Mohon tunggu...
Sry Trisna Kezia Br Pinem
Sry Trisna Kezia Br Pinem Mohon Tunggu... Lainnya - IPB University

ᴍᴀɴᴜꜱʏᴀ ᴍʀɪɢᴀ ꜱᴀᴛᴡᴀ ꜱᴇᴡᴀᴋᴀ

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Merosotnya Dunia Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

30 Juli 2021   23:06 Diperbarui: 30 Juli 2021   23:54 327
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Pendidikan adalah suatu proses yang dialami seseorang untuk mencapai suatu tujuan tertentu seperti mengembangkan kemampuan, karakter, serta tingkah laku yang bernilai positif. Apalagi pendidikan makin dituntut seiring dengan perkembangan dunia yang sangat pesat. Menurut John Dewey, pendidikan adalah proses pengalaman. Karena kehidupan adalah pertumbuhan, pendidikan berarti membantu pertumbuhan batin manusia tanpa dibatasi oleh usia. Proses pertumbuhan adalah proses beradaptasi dengan berbagai tahapan dan meningkatkan keterampilan pengembangan diri sendiri melalui pendidikan.

Semenjak pandemi covid-19, dampaknya terhadap dunia pendidikan mulai bergejolak. Tidak hanya pendidikan melainkan sudah mencakup semua objek. Maka diterapkan berbagai cara untuk memutus rantai pandemi covid-19. Salah satu diantaranya adalah physical distancing, yaitu himbauan kepada masyarakat untuk menjaga jarak satu sama lain, tidak berkerumunan, apalagi bertemu dengan tidak sedikitnya orang.

Dengan adanya pembatasan interaksi, banyak negara yang memutuskan untuk menutup sekolah maupun universitas. Lembaga pendidikan mengharuskan pembelajaran secara daring. Situasi menuntut kita untuk menciptakan kreativitas sendiri dengan menggunakan teknologi. Karena ada banyak  tantangan yang dihadapi pendidikan serta dibutuhkan beberapa peran mulai dari peran guru, murid, orangtua, bahkan pemerintah.

Pembelajaran selama pandemi covid-19 ini memiliki perubahan yang sangat drastis. Dimana pembelajaran di sekolah menurut banyak siswa merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Dimulai dari interaksi satu sama lain, serta berbagai keseruan yang terjadi. Tetapi sejak covid-19, semua menjadi berubah.

Pada masa pandemi covid-19, sekolah dipaksa untuk menggunakan media daring. Jadi, kita harus mampu mengembangkan kreativitas terhadap penggunaan teknologi. Bukan hanya bagaimana penyampaian materi, tetapi bagaimana materi yang disampaikan berjalan dengan baik. Dari pandangan saya sendiri, ada beberapa jenis masalah yang dihadapi jika berbicara tentang pendidikan yang dikaitkan dengan teknologi.

Pertama, keterbatasan seseorang dalam menguasai teknologi informasi. Seperti sejumlah orang yang tinggal di daerah pedesaan, sangat sulit bagi mereka untuk menguasai fungsi teknologi. Sinyal saja tidak ada, bagaimana untuk menguasai teknologinya. Keterbatasan mengakses informasi juga menjadi tantangan dalam pandemi covid-19 ini. Walaupun terdapat jaringan internet, tidak semua orang paham  dalam mengakses media daring. Begitu juga bagi guru yang lahir sebelum tahun 1980-an yang kurang mengenal dan memahami teknologi.

Kedua, sarana dan prasarana yang kurang memadai. Tidak semua orang memiliki sarana untuk pembelajaran online. Seperti  kalangan rendah yang harus membeli smartphone agar anaknya dapat mengikuti pembelajaran daring. Suatu tantangan tersendiri bagi orangtua karena banyak biaya yang dikeluarkan, belum lagi keperluan lainnya seperti kuota internet.

Ketiga, pemahaman materi yang kurang kondusif. Materi yang disajikan dapat berupa e-book, powerpoint, video, atau dapat mengajar langsung menggunakan aplikasi belajar seperti, zoom, google meet, dan sebagainya mungkin dapat diterima oleh siswa. Tetapi pemahaman setiap siswa pasti berbeda-beda dengan daya tangkap yang berbeda pula. Jadi, mereka hanya memahami dengan sudut pandang mereka sendiri. Hal ini terbukti dengan pengalaman sendiri, banyak diantara siswa yang meminta penjelasan lebih diluar jam pelajaran agar lebih memahami materi yang disampaikan.

Masih banyak lagi masalah yang ditimbulkan dari pembelajaran daring. Mulai dari keluhan siswa mengenai tugas yang menumpuk, akses jaringan yang kurang stabil,  penyampaian materi yang berat sehingga kurang dipahami serta waktu yang diberikan cukup singkat. Bagi guru mungkin sulit memahami karakter siswa karena sulit dipantau. Dapat juga disebabkan oleh lingkungan sekitar yang kurang kondusif, sehingga sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar.

Sulitnya memahami materi juga menimbulkan turunnya motivasi belajar, sehingga tidak sedikit siswa yang memiliki penurunan minat belajar. Maka sangat diperlukan peran aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Seperti guru dituntut kreatif dan inovatif dalam menyampaikan pelajaran agar proses belajar mengajar dapat dipahami dengan baik. Guru juga perlu memahami berbagai karakter siswa agar tercipta suasana pembelajaran yang aktif dan interaktif.

Sebagai murid dituntut untuk mengikuti setiap pelajaran dan menyelesaikan tugas diberikan. Murid juga harus memiliki kesadaran sendiri untuk belajar mandiri dan dapat mengatur waktu dengan baik. Peran orangtua juga sangat diperlukan, yaitu penyedia fasilitas media pembelajaran, seperti handphone, kuota internet, dan lainnya, menjadi pembimbing dan pengawas pada saat kelas online.  Di bagian pemerintah, pemerintah dapat berperan untuk memberi gadget kepada keluarga yang tidak mampu, serta kuota internet gratis kepada para pelajar untuk meringankan beban.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun