lily Mohon Tunggu... Never Give Up

Freelancer translator and IRT

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Finish What You Started

26 Mei 2021   16:00 Diperbarui: 26 Mei 2021   16:14 320 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Finish What You Started
mob-60ae0195d541df60d272c2c2.jpeg

Berawal dari suami diajak temannya main Mobile Legends, salah satu gim terpopuler sejagad raya, akhirnya anak saya pun ikut main. Padahal si bocah baru berusia 5 tahun. Dari coba-coba, akhirnya si bocah mulai menikmati gim legendaris itu. Awalnya saya pikir tidak masalah, sebab anak-anak masih libur panjang, hanya untuk mengisi waktu. Sesekali saya dengar celoteh lucu dari si bocah. Misalnya, "Gimana sih ini? Masa aku dipanggil Om? Aku ini masih kecil, bukan Om!" "Lho, kok dia mainnya gitu. Lawan anak kecil aja kalah?" Padahal tidak lama setelah itu, dia pun kalah. Dari celotehnya selama bermain, dan cerita-cerita dia, teka-teki dia sebelum kami tidur, saya jadi tahu sedikit nama-nama karakter di Mobile Legends.

Masalahnya, libur telah usai. Anak harus kembali sekolah, walau pembelajaran jarak jauh. Mulailah sang ibu harus membuat peraturan dan pembatasan waktu bermain gadget. Anak pun protes. Tapi apa daya, peraturan tetap peraturan. Saya batasi anak-anak hanya boleh main selama akhir pekan. Itu pun dengan syarat, selama hari lain mereka patuh dan melakukan kewajiban mereka dengan baik. Alhasil, hari Jumat, Sabtu dan Minggu sangat dinanti oleh sang bocah. Sesekali mereka mencoba nego agar diizinkan main di hari biasa, sesekali pula mereka mencoba menguji peraturan yang kami sepakati. Ada saja tingkah mereka yang membuat saya harus mengingatkan mereka bahwa jika mereka tidak patuh, mereka takkan saya izinkan main walau hari Jumat, Sabtu atau Minggu. I win. Membuat kesepakatan peraturan dengan anak menjadikan lebih mudah bagi mereka untuk mematuhinya.

Ada beberapa hal yang bisa saya jadikan pembelajaran untuk anak-anak saya dari permainan Mobile Legends.

Yang pertama, belajar untuk rendah hati dan menghargai orang lain. Mendengar celoteh anak saya, "Kok begitu aja gak bisa sih? Masa kalah sama anak kecil? Ah, dia cupu banget." Itu contoh-contoh kalimat yang diucapkan si bocah. Saya ajar mereka untuk menghargai orang lain. Bahwa tidak semua orang pandai main gim. Ada yang sudah hebat, ada yang masih pemula. Orang dewasa pun belum tentu lebih hebat main gim dibanding anak kecil. Bagaimanapun permaian orang lain, siapa pun itu, jangan pernah menghinanya. Hargai dan terima mereka apa adanya.

Yang kedua, ada peraturan dalam permainan ini bahwa jika saat bertanding satu tim, jika ada salah satu anggota yang tidak bermain sampai selesai, dan serta merta meninggalkan permainan begitu saja, dia akan dikenai sanksi yaitu poinnya dikurangi. Nah, si bocah mau tidak mau sesekali dia juga berhenti di tengah permainan. Mungkin karena dia merasa tidak akan bisa, atau saat sedang bermain, saya menyuruhnya berhenti untuk mandi atau makan, dan sebagainya. Yang jelas, si bocah melakukannya beberapa kali. Saat saya tahu, dia melakukan itu, saya bilang padanya, "Finish what you started." Kalau sudah main, ya harus sampai selesai satu permainan. Kalau sudah kerjakan sesuatu, lakukan sampai selesai. Sebelum beres, jangan ditinggal begitu saja. Jadi jika saya mau menyuruh si bocah melakukan sesuatu saat dia sedang main, saya bilang, "Selesai yang satu ini, sudah, jangan lanjut lagi. Lakukan yang Mama suruh dulu." Mereka pun mengerti dan melakukannya. Ibu senang, anak senang, nilai yang diajarkan pun diterapkan. Setidaknya anak mulai belajar tanggung jawab, jangan kabur.

Yang ketiga, never give up. Sebagai pemain pemula, si bocah sudah tentu sering kalah. Alih-alih memilih bermain yang mudah, si bocah berani bermain klasik, yang artinya dia menantang tim lain."Nekad sekali kau, Nak." Batin saya dalam hati. Tapi saya bisa sisipkan pesan moral dari permainan ini. Jangan mudah menyerah. Jika bertanding lalu kalah, ya coba lagi. Kalah lagi, ya coba lagi. Toh, ini hanya permainan. Saya bilang pada mereka, dalam hal lain pun, jika kalian melakukan sesuatu, lalu gagal atau kalah, coba terus sampai berhasil. Sambil mencoba lagi, toh kita bisa belajar dan semakin mengerti karakter di dalamnya dan cara bermain yang paling baik untuk kita. Cara untuk satu orang belum tentu berhasil juga untuk orang lainnya. Find your own style to play.

Yang keempat, jangan berhenti belajar. Saat bukan waktunya untuk main, si bocah akan nonton youtuber lain memainkan permainan ini. Dari sana dia sambil lalu, belajar juga cara-cara memainkannya, karakter, baju dan lain sebagainya dalam permainan ini. Salah satu yang sering dia lihat adalah Obit Si Anjing. 

Sebagai ibu, kita harus cermat dalam mendidik anak-anak di zaman sekarang ini. Mungkin anak lain tidak diizinkan main permainan ini di usia yang sama dengan anak saya. Itu keputusan masing-masing ibu. Yang jelas, dalam apa pun, sebagai ibu, kita harus cerdik menyelipkan ajaran-ajaran nilai yang penting kepada anak-anak kita. Semoga sembari bermain, mereka pun menangkap nilai-nilai yang kita ajarkan itu dan menjadi belak untuk hidupnya di kemudian hari saat dia beranjak dewasa dan harus menghadapi dunia luar. Semoga bermanfaat.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x