Mohon tunggu...
Tri Wibowo
Tri Wibowo Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Amatir

Contac IG: wibowotri_ email: the_three_3wb@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Ta'aruf dengan Wanita Lebih dari Satu, Boleh Kah?

19 November 2021   08:52 Diperbarui: 19 November 2021   09:01 98 6 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
sumber Gambar: kaba12.co.id

Pagi ini penulis menyaksikan salah satu acara ceramah Islam disalah satu chanel televisi, ada pertanyaan menarik yang menggugah hati untuk ikut beropini terkait pertanyaan tersebut. Terkait masalah penjajakan / berkenalan dalam Islam atau biasa yang kita kenal dengan ta'aruf. sebelum membahas pertanyaan tersebut, kita flash back sebentar ke era 2000 an, dimana kalimat ta'aruf ini popular saat adanya film "Ayat-Ayat Cinta" yang menceritakan kisah Fahri pemuda islam yang menikahi Aisyah secara islami (ta'aruf). Setelah film tersebut popular istilah ini juga semakin familiar dikalangan pemuda, aktivis dakwah kampus, dan masyarakat umum. Alhamdulillah nya cara islami ini semakin banyak diimplementasikan kedalam kehidupan sehari-hari. 

Semakin hari problematika dalam ta'aruf juga semakin bervariasi, bukan berarti saat menjalankan proses penjajakan untuk menuju pelamainan dengan cara syar'i, lalu masalah juga tidak dihadapi. 

Beberapa orang juga mengalami masalah yang beragam, dari ketidakcocokan, berbedanya cara pandang atau aliran, sampai dengan permasalahan keuangan yang menjadikan alasan hingga proses dari ta'aruf harus berhenti ditengah jalan.  Hal tersebut adalah biasa, mengingat dalam proses ta'aruf ibarat masa orientasi yang mengenal pribadi seseorang dengan menjabarkan kondisi yang sebenar-benarnya, wajar saja adanya kecocokan atau ketidak cocokan. 

Kembali ke pertanyaan seseorang wanita disalah satu kanal televisi yang bertanya kurang lebih seperti ini:

saya sedang melakukan ta'aruf dengan seorang pria, menurut saya dia adalah pria yang soleh dan saya pribadi telah merasakan adanya kecocokan. Namun setelah saya konfirmasi, pria tersebut mengatakan bahwa agar saya menunggu karena dia sedang melakukan penjajakan (ta'aruf) juga dengan wanita yang lain. Apakah boleh pria ber-ta'aruf dengan wanita lebih dari satu?

Respon dari Ustadz yang mengampu siaran tersebut mengatakan "boleh" karena memang ta'aruf adalah proses dari penjajakan, dan belum ada ikatan dari proses tersebut.

Penulis menanggapi pertanyaan tersebut dari 2 (dua) perspektif, yang pertama adalah perspektif Agama. Dalam Islam pasti hal tersebut dimungkinkan saja, karena tidak ada aturannya, dan memang sesuai dengan penjelasan Ustadz tersebut.

Yang kedua dari perspektif humanisme, hal tersebut seharusnya tidak dilakukan, karena akan menimbulkan luka secara tidak langsung bagi si wanita, walau dalam agama hal ini dibenarkan. Luka yang penulis maksud adalah pasti adanya perasaan dari si wanita bahwa dia adalah bukan satu-satunya wanita yang diharapkan, dan kedepan apabila si wanita tersebut menjadi pilihan, pastilah ada perasaan bahwa ia adalah pemain cadangan yang terpilih saat pemain utama sedang cedera. Seperti bermain sepak bola, duduk dibangku cadangan itu tidaklah enak, sering kali dijuluki sebagai kursi panas, menunggu kepastian dari pelatih apakah dalam pertandingan ini saya akan diturunkan sebagai pemain pengganti atau tetap duduk dibangku cadangan? begitu pula dengan perasaan wanita dengan kasus diatas.

Menurut penulis, bagi laki-laki yang ingin melakukan ta'aruf, haruslah memiliki kesabaran dalam berikhtiar, dan jangan pernah melukai perasaan seseorang dalam proses ta'aruf yang kita lakukan, karena jatuhnya sikap seperti kasus diatas akan identik seperti pria yang egois. Lakukanlah ta'aruf hanya dengan satu wanita, karena jika kita memutuskan ingin berta'aruf dengan seorang wanita, pastinya kita telah memiliki referensi dan punya perasaan adanya kecocokan sebelum penjajakan dilakukan. Dan apabila saat proses penjajakan tidak terdapat kecocokan, barulah membuka pintu baru kepada wanita yang berbeda. Penulis rasa hal tersebut akan lebih elegan, ketimbang membuka dua pintu, dan membiarkan salah satu pintu terbuka dengan tidak menguncinya. 

Menjadi laki-laki harus pula memiliki etika saat menjalankan syariat, dan tidak mendefinisikan syariat Islam secara mentah tanpa adanya pertimbangan aspek lain. Hal ini merupakan opini dari penulis, apabila terdapat perbedaan pendapat terkait hal diatas, tidak perlu adanya perdebatan, karena penulis juga telah menjabarkan 2 (dua) perspektif seperti diatas. Wallahualam []

Mohon tunggu...

Lihat Konten Gayahidup Selengkapnya
Lihat Gayahidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan