Mohon tunggu...
Tutut Setyorinie
Tutut Setyorinie Mohon Tunggu... Mahasiswa

A muslimah. Author. Novel Reader. Painter. Stargazer. And a public accountant in the future. Aamiin! | @tututsety | Another stories https://t.co/JeGtQEOdDe

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Artikel Utama

Cerpen | Pertemuan di Ujung Penantian

23 Mei 2019   22:13 Diperbarui: 25 Mei 2019   17:14 0 36 11 Mohon Tunggu...
Cerpen | Pertemuan di Ujung Penantian
Ilustrasi : www.christianegruenloh.com

Namaku Fitri. Mereka bilang, aku dilahirkan pada malam saat imam masjid mengumumkan bulan Ramadhan telah berakhir. Beratku saat itu tidak lebih dari 3 kilo. Berambut hitam, bermata tajam, persis seperti ibuku. Sedangkan alis mataku tipis melengkung, dengan bulu rambut yang acak-acakan. Mereka bilang, itu alis ayahku. 

Sedangkan aku, tidak tahu apa-apa. Tidak pernah bertanya, tidak pernah curiga. Aku seolah mengikhlaskan dunia yang telah menenggelamkan orang yang seharusnya kusebut ibu dan ayah. 

Bulan Fitri, 19 tahun lalu. Aku tidak punya apa-apa selain pakaian yang melekat di badan. Tidak rumah, tidak ayah, ibu, apalagi harta benda. Mereka yang seharusnya kusebut keluarga entah menghilang ke mana. Hingga kini, tidak ada yang kusebut orang tua. 

Bagiku sebutan itu adalah analogi klise. Toh, aku punya keluarga yang kusebut Abah dan Ama. Merekalah yang merawatku, membersihkan tubuhku dari kotoran, menyuapiku hingga membacakan dongeng pengantar tidur. Merekalah orang yang sering menyebut betapa miripnya aku dengan ibu dan ayah. Tapi mereka juga yang membungkamku ketika aku mulai bertanya.

"Mereka tidak akan kembali," sahut Abah suatu waktu.

Abah, kalian tidak pernah tahu bagaimana aku menyayanginya. Bagiku ia lebih dari sekadar ayah. Abah adalah orang yang pertama kali mengajariku naik sepeda. Ia juga mengajariku membaca, menulis, memberi makan sapi peliharaannya dan Abah pula yang mengantarkanku pada hari pertama sekolah.

Saat Ama memarahiku ketika tidak mau belajar, Abah membelaku. Ia bahkan mengajakku berkeliling dengan sepeda tuanya agar Ama tidak lagi menyuruhku belajar. Saat guruku memanggil perwakilan wali murid karena nilaiku merah. Abah pula yang maju, bahkan ia berbalik memarahi guruku. Katanya, jika ada anak murid yang gagal, seharusnya kegagalan itu merupakan pembelajaran bagi guru, bukan anak murid.

Banyak hal yang telah dilakukan Abah untukku, hingga jika ia berkata "Tidak", aku tidak akan membantahnya walau hanya di dalam pikiran. Namun kali itu berbeda. Aku benar-benar ingin bertemu mereka. Setidaknya melihat dalam bingkai foto lama. Namun Abah tetap menolak dengan mengatakan hal yang sama.

Kini harapanku tinggal Ama. Walau Ama sering memarahiku, namun aku tahu ia memiliki hati yang lembut. Sering aku memergoki Ama tengah mengusap kepalaku ketika tidur. Ia bahkan menjahitkan baju untukku ketika bulan Fitri tiba. Katanya sebagai hadiah pertambahan umurku.

Namun ketika aku bertanya, reaksi Ama tidak berbeda jauh dengan Abah.

"Untuk apa mencari mereka, tidak cukupkah Ama dan Abah untukmu?"

"Bukan begitu, Ama. Aku hanya ingin melihat wajah mereka. Bukankah Ama sering mengatakan bahwa mataku mirip Ibu? Aku hanya ingin tahu kepastiannya, Ama."

"Ama ingin istirahat di kamar," tutup Ama mengakhiri perbincangan itu.

Aku tidak ingin berdebat, aku hanya penasaran. Namun rasa penasaran itu larut selama 19 tahun. Aku merasa tidak perlu lagi menanyakan. Lagi pula, Ama benar. Ama dan Abah seharusnya cukup untukku. Mereka adalah pengganti orang tua di saat sudah memasuki usia senja.

Rasa ini terus kukubur hingga bulan Fitri menyapaku untuk ke dua puluh. Seperti biasa, aku menyalami Abah dan Ama dalam waktu yang lama. Aku juga membelikan mereka sebuah mukena dan peci baru untuk dipakai pada shalat hari raya. Ama kembali menghadiahiku pakaian. Kali ini lebih panjang, Ama menyuruhku untuk lebih menutup aurat. 

Abah menghadiahiku bros berbentuk bunga. Abah bilang, bros itu akan mempercantik jilbabku yang merupakan hadiah dari Ama. Ia menangis tersedu karena belum kesampaian membelikan sepatu baru untukku. 

Aku menggeleng sembari mengusap kedua matanya. "Aku tidak meminta, Bah." 

"Tapi kau pantas mendapatkannya. Lihatlah kelingkingmu yang bengkak. Ia sudah lebih dulu berbicara, walau mulutmu membungkam."

Abah selalu tahu. Ia adalah malaikat yang tidak hanya mendengar melalui telinga, tetapi juga pakai hati. Di usiaku ke dua puluh ini, aku sadar aku tidak butuh apa-apa lagi selain mereka berdua, Abah dan Ama, hingga pintu rumah mendadak terketuk.

Aku bangkit. Di hadapanku berdiri seorang wanita dengan rambut hitam panjang serta laki-laki di sampingnya dengan perawakan tegap dan beribawa. Wanita itu menatapku tajam, persis seperti caraku melihat seseorang. Beberapa detik kemudian, ia tersenyum. Persis seperti aku tersenyum pada seseorang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2