Mohon tunggu...
Rahma Wardani
Rahma Wardani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi

Menulis apa pun yang bisa ditulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pemberdayaan Masyarakat: Memberdayakan Diri Sendiri, Lalu Tetangga

5 November 2023   11:54 Diperbarui: 5 November 2023   11:56 98
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: https://www.bangsaonline.com

Dalam beberapa sumber disebutkan pemberdayaan dilakukan agar masyarakat memiliki kemampuan dan kekuatan untuk kehidupannya yang lebih berkualitas dengan meningkatkan ekonomi lokal (Noor, 2011; Sofia, 2021; Widayanti, 2012). Di Indonesia, khususnya di Kota Kediri, Jawa Timur, telah dilakukan pemberdayaan masyarakat sejak tahun 1920-an. Pemberdayaan ini dilakukan oleh pengusaha bernama Djie Ting Hian yang memiliki usaha tenun bernama Tenoen 1925. Djie Ting Hian melatih penduduk lokal untuk memahami seni tenun, dan menjadikan penduduk lokal sebagai pegawai. Namun, pada tahun 1950-an usaha tenun Djie Ting Hian mengalami kebangkrutan.

Warga lokal yang telah memiliki keahlian dalam bidang tenun sebagian mempertahankan keahliannya dan membuat usaha kain tenun sendiri. Keahlian ini diajarkan secara turun-temurun dan salah satunya adalah mertua dari Bu Siti (53), pemilik usaha kain tenun dengan nama perusahaan Medali Mas. Di tahun 1990-an, Bu Siti sebagai anak mantu memiliki tekad untuk belajar tentang seni tenun. Baginya, dengan mempelajari seni tenun adalah bentuk dukungan seorang istri kepada suami yang memiliki usaha kain tenun.

Selama proses menekuni seni tenun, Bu Siti melihat beberapa kendala yang terjadi, termasuk proses pengerjaan pembuatan kain tenun yang membutuhkan waktu 2 sampai 3 bulan. Kendala ini disebabkan oleh bagian pakan (benang yang menjadi motif kain tenun) yang kurang terpenuhi, sebab pada saat itu hanya ada satu orang penggambar motif kain tenun di Kediri. Maka dari itu, Bu Siti mempelajari motif kain tenun dan membuat inovasi sehingga menjadi khas motif Medali Mas, diantaranya: motif salur, yaitu motif khas Kediri yang digunakan pada sarung zaman dahulu; motif ceplok; motif garis miring; motif lung, yaitu motif bunga (bunga apa pun); motif gunungan, dan; motif tirto, yaitu motif yang menggambarkan Sungai Brantas yang tidak pernah surut walau kemarau panjang.

Sumber: https://tugujatim.id
Sumber: https://tugujatim.id

Usaha kain tenun Medali Mas tentu pernah mengalami pasang-surut. Pada tahun 1998, saat krisis moneter menyerang Indonesia, usaha kain tenun Medali Mas mengalami dampaknya. Pemesanan sarung tenun (yang saat itu adalah produk utama) mengalami penurunan drastis, bahkan hampir tidak ada pesanan sama sekali. Mengalami penurunan ekonomi yang dahsyat, Bu Siti berinisiatif untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan bekerja di luar negeri, dan sang suami yang mengurus keluarga serta perusahaan agar tidak sampai tutup. Hal ini tidak hanya dialami oleh Bu Siti, beberapa ibu rumah tangga juga memilih jalan yang sama, yaitu bekerja di luar negeri untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah yang saat itu mengalami kenaikan harga tidak wajar.

Melihat kondisi para tetangga yang sama dengan Bu Siti, ia berjanji pada diri sendiri untuk meningkatkan ekonomi lokal setelah pulang dari kerja di luar negeri. Janji yang telah diikrarkan tidak dilupakan begitu saja oleh Bu Siti. Sekembalinya dari luar negeri, ia bersama sang suami membangun kembali usaha mereka dengan modal yang telah terkumpul. Pada tahun 2000, Bu Siti mengajak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk melakukan pelatihan menenun bagi masyarakat lokal, terutama para ibu dan remaja desa.

Setelah memberdayakan diri sendiri, mempelajari seni tenun beserta langkah-langkah membuat kain tenun selama beberapa tahun, Bu Siti mulai memberdayakan tetangganya, terutama para ibu dan remaja desa yang mengalami putus sekolah. Bu Siti tidak ingin tetangganya, terutama para ibu, harus bekerja di luar negeri dan meninggalkan keluarga. Para ibu dan remaja desa yang diberdayakan, empat diantaranya telah memiliki usaha mandiri, dan beberapa lainnya menjadi pegawai Medali Mas.

Pemberdayaan masyarakat tidak harus diberikan oleh dinas atau pemerintahan, namun bisa dilakukan oleh individu, seperti Bu Siti. Pemberdayaan dapat diberikan kepada orang sekitar ketika individu telah memberdayakan diri sendiri.

Referensi:

1. Noor, M. (2011). Pemberdayaan masyarakat. Jurnal Ilmiah CIVIS, 1(2), 87-99.

2. Sofia, A. (2021). Konsep awal pemberdayaan masyarakat oleh 'Aisyiyah. Aplikasia: Jurnal Aplikasi Ilmu-Ilmu Agama, 21(1), 45-58.

3. Widayanti, S. (2012). Pemberdayaan masyarakat: Pendekatan teoritis. Welfare: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial, 1(1), 87-102.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun