Mohon tunggu...
S Aji
S Aji Mohon Tunggu... Nomad Digital

Udik dan Pinggiran

Selanjutnya

Tutup

Musik Pilihan

Musik Radio atau Cerita Bertetangga Secara Sendu

15 Oktober 2020   10:04 Diperbarui: 15 Oktober 2020   10:13 112 12 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Musik Radio atau Cerita Bertetangga Secara Sendu
Ilustrasi: Laman Twitter S Aji

Dus, berbagi kesenduan lewat radio di pagi hari jadi tampak seperti dosa. Bukan tipe manusia modern, blas!

Tadi malam hingga subuh, hujan mengguyur kota kecil ini. 

Cuaca yang biasanya sumuk berangsur-angsur sejuk. Dari dalam sebuah barak yang selalu saja gerah sepanjang hari, saya kini memiliki kesempatan mengistirahatkan kipas angin merek Maspion yang putarannya selalu mengeluarkan desau. Orang-orang bilang, sekarang ini sedang kemarau basah. 

Tapi yang basah bukan cuma itu. Maksud saya, yang membasahi udara sumuk tidak semata peristiwa alam. Ini baru pengantarnya. 

Sesudah pagi tiba dengan langit yang masih memeluk sisa-sisa mendung, sedaftar tembang 90-an berkumandang dari sebelah pagar. Barak ini bertetangga dengan salah satu instansi pemerintah. Mereka memelihara kebiasaan yang sudah lama tidak saya saksikan: mendengarkan lagu dari radio. 

Pagi ini, di antara jejak-jejak tanah berpasir putih yang masih basah,  That's Why You Go Away-nya MLTR berkumandang. 

Love is one big illusion I should try to forget
But there is something left in my head. 

Duh. Sisa-sisa hujan dan cerita patah harap. Saya terus memasang status di laman Twitter @s_4dji. Begini ciutannya, The feeling's  so strong were lasting for so long--Pagi mendung ditumbangkan That's  Why You Go Away, MLTR. Bertetangga secara sendu. 

Ya, orang-orang boleh ditertibkan oleh jadwal, disiplin dan loyalitas pada kerja kantoran. Tapi, siapa yang boleh menertibkan kesenduan? Kesenduan memang tidak pernah berdiri sendiri di luar sana. Ia mesti memiliki jejak-jejak ingatan yang membuatnya mudah basah. Setidaknya, menciptakan interupsi kecil kepada kesadaran. Kesadaran selalu intensional sifatnya.

Anda tidak perlu merasa terlalu rapuh ketika kesenduan yang disebarluaskan melampaui batas-batas kota, peristiwa dan kenangan memaksa Anda harus terdiam atau melarikan diri dari ruang terbuka. Selow saja, ada banyak orang dari masa purba sana yang selanjutnya dijuduli pemikir menghabiskan energi demi menjelaskan kesenduan dirinya yang tak ada habis-habis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x